Oleh: Oki lukito | 13 November 2007

Menyoal Lumpur Lapindo

 Rencana membuang lumpur (air) Lapindo di laut sebagai salah satu alternatip darurat (contingency plan) memunculkan pro dan kontra. Usulan ini bermula dari penegasan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang menghendaki lumpur langsung dibuang ke laut, jika upaya menghentikan semburan lumpur di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo itu tidak berhasil (JP 26/8). Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi tidak setuju jika lumpur dialirkan ke laut karena akan mematikan biota laut (mangrove, padang lamun, terumbu karang) dan menghancurkan budidaya udang di Jawa Timur. Ia sependapat dengan Menteri LH yang mengharuskan air lumpur diolah sesuai standar yang ditentukan, sebelum dibuang ke Selat Madura.Rencana membuang lumpur(air)Lapindo ke Selat Madura telah menimbulkan keresahan masyarakat perikanan di Jawa Timur dan kecemasan nasional. Data hasil uji Laboratorium Penguji Balai Pengembangan Budidaya Air Payau (LPBPBAP), Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur yang dirilis  2 Juli 2006, perlu dicermati dan menjadi pertimbangan.  LPBPBAP Bangil mengindikasikan bahwa air sungai dan tanah tambak di sekitar semburan lumpur sudah tercemar dan berbahaya bagi tambak.      Sebanyak 15 parameter diteliti menggunakan beberapa spesifikasi metode, 9 parameter diantaranya  melebihi ambang batas standar baku mutu air untuk budidaya air payau. Sampling yang diuji di laboratorium itu berasal dari Sungai Permisan di Desa Permisan, Kecamatan Jabon, Sungai Tuyono di Kecamtan Porong, Sungai Avor Alo di Kecamatan Porong, tanah tambak di desa Permisan dan desa Plumbon serta kolam lele di desa Penatar Sewu, KecamatanTanggulangin.Di sungai Permisan misalnya, kandungan amonia (NH3), nitrit (NO2), sulfida (S2), dan klorin (Cl 2) untuk satuan mg/liter telah melampaui ambang batas. Demikian pula sampling lumpur sungai Permisan, Sungai Avor Alo dan tanah tambak di desa Plumbon mengandung besi (Fe) , tembaga (Cu), mangan (Me) dan bromida (Br2) tercatat diatas angka 3, jauh melebihi ketentuan standar yang diatur berdasarkan PP No.82 tahun 2001. Bahkan ditemukan plankton jenis prorocentrum sp yang merugikan karena dapat meracuni ikan.Jika lumpur  dan air lumpur Lapindo tetap dibuang ke laut tanpa diolah, dapat dipastikan Selat Madura (65.563 km2) akan lebih parah. Kondisi perairan Selat Madura saat ini sudah over fishing  karena susutnya sumber daya ikan (SDI) diakibatkan, salah satunya, faktor pencemaran. Di perairan yang rawan konflik ini menjadi lahan mencari nafkah 92.480 nelayan, produksinya  227.427 ton ikan per tahun, sedangkan potensi lestarinya 130.487,3 ton. Pencemaran  laut akan mempercepat proses penyusutan SDI dan menyebabkan nelayan semakin susah mendapatkan ikan. Selat Madura selama ini mensuplai bahan baku air  untuk puluhan ribu tambak udang, tambak bandeng dan tambak budidaya rumput laut (Gracilaria sp). Kabupaten Tuban, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Gresik, Lamongan, Bangkalan, Sampang dan Pamekasan mempunyai lahan pertambakan yang luas dan tidak terpisahkan dari Selat Madura..  Aliran lumpur di Sidoarjo yang belum dapat dihentikan dan kini hendak dialirkan ke laut berpeluang pula menurunkan volume  produksi budidaya air payau.  Padahal sejak program revitalisasi perikanan digulirkan tahun 2005 , komoditas udang, rumput laut dan bandeng diprediksi bakal meningkat 5,5 persen. Semula melalui program ini diharapkan terjadi peningkatan ekspor 10 persen, penyerapan tenaga kerja 2 persen dan peningkatan konsumsi ikan 5 persen.

Produksi udang vanamei dan windu tahun lalu mencapai 34.600 ton atau 30 persen dari produksi udang nasional. Target tahun ini sebesar 35.000 ton dipastikan tidak akan tercapai. Hal itu sangat mungkin terjadi karena  ada daerah-daerah di Sidoarjo dan Pasuruan sebagai sentra produksi udang terbesar di Jawa Timur, telah dialiri lumpur Porong. Berdasarakan data dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), volume produksi udang Indonesia tahun 2005 sebanyak 245.100 ton.Volume ekspor udang pada tahun yang sama 130.704 ton, sedangkan udang ekspor  Jawa Timur tahun lalu tercatat lebih dari 8.000 ton dengan nilai U$ 77.148. Tambak-tambak di Kabupaten Sidoarjo (15.530,4 ha) dan Kabupaten Pasuruan (3.966,9 ha)  memberikan kontribusi terbesar untuk ekspor udang Jawa Timur.

Sementara produksi rumput laut dan bandeng disamping untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal juga ada yang diekspor. Luas lahan rumput laut jenis gracilaria yang dibudidayakan di tambak mencapai 589 ha dengan produksi per tahun 23.560 ton. Sementara produksi bandeng yang menempati areal 31.517 ha, jumlah produksinya 81.300 ton dan target produksinya  diperkirakan menurun drastis tahun ini hingga dua-tiga tahun ke depan.

Persoalan lain yang harus dicermati adalah ketidak pastian nasib tenaga kerja pembudidaya ikan yang berjumlah sekitar 175.000 orang. Hidup mereka dan keluarganya tergantung aktivitas produksi tambak. Disamping itu di Sidoarjo tercatat sebanyak 65.000 orang yang bekerja di 16 unit pabrik pengolahan udang dengan kapasitas produksi 3.000 ton per bulan. Tidak bisa dibayangkan jika pengolahan udang terhenti.  Kasus lumpur di Sidoarjo ini akan memberi dampak buruk bagi produksi, ekspor perikanan, tenaga kerja dan investasi di sektor perikanan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: