Arsip untuk April, 2008

Krisis Listrik Ditengah Melimpahnya SDA Laut

April 30, 2008

Posisi Indonesia sebagai net importer sejak 2004 dapat kembali menjadi eksportir minyak. Tidak ada cara lain, langkah penghematan dan menjalankan program konversi energi perlu disegerakan. Indonesia memiliki sekitar 60 cekungan, potensi yang mengandung minyak dan gas bumi, sekitar 40 cekungan berada di lepas pantai, 14 cekungan di wilayah pesisir, dan 6 cekungan saja yang berada di daratan. Potensi cadangan minyak diseluruh cekungan ada sekitar 11,3 miliar barel, 5,5 miliar merupakan cadangan potensial dan 5,8 cadangan telah terbukti. Potensi cadangan gas bumi sekitar 101,7 triliun kaki kubik, 64,4 triliun kaki kubik diantaranya telah terbukti dan sebesar 37,3 triliun kaki kubik merupakan cadangan potensial. Belum terhitung sumber migas yang baru ditemukan di perairan timur laut Pulau Simeulue, Nangroe Aceh Darussalam. Diperkirakan terbesar di dunia minimal 107,5 miliar barrel dan maksimum volume total 320,79 miliar barrel di kedalaman 500-800 meter dari bawah dasar laut yang mempunyai kedalaman 1.100 meter. Selain di Simeulue, dari hasil studi di daerah cekungan busur muka (fore are basin) di sepanjang Palung Sunda, diproleh pula indikasi potensi hidrokarbon di Bengkulu, Banten, Lombok, dan Laut Sulawesi. Laut selain menjadi sumber pangan juga mengandung sumberdaya energi yang perlu dikembangkan, dimanfaatkan secara ekonomis dan dijadikan sumber energi alternatif. Mengingat perkiraan dan perhitungan para ahli bahwa sekitar tahun 2010-an, produksi minyak akan menurun tajam dan akan terjadi kesenjangan energi. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Kanada, Jepang, Belanda dan Korea Selatan telah mulai meneliti kemungknan pemanfaatan energi dari laut terutama panas laut , gelombang, arus dan pasang surut . Di Indonesia potensi thermal ada sekitar 2,5 x 1023 joule dengan efisiensi konversi energi panas laut sebesar 3 persen yang dapat menghasilkan daya sekitar 240 000 MW. Potensi energi panas laut yang baik, terletak di daerah antara 6 – 9 derajat Lintang Selatan dan 104 – 109 derajat Bujur Timur. Memanfaatkan perbedaan suhu permukaan laut dengan suhu di kedalaman laut, sedangkan tenaga pasang surut dapat dimanfaatkan untuk menggerakan turbin membangkikan listrik. Beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Perancis, Rusia, Jepang, Australia, dll , telah memanfaatkan dan mengembangkan potensi energi pasang surut , yang sampai saat ini telah dihasilkan total sekitar 3. 106 Mega Watt listrik . Inggris telah mengembangkan selain energi pasang surut laut, juga potensi energi gelombang laut . Potensi energi kelautan lainnya yang perlu digali dan dikembangkan , ialah pemanfaatan ganggang atau algae seperti Botriococcus brauni sebagai bahan untuk bioenergi yang produktivitas nya sekitar 40. 000 sampai 120 .000 liter per hektar per tahun, jauh melebihi kapasitas tanaman Jarak (Jatropa Curcas) yang hanya mencapai 1. 500 liter minyak atau kelapa yang hanya berkapasitas 2. 200 liter atau kelapa sawit (Crude Palm Oil /CPO) yang berkapasitas 5.900 liter per hektar per tahunnya. Sekitar satu perlima bagian dari produksi penambangan dunia diperoleh dari dasar dan tanah dibawah laut , diperkirakan sumber minyak dan gas bumi yang terkandung didalamnya jauh melebihi kapasitas yang ada di daratan. Dengan kemajuan ilmu oceanography dan teknologi kelautan, telah diketahui adanya potensi ekonomis dari berbagai mineral yang terdapat di dasar laut dan tanah dibawahnya. Sumber sulphite dan lumpur metaliferous sebagaimana yang terdapat di tanah dasar lautan memberikan kekayaan mineral yang banyak ragamnya, seperti antara lain metal nodules, manganese, nickel, cobalt, copper, iron, uranium dan mineral lainnya. Potensi pertambangan di Indonesia belum secara optimal digali, diberdayakan dan dimanfaatkan, nilai total sampai saat ini dari minyak dan gas bumi saja baru mencapai sekitar sekitar 6,7 Milyar Dollar Amerika per tahun. Pemanfaatan garam laut dalam skala besar dengan memanfaatkan masyarakat setempat belum banyak dilakukan dan sistem produksi serta pemasarannya belum dilakukan dengan baik. Yang diperlukan saat ini adalah kemauan politik dari pemerintah untuk memberdayakan melimpahnya sumber daya alam kelautan tersebut.

 

 

 

 

 

 

Tantangan Pelabuhan Paska UU Pelayaran

April 20, 2008

Disahkannya Undang-Undang Pelayaran diharapkan akan menciptakan suasana baru di bidang jasa pelayanan di Pelabuhan. Sehingga diharapkan mampu bersaing dengan negara tetangga. Pelindo yang selama ini diberi monopoli yaitu sebagai pengelola dan operator 132 pelabuhan, tidak mampu memberikan nilai tambah dan memajukan pelabuhan yang dikelolanya, sebagian besar pelabuhan kondisinya merugi. Sementara  pelabuhan-pelabuhan besar seperti pelabuhan petikemas Tanjung Priok, Jakarta dan Tanjung Perak Surabaya yang memberikan pemasukan sangat besar malah diserahkan kepada pemodal asing. Ini sudah terjadi pada pabrik Semen, pabrik yang untung dijual ke pemodal asing sementara yang merugi dipelihara pemerintah. Runyamnya lagi pengguna jasa di pelabuhan juga sudah lama mengeluhkan pungutan yang menyebabkan ketidak-efisienan di Pelabuhan. Hasil survey dari OSRA (Ownership Representative Association), ada 12 biaya yang dikeluhkan pengusaha, antara lain. stewarding, reposition empty container, security cost, paletis, storage, beating cost, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan Pelabuhan di Indonesia menjadi pelabuhan termahal di Asia Tenggara.

Begitu ketatnya persaingan pelayanan kepelabuhanan dengan negara-negara tetangga, harus segera diantisipasi. Ambil contoh Malaysia. Untuk merebut pasar Port Singapore Authority (PSA), Malaysia tidak mengubah tariff selama 13 tahun, dan memberikan insentif apabila kapal bisa connecting tepat waktu dan diberi discount 40 persen. Akhirnya, mereka berlomba-lomba masuk. Malaysia bisa bersaing sangat cerdas, sangat cantik, dan tidak mempersoalkan keberadaan sesama pelabuhan. Ada Portklang, ada West Port, ada juga North Port. Walaupun West Port mempunyai saham di North Port, keduanya tetap bersaing secara sehat. Di Johor terdapat Pelabuhan Pasir Gudang dan Tanjung Pelepas, jaraknya hanya 40 Km, tapi persaingan jalan terus. Satu hal yang menyebabkan pelabuhan-pelabuhan ini maju karena karyawan juga diberi saham. Rasa ikut memiliki inilah yang membuat pelabuhan di Malaysia maju. Komposisi kepemilikan saham yang tidak mengesankan monopoli menjadikan azas kebersamaan adil dan merata. Contohnya, Kerajaan memiliki 20 persen saham, 20 peren Federal, 40 persen dijual pada public, 10 persen untuk tabungan, dan 10 persen untuk karyawan.

Mengingat persaingan yang sangat ketat dan jumlah angkutan yang semakin meningkat setiap tahun, pelayanan di pelabuhan harus segera dibenahi sehingga Indonesia tidak hanya menjadi feeder negara-negara lain. Perlu dicatat, keberadaan kapal-kapal di dunia 40 persen berada di Asia Pasifik, kemudian 26 persen dalam income value berada di Negara Asia Pasifik dan  50 persen kontainer juga di Asia Pasifik. Dari 30 Port Container yang terbesar, 19 diantaranya ada di Asia. Diperkirakan pada tahun tahun 2011, jumlah kontainer di Asia Pasifik akan mencapai 216 Juta TEUS. Sementara pangsa angkutan laut di dunia mencapai 5,8 Milyar ton, terbanyak di Asia yaitu 37 persen. Artinya, jika  dilihat blok ekonomi di Asean itu mampu merebut 7 persen dari kekuatan ekonomi dunia. Maka jumlah angkutan barang yang dapat diraih oleh negara Asean mencapi 0,406 milyar ton. Dengan Undang-Undang Pelayaran yang baru disahkan merupakan langkah antisipasitif sebagai upaya jemput bola merebut peluang pasar yang sangat potensial ini. Potensi nilai per tahun nya sekitar US$ 20.000.000. Kendalanya kurangnya kapasitas jumlah kapal armada nasional, SDM  tenaga pelaut yang ahli / terlatih  masih terbatas, sulitnya memperoleh modal/ dana, kebijakan dan peraturan perundangan sering berubah.  Hilangnya perolehan devisa, karena kapasitas armada kapal nasional untuk angkutan luar negeri (ekspor/impor)  baru sekitar 10% saja sedangkan lebih dari 90 %-nya masih diangkut oleh kapal berbendera asing sedangkan  angkutan barang di dalam negeri oleh kapal-kapal nasional baru mencapai sekitar 50% saja, sedangkan 50% lainnya  sekalipun telah ada Inpres No.5 Tahun 2005 yang menerapkan secara ketat azas cabotage, terpaksa

masih harus diangkut oleh kapal-kapal berbendera asing. Potensi perhubungan diperkirakan US$ 14 milyar/thn (sewa kpl asing utk DN & LN).

Faktor yang menyebabkan tidak berkembangnya transportasi laut adalah tidak adanya sistem angkutan laut yang menguntungkan bagi pengguna dan penyelenggara, tidak adanya perhatian khusus dari pemerintah terhadap pelayaran nasional, tidak adanya dukungan pelaku industri dan perdagangan, kurangnya fasilitas perbankan dan pengelolaan pelabuhan yang tidak maksimal.

 

 

Apa Kabar Hasil Penelitian Biota Laut

April 9, 2008

Penelitian bioteknologi kelautan khususnya menyangkut biopolimer yang terdapat pada mikro dan mikroalgae, mikro-organisme maupun invertebrata sudah banyak dilakukan oleh peneliti asing dari Eropa, Amerika dan negara maju lainnya di Asia. Perairan Indonesia adalah surga bagi peneliti asing. Utamanya di sekitar perairan Wakatobi sebagai jantung segitiga terumbu karang dunia, luasnya mencapai 90 ribu hektar terdiri mempunyai 750 jenis terumbu karang. Jumlah itu mencapai 90% dari te umbu karang dunia yg saat ini sekitar 850 jenis. Sekitar 942 jenis ikan  hidup di laut Wakatobi. Penelitian tersebut kerap difasilitasi Departemen Kelautan dan Perikanan di perairan NKRI seperti melalui forum ekspedia Wallacea misalnya. Namun kelanjutan dan hasilnya layak dipertanyakan. Jangan sampai hanya menguntungkan negara kapitalis. Biasanya peneliti asing dengan dalih kerjasama mau memonopoli penelitian bahan virus dan pembuatan vaksinnya, dengan mengambil bibit virus dari negara berkembang, tetapi kemudian menjual vaksin itu kembali ke negara berkembang dengan harga mahal.
Potensi bioteknologi kelautan dan perikanan berupa senyawa-senyawa bioaktif produk alam ( natural products) seperti :  skualen , omega-3, fikokoloid dan biopolimer yang terdapat pada mikro dan mikroalgae, mikro-organisme maupun invertebrata, mempunyai nilai ekonomis yang tinggi untuk keperluan industri makanan sehat, farmasi, kosmetik dan industri berbasis bioteknologi lainnya, contoh di Amerika Serikat dari hasil industri bioteknologi kelautan telah menghasilkan sumber devisa sebesar 40 milair dolar per tahun, padahal potensi sumberdaya hayati lautnya lebih kecil dibanding dengan Indonesia yang memiliki sekitar 35.000 jenis biota laut sebagai potensi bioteknologi kelautan dan perikanan yang sangat tinggi nilainya .
Pemanfaatan  biota laut untuk industri makanan dan minuman , farmasi , kosmetika , bioenergi / hasil rekayasa biota laut diantaranya : makanan , tablet, salep, suspensi, pasta gigi, cat, tekstil, perekat, karet, film, pelembab, shampo, lotion, minyak rambut/wet looked, dan masih banyak lagi.
Sementara produksi rumput laut juga belum optimal dimanfaatkan. Nilai ekspor Indonesia baru mencapai  46 Juta dolar per tahun, sedangkan Philippina  dari ekspor rumput laut yang bahan mentahnya sekitar 60% berasal dari Indonesia, nilai ekspornya dari rumput laut mencapai 700 Juta dolar per tahun.
Obat HIV dan penyakit Kardiovaskular
Bioteknologi kelautan bertujuan untuk memanfaatkan sel atau enzim yang terkandung dalam organisme di laut untuk berbagai aplikasi atau kebutuhan manusia termasuk pemulihan lingkungan yang rusak/ bioremediasi pencemaran lingkungan.  Dengan bioteknologi kelautan dilakukan extraksi zat bioaktif dari biota laut untuk industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetika  serta bioenergi. Selain itu dilakukan rekayasa (enginering) genetika untuk budidaya ikan dan biota laut yang bernilai ekonomis tinggi.
Bebagai jenis produk makanan, farmasi dan obat-obatan  hasil pengolahan biota laut oleh industri bioteknologi laut antara lain obat tidur, obat penenang dari kuda laut, tempurung kura-kura untuk obat luka dan titanus, hati ikan buntel untuk obat tetrodotoxin yang memperbaiki syaraf otak dan mengurangi rasa nyeri / sakit,  kitin dan kitosan dari kulit udang dan kepiting untuk obat anti kolesterol, pelangsing tubuh, perban, serbuk kerang untuk obat maag, serbuk ular laut untuk meningkatkan daya ingat. Rumput laut  untuk bahan makanan, untuk obat influensa, pengawet makanan.  Alga hijau untuk penyembuh penyakit kardiovaskular, obat hipatetis, obat HIV/Aids dan obat diabetes, spons dari spesis petrosia contegnatta yang diambil senyawa bioaktifnya  dapat dijadikan obat anti kanker dan dari spesis cymbacela untuk obat anti asma. Untuk industri farmasi dan kimia, juga dimanfaatkan sebagai obat bastadin, okadaic acid, dan senyawa bioaktif monoalide dari spons sepesis luffariella variabillis bernilai sangat tinggi yaitu sekitar 20.360 dolar per miligramnya.
Bioteknologi kelautan sebagai salah satu sumberdaya alam kelautan merupakan sumber pangan dan obat-obatan yang sangat potensial nilai ekonomisnya, yang perlu digali dan dikembangkan mengingat sumber pangan manusia dari daratan dan tingkat kebutuhan manusia akan bahan pangan, pakaian (serat), obat-obatan, kosmetik, kayu, mineral, dan lahan akan semakin meningkat sejalan dengan semakin bertambahnya jumlah populasi manusia / penduduk di dunia.
Potensi bioteknologi kelautan di Indonesia belum digali, diberdayakan dan dimanfaatkan secara optimal, nilai yang dihasilkan sampai saat ini berkisar sebesar US $ 40.000.000.000 ( 40 Milyard Dollar Amerika ) sedangkan perkiraan biaya untuk perlindungan, pemeliharaan, konservasi dan pemulihan lingkungan, belum dilakukan perhtitungannya.