Oleh: Oki lukito | 15 Oktober 2007

DAC Menelikung di Rumah Sendiri

Setelah ditentang berbagai pihak dan DPR menolak meratifikasi Defence Agreement Cooperation (DAC), akhirnya perjanjian kerjasama pertahanan itu ditangguhkan. Indonesia dan Singapura sepakat menunda perjanjian tersebut dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Perjanjian yang kontroversi dan dinilai merugikan Indonesia itu memang layak untuk tidak dilanjutkan.
Perairan NKRI ditinjau secara geografi sangat strategis di kawasan Asia Pasifik yaitu sebagai penghubung antara dua Samudera, Pasifik dan Hindia. Selat di perairan ini merupakan sea lanes of communication (SLOC), selain penting bagi perdagangan dunia, jalur pelayaranan ini juga menjadi choke points strategis bagi proyeksi armada Angkatan Laut negara maritim besar dalam rangka forward presence ke seluruh penjuru dunia. Pendapat Danjen Marinir TNI-AL, Mayjen TNI (Marinir) Nono Sampono itu pernah diungkapkan dalam seminar kelautan di Komando Pendidikan Angkatan Laut (Kodikal) bulan Mei 2007 di Surabaya. Keberadaan Geografi menempatkan Indonesia pada posisi sangat penting untuk kepentingan Internasional, sehingga paling berpengaruh terhadap ekonomi, perdagangan, politik dan keamanan global.
Pernyataan mantan Komandan Paspampres itu ada baiknya disimak sehubungan dengan perjanjian kerjasama pertahanan RI – Singapura (defence cooperation agreement/DCA) yang ditandatangani tanggal 27 April 2007 di Tampak Siring, Bali. Perjanjian itu kemudian menimbulkan protes dari berbagai elemen masyarakat, antara lain politisi partai, anggota dewan, pengamat politik luar negeri bahkan purnawirawan ABRI serta mahasiswa. Banyak klausul dalam perjanjian dinilai lebih menguntungkan Singapura yang diberi wilayah latihan tempur di darat, udara dan laut kawasan RI. Lokasinya antara lain, di Baturaja (Sumatera Selatan), Selat Malaka tepatnya dari barat Batam (Kepulauan Riau) hingga Pulau Bengkalis, Provinsi Riau (Alpha I). Sebelah timur Pulau Bintan hingga selatan Kepulauan Anambas di laut Natuna (Alpha II) dan di perairan Kepulauan Anambas hingga Kepulauan Natuna Besar di laut China Selatan (Bravo). Harus diakui, Singapura sangat cerdik memilih wilayah dalam perjanjian kerjasama pertahanan tersebut. Selain dapat mengontrol jalur strategis Selat Malaka dan Laut China Selatan, negara semenanjung itu akan lebih leluasa bermanuver di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang membentang dari utara (Laut Natuna) hingga ke selatan ( Selat Karimata dan Selat Sunda). Pasukan dan alat tempur berat seperti tank, mobil panser atau meriam misalnya, akan dikirim ke Baturaja menggunakan kapal jenis Landing Ship Tank (LST) melalui Selat Karimata. Artinya, perairan diantara Sumatera dan Kalimantan itu menjadi terbuka untuk aktivitas militer.
Singapura dan sekutunya Amerika Serikat (AS) faham betul, bahwa secara Geo Politik dan Geo Strategis letak Indonesia sangat mempengaruhi percaturan ekonomi dunia di kawasan Amerika maupun Eropa. Wilayah RI merupakan jalur pelayaran dan perdagangan Internasional yang sangat sibuk menghubungkan kawasan Pasifik dan Atlantik. 75 persen komoditas perdagangan dunia melewati perairan Indonesia (± US$ 1.300 Triliun/tahun) dan Selat Malaka dilalui oleh ± 600 kapal tanker per hari (≥ 1000 DWT) mengangkut ± 11 juta barel minyak per hari. Hal ini menjadi lebih penting lagi karena saat ini tengah terjadi pergeseran ekonomi dunia dari Samudera Atlantik ke Samudera Pasifik.

Invasi Terselubung
Pergeseran ekonomi global tersebut, sayangnya tidak disikapi Indonesia untuk mendapatkan peran yang lebih besar dari keuntungan letak geografis yang strategis itu. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), batas wilayah laut dan keberadaan pulau terluar sampai saat ini masih bermasalah. Walaupun ketentuan ZEE atau UNCLOS 1982 telah diratifikasi dan mulai berlaku tahun 1994, ternyata 70 persen ZEEI belum disepakati negara tetangga.
Demikian pula halnya batas wilayah laut dengan 10 negara, tentunya masing-masing negara yang berbatasan langsung memiliki persepsi yang berbeda soal ini. Khususnya batas wilayah teritorial, ZEE dan landas kontinen serta pegelolaan sumberdaya alam di wilayah perbatasan. Contoh, batas wilayah laut dengan Singapura belum mencapai titik temu, terutama di bagian barat sepanjang 14 mil dan di sebelah timur meliputi garis batas sepanjang 28 mil. Pekerjaan rumah lainnya yang perlu segera diselesaikan adalah keberadaan pulau-pulau teluar yang rawan konflik. Di Selat Malaka sedikitnya terdapat 10 pulau terluar, Pulau Nipa dan Berhala berbatasan dengan Singapura dan Malaysia. Sedangkan di Laut China Selatan tercatat 5 pulau terluar, satu diantaranya yaitu Pulau Sekatung berbatasan dengan Vietnam. Bagi Singapura pulau-pulau tersebut dapat dijadikan lokasi kegiatan intelijen dan aktivitas militer lainnya. Minimal pasir laut di pulau-pulau terluar itu bermanfaat untuk reklamasi seperti yang dilakukan di Pulau Nipa.
Sudah sejak lama negara sekutu mengincar pangkalan militer di kawasan Asia Tenggara paska ditutupnya pangkalan militer Subic, Filipina. Salah satu lokasi yang dipilih adalah Riau yang dekat dengan Selat Malaka. Berbagai manuver dilakukan agar keinginan tersebut terwujud. Pada tahun 2005 keamanan di Selat Malaka sengaja dipersoalkan kembali. Dengan dalih pengamanan, AS mengusulkan armada kapal perangnya diijinkan mengawal setiap kapal kargo yang melintasi perairan selat sepanjang 800 kilometer itu. Usulan bernuansa politis ini awalnya ditentang Malaysia, Singapura dan Indonesia. Tetapi kemudian sikap Malaysia dan Singapura melunak setelah Komandan Militer AS di Asia Pasifik, Laksamana Thomas Fargo melakukan manuver politik mengunjungi Malaysia, Singapura, Thailand dan melobi organisasi maritim dunia (IMO).
Melihat fakta tersebut, sepantasnya DPR menolak usulan ratifikasi DAC sebelum ada perubahan dalam klausul perjanjian sebagaimana yang diharapkan. Kedaulatan negara tidak sepantasnya digadaikan demi mendapatkan hasil yang tidak pasti dan belum jelas serta masih sebatas angan-angan. Pemberian ijin wilayah latihan, sama artinya memberi peluang negara lain melakukan invasi secara terselubung. Selat Malaka, Laut China Selatan dan ALKI menyimpan kekayaan ekonomi maritim dan mempunyai nilai strategis yang tidak ternilai.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: