Oleh: Oki lukito | 15 Oktober 2007

Wawancara Imajiner dengan Ir. Soekarno

Wawancara Imajiner dengan Ir. Soekarno
“Malaysia Bangsa Serumpun, tapi Antek Inggris”

Pengamanan perairan laut Indonesia harus diakui sangat lemah. Hal ini terbukti dengan tidak berdayanya kita menghadapi maraknya illegal loging, illegal fishing, illegal BBM, illegal imigrant, sea piracy, dan penyelundupan. Padahal kita punya kemampuan untuk memantau aktivitas di laut secara intensif melalui satelit.
“Semua aktivitas di laut bisa dipantau, diawasi dan dikendalikan melalui satelit GPS, satelit telekomunikasi serta satelit penginderaan jauh. Mereka sudah jelas melanggar, lha kok dibiarkan.” kata Ir. Soekarno kecewa.
Presiden pertama RI ini menyarankan, sebagai bangsa yang besar wajib melakukan diplomasi, tetapi tidak terjebak dalam perundingan. “You tidak punya hak di Ambalat atau kita perang. Bilang saja begitu sama mereka!” tegasnya.
Mesin perang TNI AL dituding Soekarno menjadi titik lemah kekuatan tempur jika terjadi perang terbuka. NKRI memang mempunyai banyak kapal perang, ada 70 kapal, 20 di antaranya sangat tua dan kalau dipaksakan bertempur malah akan menjadi kuburan bagi ABK nya. Jangankan bertempur, untuk mengamankan luas laut 5,8 juta kilo meter persegi – terdiri dari luas laut teritorial 3,1 juta Km2, luas ZEEI 2,7 juta Km2 – jumlah armada perang yang kita miliki sangat tidak seimbang.
Negara tetangga mengetahui betul kelemahan ini. Dan, kalau Malaysia kemudian kurang ajar, itu karena mereka memang berada di atas angin. Malaysia, lanjut Bung Karno, mempunyai kekuatan armada tempur laut dan pendukung peralatan perang yang sangat kuat. Negara jiran ini baru saja membeli 26 kapal perang jenis korvet dan 4 kapal selam baru yang dilengkapi Excocet, rudal permukaan dan rudal permukaan ke-udara dari kroninya, Inggris.
Negara di Semenanjung Malaka itu juga sudah memesan kapal tambahan baru jenis fregat dan korvet lagi serta sejumlah pesawat tempur dari Rusia. Perlu diperhitungkan pula keberadaan Pangkalan Udara Butterworth yang juga menjadi pangkalan Royal Australian Air Force (RAAF) akan menjadi kekuatan pendukung tempur udara yang sangat menguntungkan Malaysia, kalau clash fisik terjadi di Laut Sulawesi.
“Jadi jangan memandang Malaysia sebelah mata, negara neokolonialisme ini masih mempunyai empat lagi pangkalan militer,” tegas Bung mengingatkan.
Bukan mustahil Malaysia juga akan mendapat dukungan dari negara sesama koloni Inggris di kawasan timur, yaitu Singapura, Selandia Baru, dan Australia. Tetapi Soekarno mengingatkan, ada satu kekuatan yang ditakuti Malaysia, yaitu kekuatan rakyat. Konsep kekuasaan Mandala yang pernah dicetuskannya tahun 1964 ini bisa dijadikan senjata pamungkas menghadapi keserakahan Malaysia itu.

Adu Domba
Ketika masih menjabat sebagai presiden, Soekarno pernah mempunyai gagasan untuk menjadikan Lampung, Natuna, dan Biak sebagai pangkalan TNI AL. Pangkalan ini dimaksudkan agar kekuatan armada laut kita menyebar. Tidak seperti sekarang hanya mempunyai satu pangkalan TNI AL di Surabaya (Armatim). “Sangat tidak efektif dan efisien, pulau sudah diduduki dan dikuasai, kapal perang kita baru datang..ha.ha..,” sindirnya sambil tertawa.
Selain itu, menurutnya, harus ada kemauan pemerintah untuk meremajakan kapal perang milik TNI AL. “Saya faham pemerintah sedang tidak punya uang. Tetapi dulu kita bisa beli kapal perang saat kondisi keuangan lebih parah dari sekarang. Di saat kondisi internal yang sangat sulit itu, Irian Barat juga berhasil dibebaskan dari meneer-meneer londo (Belanda-Red),” ingatnya.
Konflik Ambalat, terang Soekarno, tidak lepas dari kepentingan ekonomi negara besar seperti Amerika, Inggris dan negara Eropa lainnya. Perairan Ambalat mempunyai potensi emas hitam yang menggiurkan, tidak akan habis dieksplorasi selama 20 tahun. Cadangan emas hitam di Ambalat mencapai satu miliar barrel dan cadangan gas terpendam 400 triliun kaki kubik.
Sementara ini ada tiga perusahaan minyak raksasa beroperasi di sana, UNOCAL (AS), SHELL (Inggris-Belanda) dan ENI (Italia). UNOCAL dan ENI sudah lebih dahulu mendapat konsesi di Ambalat dari pemerintah Indonesia dengan masa kontrak lebih dari 10 tahun.
Sementara Inggris setelah ditolak permintaan konsesinya oleh Indonesia, tampaknya sukses memprovokasi Malaysia dan mendapat konsesi mengelola Ambalat yang jelas-jelas dirampok dari Indonesia.
“Ndak ada cerita dan sejarahnya Ambalat milik Malaysia. Inggris dan Amerika dari dulu memang biang keroknya kerusuhan dunia. Mereka pongah dan tukang klaim serta berkedok polisi dunia, padahal maling dan pecundang besar. Lihat saja tragedi Irak. Dua negara tersebut mengorbankan ribuan nyawa manusia hanya untuk menguasai minyak di negara seribu satu malam itu,” teriak Bung Karno sambil mengepalkan tangan.

Test Case
Skenario Amerika-Inggris ini bisa dicermati sejak ribut-ribut soal Selat Malaka beberapa waktu lalu. Dengan dalih pengamanan, Amerika mengusulkan kapal perangnya diijinkan mengawal kapal kargo yang melintas Selat Malaka. Usulan itu awalnya ditentang Malaysia, Singapura dan tentunya Indonesia sendiri. Kehadiran armada asing di Selat Malaka dianggap oleh tiga negara ASEAN ini suatu pelecehan. Dengan reaksi penolakan itu, negara adikuasa tersebut kemudian pinjam tangan Australia untuk menekan Malaysia dan Singapura agar menyetujui usul akal-akalan AS ini. Kemudian Australia, Inggris, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura berunding sendiri soal pengamanan Selat Malaka tanpa menyertakan Indonesia karena terlalu vokal menentang.
Tidak hanya itu. AS juga menyebar ‘racun’ diplomasi. Komandan Militer AS di Asia Pasific, Laksamana Thomas Fargo rupanya mendapat instruksi Gedung Putih untuk melobi Malaysia, Singapura dan Thailand. Alhasil Malaysia tiba-tiba mencabut kesepakatannya untuk berpatroli bersama di Selat Malaka. Soekarno lalu menunjuk pernyataan Menhan Malaysia, Najib Razak.
Sikap yang sama diperlihatkan Singapura. Bedanya, negara penampung koruptor ini melakukan penolakan secara halus. Singapura menghendaki pengamanan selat sepanjang hampir 1000 km itu melibatkan Organisasi Maritim International (IMO), sama artinya menyetujui keterlibatan AS.
”Di saat menghangatnya Selat Malaka, AS juga melontarkan isu terorisme di Indonesia. Ini jelas akal-akalan saja,” ujar Bung Karno. Ia juga menilai lepasnya Sipadan dan Ligitan adalah bagian dari skenario besar negara liberal dan imperialis ‘nggrogoti’ kekayaan Indonesia.
Sukses Singapura ‘mencuri’ pasir laut dari kepulauan Riau, tampaknya mengilhami Malaysia untuk bertindak lebih arogan menguasai ladang emas hitam Ambalat.
Meruntut kejadian-kejadian yang dialami Indonesia, jelas semuanya merupakan test case penguasaan kekayaan sumber daya alam yang kita miliki secara sistematis. “Syukurlah rakyatku masih tanggap dengan apa yang sedang mengancam negaranya. Pemimpinnya tentu harus cermat dan aspiratif dengan situasi ini,” kata Soekarno.
Lebih jauh Bung Karno mengingatkan pemerintah untuk lebih tegas menyusun dan berunding soal batas laut dengan negara tetangga yang berbatasan langsung. Tanpa hal itu sengketa perbatasan dengan Malaysia, Singapura, Vietnam, India, Filipina, Australia, Timor Leste, Papua Niugini, Thailand dan Republik Palau susah diselesaikan, malah bisa merugikan.
“Juru runding kita juga harus mempunyai wawasan luas dan menguasai ilmu hukum laut. Dan, ini merupakan salah satu kelemahan kita. Malaysia memang bangsa serumpun, tapi harus diingat negara neokolonial ini anteknya Inggris. Bangsaku selamat berjuang, rakyat Malaysia bukan bangsa pejuang. Malaysia seperti halnya Singapura dan Philipina adalah negara bentukan Inggris, rakyatnya tidak pernah angkat senjata, lain dengan kita bermandi darah, berkorban nyawa untuk merdeka,” tegasnya mengingatkan dan sekaligus mengakhiri wawancara.


Responses

  1. betul bung, malaysia boneka inggris. anehnya warga indonesia yang di malaysia tidak terlalu memikirkan nasib bangsa yang telah dibajak, seperti warga2 indonesia di australia. Di Indo ada masalah seperti itu sudah ribut-ribut di sini tidak begitu mereka selalu bilang, ketularan doktrin barat.
    kita tidak tau siapa dibalik konflik ini apa amerika ato cuma si pengecut malaysia. pecel, batik, sipadan-ligitan, ambalat, batas2 utara di kalimantan, lagu rasa sayange, bahkan ada reog disana.
    saya yakin semua warga malaysia tidak ada yang empati, bahkan mereka tersenyum, mereka sudah berubah rumpun barat bertopeng melayu dan islam. pengecut sekali bukan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: