Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah buahan menjadi rezki untukmu; dan dia telah menundukkan bahwa bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dgn kekendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (QS. Ibrahim (14):32)
Arsip untuk September, 2008
Ayat Alqur’an mengenai laut (3)
September 25, 2008Ayat Alqur’an mengenai laut (2)
September 22, 2008
Potensi Pesisir Selatan Jawa Timur
September 22, 2008
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia baik dari segi luas wilayah maupun jumlah pulaunya (17.480 pulau) dengan garis pantai terpanjang ke empat (95.150 km) setelah Kanada, USA dan Rusia Federasi. Berdasarkan konvensi PBB tahun 1982, tentang hukum laut, wilayah laut yang dapat dimanfaatkan seluas 5,8 juta km2 (3,1 juta km2 perairan teritorial dan 2,7 juta km2 zona ekonomi ekslusif).
Propinsi Jawa Timur mempunyai Luas perairan 208.138 Km2 meliputi Selat Madura, Laut Jawa, Selat Bali dan Samudera Indonesia dengan panjang garis pantai 1.600 km merupakan salah satu sentra kegiatan ekonomi yang menghubungkan Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Di sepanjang pantainya dapat dijumpai beragam sumberdaya alam mulai dari hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, hutan, migas, sumberdaya mineral. Gelombang besar dan ombaknya terutama di pesisir selatan dapat dimanfaatkan sebagai sumber enerji alternatip, Ocean Thermal Energy Convertion (OTEC). Demikian pula pantainya yang berpasir putih layak untuk dikembangkan menjadi obyek wisata bahari. Hal ini ditunjang dengan keberadaan 446 pulau dimana tiga pulau diantaranya terletak di pesisir selatan dan termasuk pulau terdepan. Pesisir selatan Jawa Timur umumnya berpantai terjal dan berhadapan langsung dengan Samudra Indonesia. Dengan luas laut 142.560 kilometer persegi termasuk Zona Ekonomi eksklusif Indonesia (ZEEI), memiliki panjang garis pantai lebih kurang 800 km, menyimpan sumber daya alam laut yang melimpah. Potensi perikanan tangkap mencapai 590.020 ton per tahun. Dengan jumlah nelayan 53.057 orang, kontribusi pantai selatan pada produksi perikanan Jawa Timur baru mencapai 12,12 persen. Berbagai jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomi seperti tuna, tuna kecil, cakalang, layur dan kakap serta tengiri menjadi penghasil utama nelayan pantai selatan. Untuk mengoptimalkan produksi penangkapan ikan, pemerintah telah membangun sejumlah sarana Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) masing-masing di. Pondokdadap, Kabupaten Malang, PPP Tamperan di Kabupaten Pacitan, PPP Puger di Kabupaten Jember, Pelabuhan Pendaratan Ikan {PPI} Popoh di Kabupaten Tulungagung, PPP Muncar dan PPI Pancer di Kabupaten Banyuwangi serta Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi di Kabupaten Trenggalek. Sementara di Kabupaten Blitar baru mempunyai Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Tambakrejo dan direncanakan membangun pelabuhan perikanan di Kabupaten Lumajang.
Selain perikanan tangkap, pesisir selatan Jawa Timur mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan budidaya laut dan payau. Kualitas airnya masih relatip baik karena jauh dari pencemaran limbah industri maupun domestik. Hal ini sangat memungkinkan dan subur untuk dijadikan sentra budidaya udang, rumput laut, kerapu, kakap dan kekerangan maupun kepiting bakau. Pesisir selatan yang meliputi delapan wilayah kabupaten yaitu, Banyuwangi, Lumajang, Jember, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek dan Pacitan umumnya mempunyai pesona alam yang indah dan layak dikembangkan menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW). Sedikitnya terdapat 39 lokasi wisata bahari yang umumnya berpasir putih, pantainya jernih dan indah. Pengembangannya antara lain, menjadi zona wisata laut untuk aktivitas memancing dan surfing, zona kawasan pantai untuk aktivitas berjemur (sunbathing), bermain (playground) dan melihat pemandangan, serta zona kawasan lindung (hutan, hutan mangrove, perbukitan, kebun kelapa) untuk aktivitas penjelajahan dan minat khusus. Serta zona pemukiman untuk pengembangan atraksi wisata, hotel dan pasar wisata.
Permasalahan
Jatim merupakan salah satu pusat pergerakan ekonomi Indonesia. Propinsi ini merupakan basis industri dan agrobisnis, sehingga pengembangan kawasan menjadi penting bagi perekonomian nasional. Dengan kondisi ekonomi nasional yang sedang payah, maka kawasan Jatim bagian selatan cukup prospekstif untuk dikembangkan sebagai motor penggerak perekonomian. Sayangnya pertumbuhan kawasan pesisir selatan hingga kini masih kalah dibandingkan dengan kawasan utara. Padahal kawasan selatan menyimpan potensi sumber daya alam dan sumberdaya kelautan yang relatif besar. Potensi ini tersebar di sepanjang pesisir kabupaten, yaitu Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi.
Di sektor perikanan tangkapan, Jawa Timur memiliki potensi sebesar 1,7 juta ton per tahun.Potensi lestari 804.612,8 ton per tahun, tapi baru dimanfaatkan 453.034,05 ton per tahun atau 56,30 % saja dari potensi yang ada. Total tangkapan itu sebagian besar (sekitar 87,98%) diperoleh dari usaha penangkapan di kawasan pantai utara, sisanya (12,12%) didapat dari penangkapan di pantai selatan (Samudera Iindonesia). Untuk perikanan budidaya, potensi yang dimiliki wilayah pantai selatan cukup besar. Budidaya air payau produksinya dapat mencapai 1,5 ton/ha/musim tanam, air tawar 16 ton/ha/musim tanam dan budidaya laut 7,5 kg/m3/musim tanam.
Dengan dibangunnya infrastruktur Jalur Lintas Selatan (JLS) Jawa Timur, diharapkan akan memberi angin segar bagi pertumbuhan perekonomian di wilayah tersebut. Ruas jalan Trans Selatan Jawa yang dimulai dari Anyer hingga Banyuwangi itu akan menghubungkan lima provinsi, yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur. Proyek Trans Selatan Jawa dengan Jalur Lintas Selatan menjadi bagian yang diyakini akan mengurai keterisolasian wilayah itu sehingga memicu kemajuan kawasan tersebut.
Alternatif Mengatasi Kesulitan Nelayan
September 17, 2008 Kehidupan nelayan pasca kenaikan harga BBM semakin berat. Di sejumlah wilayah, nelayan menyiasati kenaikan itu dengan mengganti bahan baker solar menjadi minyak tanah dicampur oli yang harganya lebih murah. Namun hal itu belum cukup untuk memulihkan kondisi nelayan sebab hasil tangkapan tidak menutup biaya bahan bakar.
Di perairan Laut Jawa, Selat Madura, Selat Bali dan Samudera Indonesia sebagian nelayan Jawa Timur telah mengurangi waktu berlayar guna menghemat ongkos bahan bakar minyak (BBM). Kapal yang biasanya menggunakan solar dengan harga Rp 5.500 per liter diganti dengan minyak tanah dicampur Oli seharga Rp 4.500 per liter. Namun, hal itu belum mendorong penangkapan yang optimal. Produksi tangkap cenderung minim sebagai dampak penangkapan ikan yang berlebihan dan penggunaan alat tangkap pukat harimau (trawl) yang hingga kini tak terkendali. Di perairan Selat Madura misalnya, mayoritas perahu nelayan menggunakan alat tangkap trawl yang dimodifikasi. Jaring Cantrang atau Dogol digunakan oleh kapal berukuran kecil maupun besar. Beberapa nelayan mengaku mengggunakan alat tangkap berbahaya itu karena terdesak kepentingan menangkap ikan dalam jumlah lebih banyak.
Sebagian nelayan tradisional di perairan Pantura mencari jalan keluar peningkatan tangkapan dan pendapatan dengan memanfaatkan rumpon serta mencoba melakukan budidaya rumput laut. Rumpon yang dipasang secara gotong royong merupakan hunian alternatip yang memikat kelompok ikan untuk berlindug di dalamnya serta berkumpul di sekitar rumpon. Sementara budidaya rumput laut dipilih karena tidak memerlukan modal besar, perawatan mudah dan harga jualnya tinggi.
Berkumpulnya ikan di sekitar rumpon dimanfaatkan oleh nelayan untuk menjaring ikan. Penggunaan alat pengumpul ikan itu memberikan kepastian lokasi tangkap sehingga mempersingkat waktu pennangkapan dan menghemat ongkos BBM yang selama ini berkisar 40-60 persen dari total biaya melaut. Rumpon juga bermanfaat menjadi tempat ikan bertelur dan melindungi pertumbuhan benih.
Teknologi pembuatan rumpon tergolong sederhana dengan bahan baku yang ramah lingkungan di antaranya ban bekas, bambu atau lempengan CD bekas. Jenis rumpon terdiri atas rumpon laut dangkal dan rumpon laut dalam. Rumpon-rumpon tersebut akan ditumbuhi berbagai jenis jasad renik, ganggang dan biota yang merupakan daerah makanan berbagai jenis ikan.
Butuh Penyuluhan
Walaupun bukan tergolong baru, pemanfaatan rumpon dan budidaya rumput laut masih menghadapi beberapa kendala. Pemilihan lokasi seperti perairan yang keruh sulit menarik ikan untuk menetap. Sementara budidaya rumput laut memerlukan arus deras, kejernihan air dan lokasinya berpasir. Kendalanya pengadaan bibit unggul dan teknis penanaman yang benar. Lebih dari itu, perairan yang padat lintas pelayaran dan maraknya pemakaian trawl menyebabkan alat bantu tangkap dan budidaya itu rawan rusak akibat tersangkut.
Soeprapto (37) nelayan asal Sangkapura, Bawean menuturkan, ia mulai menggunakan rumpon laut dangkal pertengahan tahun 2005 sejak kenaikan BBM lebih 100 persen. Rumpon yang dibuat dari bambu itu menuai hasil tangkapan sampai mencapai ratusan kilogram per hari. Namun, rumpon yang dibuat dan dirakit secara swadaya itu mengalami kerusakan akibat tertabrak pukat harimau yang marak di perairan utara Jawa dan Selat Madura. Rumpon miliknya dan nelayan lainnya juga ditabrak kapal yang sedang mencari sumber minyak di perairan Bawean.
Keterbatasan dana untuk memperbaiki rumpon menyebabkan Soeprapto terpaksa berhenti menggunakan alat bantu tangkap itu. Ia pun kembali berburu ikan dengan jaring Slerek. Berdasarkan kajian, penggunaan rumpon selain menghemat penggunaan BBM juga menghemat waktu tangkap bagi nelayan hingga enam jam, dan meningkatkan hasil tangkapan hingga tiga kali lipat. Walaupun demikian kelompok nelayan Bawean dan nelayan di wilayah pesisir Pantura lainnya, saat ini masih mempunyai penghasilan tambahan yang dengan modal sekitar Rp 150 ribu dalam waktu 45 hari mampu menghasilkan Rp 1 juta dari hasil penjualan rumput laut yang dibudidayakan tidak jauh dari pantai. Namun belum semua nelayan di pantura Jawa Timur melakukan budidaya rumput laut sebagai alternatip mata pencaharian yang tidak jauh menyimpang dari aktivitasnya sebagai bagian dari budaya bahari. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi dan penyuluhan oleh pemerintah daerah setempat.
Ayat AlQur’an Mengenai Laut (1)
September 15, 2008Tuhan-Mu adalah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu. QS. Al Isra’ (17) : 66.
Tenggelamnya Budaya Bahari di Selat Madura
September 15, 2008
Keputusan pemerintah mengalirkan lumpur Lapindo di Kecamatan Porong langsung ke Selat Madura melalui kanal sepanjang 14,5 kilometer, dapat dipastikan akan menimbulkan masalah baru. Hal itu sudah jelas akan mematikan biota laut seperti mangrove, padang lamun dan terumbu karang tempat berkembang biaknya ikan.
Ribuan nelayan dan petambak di pesisir Selat Madura akan kehilangan mata pencahariannya. Budaya bahari akan tenggelam di Selat Madura !!. Tidak akan terlihat lagi Jukung Selentik yang meramaikan pesisir mencari cumi-cumi ketika sinar bulan purnama menerangi pantai. Entah bagaimana pula nasib Jukung Polokan dengan alat Pancing Tonda yang biasa digunakan menangkap tengiri di perairan sekitar pesisir selatan Madura. Tidak akan tampak lagi Jukung Serangan dengan katir di kedua sisinya berlayar memecah gelombang di perairan Progolinggo. Jukung adalah perahu kecil tradisional masyarakat pesisir Selat Madura untuk mencari ikan. Kendaraan nelayan ini serba bisa jika tidak ada angin menerpa layar, jukung bisa didayung atau digerakkan mesin kecil. Selat Madura kaya dengan berbagai jenis jukung, perahu dan kapal tradisonal yang digunakan untuk menangkap ikan dan alat transportasi. Sedikitnya ada 7 jenis jukung, 13 perahu dan 5 kapal setiap hari, malam dan siang berlayar di Selat Madura. Tinggal menunggu waktu sampai berapa lama lagi Perahu Jaten yang terbuat dari pohon jati atau pohon mimba dengan alat tangkap Payang Jurung menjaring ikan teri. Perahu Jaten masih dapat dijumpai di perairan Kenjeran Surabaya, Lekok Pasuruan dan Gili Ketapang Probolinggo. Sementara Perahu Ijo-ijo dengan alat tangkap payang besar yang sering digunakan nelayan asal Madura kepulauan atau Perahu Gelati yang sudah jarang ditemui asal Bandaran, Pamekasan atau Mlandingan, Situbondo tinggal menunggu kepunahan.
Menebar racun
Rencana membuang lumpur Porong langsung ke Selat Madura sejak semula telah menimbulkan keresahan masyarakat perikanan di Jawa Timur dan kecemasan nasional. Hasil uji Laboratorium Penguji Balai Pengembangan Budidaya Air Payau (LPBPBAP), Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur membuktikan semburan lumpur menimbulkan pencemaran dan berbahaya untuk tambak. Sejumlah parameter diantaranya melebihi ambang batas standar baku mutu air untuk budidaya air payau. Sampling yang diuji di laboratorium itu berasal dari Sungai Permisan di Desa Permisan, Kecamatan Jabon, Sungai Tuyono di Kecamtan Porong, Sungai Avor Alo di Kecamatan Porong, tanah tambak di desa Permisan dan desa Plumbon serta kolam lele di desa Penatar Sewu, Kecamatan Tanggulangin. Di sungai Permisan misalnya, kandungan amonia (NH3), nitrit (NO2), sulfida (S2), dan klorin (Cl 2) untuk satuan miligram per liter telah melampaui ambang batas. Demikian pula sampling lumpur sungai Permisan, Sungai Avor Alo dan tanah tambak di desa Plumbon mengandung besi (Fe) , tembaga (Cu), mangan (Me) dan bromida (Br2) tercatat diatas angka 3, jauh melebihi ketentuan standar yang diatur berdasarkan PP No.82 tahun 2001. Bahkan ditemukan plankton jenis prorocentrum sp yang meracuni ikan. Dapat dipastikan Selat Madura (65.563 km2) kondisinya akan lebih parah lagi setelah dialiri lumpur. Kondisi perairan Selat Madura saat ini sudah over fishing karena susutnya sumber daya ikan (SDI). Di perairan yang rawan konflik ini menjadi lahan mencari nafkah 85.510 nelayan dan14.832 petambak dengan rata-rata produksi perikanan Rp 1,7 triliun per tahun. Selat Madura selama ini mensuplai bahan baku air untuk puluhan ribu tambak udang, tambak bandeng dan budidaya rumput laut (Gracilaria sp). Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Gresik, Lamongan, Bangkalan, Sampang dan Pamekasan mempunyai lahan pertambakan yang luas dan tidak terpisahkan dari Selat Madura.
Dampak buruk
Produksi udang vanamei dan windu tahun lalu mencapai 38.600 ton atau 30 persen dari produksi udang nasional. Target tahun ini sebesar 42.000 ton dipastikan tidak akan tercapai. Hal itu sangat mungkin terjadi karena ada daerah-daerah di Sidoarjo dan Pasuruan sebagai sentra produksi udang terbesar di Jawa Timur, telah dialiri lumpur Porong. Sementara produksi rumput laut dan bandeng disamping untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal juga untuk diekspor. Luas lahan rumput laut jenis gracilaria yang dibudidayakan di tambak mencapai 589 ha dengan produksi per tahun 23.560 ton. Sementara produksi bandeng yang menempati areal 31.517 ha, jumlah produksinya 81.300 ton dan target produksinya diperkirakan menurun drastis tahun ini hingga dua-tiga tahun ke depan. Persoalan lain yang dihadapi adalah ketidak pastian nasib tenaga kerja pembudidaya ikan. Hidup mereka dan keluarganya tergantung aktivitas produksi tambak. Di Sidoarjo tercatat 65.000 orang yang bekerja di 16 unit pabrik pengolahan udang dengan kapasitas produksi 3.000 ton per bulan. Tidak bisa dibayangkan jika pengolahan udang terhenti. Buangan lumpur Lapindo ke laut tidak hanya menenggelamkan budaya bahari di selat Madura, tapi juga akan memberikan dampak buruk bagi produksi, ekspor perikanan, tenaga kerja dan investasi di sektor perikanan tangkap dan budidaya.


