Oleh: Oki lukito | 13 November 2007

Tamparan dari Pesisir

Seorang teman yang mengajar di Universitas Abulyatama, Nangroe Aceh Darussalam mengontak saya. Ia menanyakan berita yang dilansir suratkabar soal delapan daerah tertinggal di Jawa Timur yang baru diumumkan Kementerian Daerah Tertinggal. “Kalau memang benar demikian, ini musibah untuk Jawa Timur,” katanya dengan tawa lepas setengah bercanda.

Enam dari delapan daerah diantaranya berada di pesisir utara dan selatan Jawa Timur yaitu Kabupaten Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Situbondo, Trenggalek dan Pacitan. Dua tahun lalu wilayah tersebut selain dinyatakan sebagai daerah tertinggal, masyarakatnya banyak yang mengidap busung lapar. Saya masih teringat, setelah berita kurang sedap itu merebak, semua kepala daerah kabupaten/kota dibriefing Gubernur Imam Utomo. Apapun kemudian istilah yang dimunculkan – kekurangan gizi – sebagai penghalusan kata busung lapar, tetap menjadi topik bahasan karena menyangkut daerah pesisir. Secara logika daerah pesisir dipastikan memiliki kekayaan protein biota laut yang dikenal sebagai pemicu kecerdasan. Persoalan yang muncul dari beberapa kabupaten pesisir di Jawa Timur itu memang mengejutkan kita semua.

Wajar jika teman yang juga dosen di Fakultas Perikanan itu menaruh perhatian. Bagaimana bisa terjadi di sebuah provinsi besar yang menjadi salah satu lumbung pangan nasional, masyarakatnya kekurangan gizi dan pertumbuhan ekonomi di daerahnya tergolong rendah. Sesuatu hal yang sulit dimengerti.

Dua tahun lalu dalam diskusi di ITS, Menteri Negara Daerah Tertinggal pada waktu itu, Saifullah Yusuf menyebutkan 8 kabupaten di Jawa Timur masuk dalam katagori daerah teringgal. Seperti halnya wilayah yang dinyatakan rawan gizi (diantaranya Situbondo, Pasuruan, Lamongan), enam dari delapan daerah tertinggal, merupakan daerah pesisir yang pada umumnya memiliki SDA melimpah. (Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Situbondo, Bangkalan, Sampang, Pamekasan). Tengok Pacitan dan Trenggalek, posisinya berada di wilayah pantai selatan yang mempunyai potensi lestari sumber daya ikan (SDI) mencapai 590 ribu ton per tahun. Di Trenggalek terdapat Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) berlokasi di Prigi. Selain Trenggalek PPN juga dibangun di Kab. Lamongan, tepatnya di Brondong, salah satu daerah yang termasuk rawan gizi.

Pacitan dan Trenggalek seperti daerah pantai selatan khususnya dan wilayah pesisir umumnya, mempunyai pesona fenomena alam dan keaslian lingkungan kehidupan biota laut di kedalaman air. Struktur pantai, gelombang samudra serta kehidupan sosial masyarakatnya dapat menjadi daya tarik wisatawan. Berbagai obyek potensial dapat dikembangkan untuk ekowisata, antara lain, wisata bisnis, wisata pantai, wisata budaya, wisata pesiar dan wisata alam serta wisata olahraga pantai. Betapa kita selama ini telah mengabaikan kekayaan pesisir dan laut itu.

Sektor pariwisata bahari, pertambangan, energi laut yang merupakan sektor penting pembangunan maritim, sejujurnya belum mendapat prioritas pengembangan. Amat disayangkan, pariwisata bahari yang oleh banyak negara dijadikan sebagai salah satu unsur kekuatan ekonomi, di Jatim belum ditangani sungguh-sungguh.

Sektor pertambangan dan energi merupakan sektor yang sangat penting dalam kegiatan pembangunan daerah. Di perairan Laut Jawa (203.147 Km2) dan Selat Madura (65.537 Km2) yang mengapit Pulau Madura, menyimpan harta terpendam berupa emas hitam yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Ratusan juta barel minyak dan metrik ton gas alam tersimpan sedikitnya di lima sumur minyak (East Bawean I dan II, North East Madura V, East Kangean dan North Bali) menunggu eksplorasi dan eksploitasi. Sumbermigas lainnya tedapat di Tanjung Bumi (Bangkalan), Camplong (Sampang) dan Pagerungan (Sumenep). Limpahan kekayaan di perairan Madura ini seharusnya dapat mensejahterakan masyarakatnya lahir batin.

Umumnya daerah pesisir juga mempunyai sumber energi alternatip seperti konversi suhu air laut (Ocean Thermal Energy Conversion), gelombang laut, dan pasang surut. Potensi ini dapat dimanfaatkan masyarakat pesisir untuk pembangkit tenaga listrik.

Belum terhitung kekayaan alam berupa bahan tambang mineral seperti pasir, pasir besi, biji besi dan karang, nodul mangan, tembaga, seng, dan besi serta uranium yang berada di dasar laut, merupakan potensi mineral alternatif yang menjajikan kemakmuran dan sumber ekonomi bagi masyarakat daerah pesisir.

Harus diakui selama ini kebijakan pembangunan di daerah pesisir kurang tepat, tidak mengacu pada potensi lokal daerah tersebut. Sektor maritim masih termajinalisasi dalam pengembangan sarana dan prasarana pembangunan. Wajah APBD Jatim belum berpihak kepada sektor maritim, masih besar porsinya untuk pengembangan daratan.

Arah kebijakan pembangunan dalam draft Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Jawa Timur (Thn 2006-2008) yang pernah dibahas eksekutif dan wakil rakyat di Indrapura, masih mengeneralisasi program pembangunan di setiap kabupaten/kota tanpa membedakan struktur geografis, potensi wilayah darat atau laut. Sehingga kepincangan pembangunan wilayah sulit diatasi.

Selama ini daerah yang mempunyai wilayah laut selalu disuguhkan program yang sama dengan kabupaten daratan. APBD memang latah, selalu atau terbiasa menawarkan infrastruktur jalan, jembatan, pengairan dll. Padahal seharusnya memperhatikan kondisi lokal daerah bersangkutan. Bagi kabupaten yang memiliki potensi kelautan seharusnya ditawari infrastruktur maritim. Daerah pesisir memerlukan fasiltias transportasi laut, pelabuhan perikanan di pulau-pulau kecil, pabrik es, cold storage, wisata bahari, perikanan tangkap dan budidaya serta industri galangan kapal.

Untuk itu perlu ada langkah baru untuk lebih memajukan sektor maritim ini sebagai sumber perekonomian daerah. Sebagai provinsi yang memiliki perairan laut seluas 28.097 Km2, panjang pantai 2.1916 Km2 dan memiliki 445 pulau, selayaknya Jawa Timur memposisikan diri sebagai provinsi maritim. Terdapat 23 kabupaten/kota atau lebih 60 persen luas wilayahnya memiliki laut.

Dukungan geografis ini seharusnya menjadi political will bagi pemerintah provinsi untuk menjadikan kelautan sebagi leading sector. Sejarah mencatat semangat ‘amukti palapa’ telah membuktikan kebesaran Majapahit sebagai negara agraris sekaligus kerajaan perdagangan yang jaya di laut. ***

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: