Oleh: Oki lukito | 15 Oktober 2007

Ironi Nelayan Pacitan

Dusun Wawaran pernah melambung dan mengharumkan nama Kabupaten Pacitan serta Jawa Timur, ketika Kelompok Nelayan Mina Upadi menjadi juara lomba Optikapi (optimalisasi penangkapan) tingkat nasional pada tahun 2005. Penghargaan juara pun diserahkan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara. Atas prestasinya itu, kelompok nelayan yang berdiri tahun 1987 dan beranggotakan 65 nelayan tradisional tersebut mendapat hadiah perahu berukuran 25 Gross Tons (GT). Nelayan dusun Wawaran di Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebunagung itu sepakat merancang dan membuat sendiri perahu hadiah lomba. Jenis perahu disesuaikan dengan keinginan nelayan dan kondisi laut selatan, maka dipilihlah perahu dengan jaring gilnet. Di dusun terpencil itu memang ada warganya yang berprofesi membuat perahu, dari kayu dan fiberglas. Perahu made in Wawaran sudah banyak diproduksi dan dikenal luas di berbagai daerah.
Lokasi Dusun Wawaran berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia, panorama alamnya sangat menawan. Hamparan hutan bakau dan pohon nyiur di sepanjang pantainya, melengkapi eksotisme alam di teluk terpecil itu. Gelombang beriring menerjang karang setiap saat di salah satu sisi tebing terjalnya, melengkapi keindahan pantai Wawaran. Lautnya dalam berwarna biru, tidak jauh dari pinggir pantai tampak di bawah permukaan bongkahan batu karang yang timbul dan tenggelam dimainkan gelombang. Alur perairannya menjadi sempit sehingga perahu nelayan beresiko menabrak karang saat mereka pulang atau hendak melaut. “Kami sudah mengusulkan agar karang yang menghalangi alur dihancurkan. Tapi masih belum dikabulkan”, kata Pudjo, nelayan Wawaran. Untuk menghindari batu karang dan hempasan gelombang, warga dusun mensiasati dengan membentangkan seutas tali ratusan meter panjangnya. Tali yang melintang setinggi dua meter diatas permukaan air itu digunakan nelayan sebagai pengait agar perahu dapat bermanuver menghindari karang. Wawaran, hanyalah salah satu dari sedikitnya 12 lokasi pantai di Pacitan yang mempunyai keunikan, potensi wisata bahari dan layak menjadi Daerah Tujuan Wisata. (DTW).

Proyek Politis
Nelayan Wawaran seperti nelayan Pacitan umumnya tergolong nelayan one day fishing dan terbiasa mengoperasikan perahu 5 hingga10 GT. Wilayah operasinya berada di perairan pantai (in shore fishing). Hasil tangkapannya pun sebagian besar hanya untuk dikonsumsi sendiri, dan jika ada kelebihan baru dijual atau diolah secara tradisional. Walaupun mempunyai potensi tangkapan cukup besar, tetapi pemanfaatannya kurang dari 4 persen. Mereka terkendala kemampuan, skill dan modal. Jumlah nelayan di Pacitan tercatat sekitar 3000 orang, tersebar di tujuh kecamatan, masing-masing Donorejo, Pringkuku, Pacitan, Kebonagung, Tulakan, Ngadirejo dan Sudimoro dengan produksi ikan sebesar 435 ribu ton per tahun.
Harapan untuk dapat meningkatkan hasil produksi, awalnya sempat membakar semangat nelayan Wawaran ketika pertama kali melaut. Dengan perahu berukuran lebih besar serta dilengkapi teknologi penangkapan, mereka berharap banyak. Tetapi harapan memperbaiki nasib itu, seolah tenggelam, kandas ditelan ganasnya ombak laut selatan. Perahu kebanggaan itu tidak mampu mengarungi Samudera Indonesia. Bukan karena kualitas perahunya yang buruk, tetapi lebih disebabkan ketebatasan SDM.
Nelayan Pacitan tidak menguasai teknologi dan tidak terbiasa menangkap ikan berminggu-minggu di laut lepas.
Setelah perahu dicoba berulangkali melaut, hasilnya tetap minim. Mina Upadi terus merugi, uang koperasi yang dikumpulkan susah payah, habis untuk membiayai operasional kapal. Nelayan Wawaran akhirnya menyerah, tidak mampu lagi membeli solar, umpan, es bahkan merawat perahu. Berita terakhir, perahu bermesin marine engine itu dioperasikan nelayan Cilacap, Jawa Tengah. Menurut Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pacitan, I Ketut Suwena, kemampuan nelayan Pacitan memang terbatas, belum mampu mengoperasikan perahu berukuran lebih besar.
Padahal tidak lama lagi Pemerintah Kabupaten Pacitan akan mempunyai gawe. Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Temperan di Kecamatan Kebonagung menurut rencana akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun ini. Sejak dibangun tahun 2003 dan direncanakan selesai tahun 2008, PPI Temperan yang lokasinya tidak jauh dari Pantai Wisata Teleng Ria sudah menghabiskan biaya Rp 28,8 miliar dari Rp 108,4 miliar yang direncanakan. Tahun ini APBN kembali mengucurkan dana Rp 36 miliar, dari provinsi Rp 3 miliar dan dari dana alokasi khusus (DAK) non reboisasi sebesar Rp 3, 4 miliar. Dana tersebut untuk memacu pekerjaan agar pelabuhan layak beroperasi dan siap diresmikan presiden asal Pacitan itu. Ironi nelayan Wawaran yang tidak mampu mengoperasikan perahu di laut lepas, adalah miniatur dari kondisi nelayan di Jawa Timur pada umumnya. Prioritas pembangunan kelautan dan perikanan selama ini belum berpihak kepada peningkatan SDM nelayan. Membangun infrastruktur seperti pelabuhan lebih diutamakan. Kepentingan politik dan berujung asal bapak senang (ABS) cenderung menjadi dasar pertimbangan. PPI Temperan akan mempunyai nilai tambah jika SDM nelayan juga ditingkatkan. Gedung TPI, kolam labuh, break water dan bangunan dermaga serta pompa bensin khsusus nelayan (SPDN) semoga saja tidak menjadi sebuah monumen, prasasti peninggalan Kabinet Indonesia Bersatu.


Responses

  1. Saya penasaran dengan kondisi Koperasi Mina Upadi di pantai wawaran, Pacitan. Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah seperti “mati segan hidup pun tak mampu”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: