Oleh: Oki lukito | 17 November 2007

VLCC Dijual, Pertamina Untung atau Buntung?

 

Gonjang-ganjing penjualan tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) milik Pertamina yang sekarang sedang diusut kejaksaan dengan terdakwa mantan Menteri BUMN Laksamana Soekardi menggelitik untuk disimak. Salah satu kelebihan VLCC digunakan untuk mengangkut minyak mentah dalam jumlah yang cukup besar, sehingga ongkos angkut per ton mil menjadi lebih murah. VLCC merupakan jenis kelompok kapal tanker berukuran antara 150 ribu – 300.ribu DWT (dead weight tons). Kapal tersebut dibuat di galangan kapal Hyundai, Korea Selatan. Kapal yang pernah dipesan Pertamina itu berukuran panjang 317 meter, lebar 60 meter, tinggi geladak 29,50 meter dan sarat (design) 19,50 meter. Semula kapal tanker ini untuk melayani pengangkutan minyak mentah dalam tanki muatan yang isinya sekitar 326.752 meter kubik ke Kilang Cilacap. Harga kapal ketika dibeli 65,4 juta dolar dan  dijual dengan harga 85,4 juta dolar sebelum selesai dikerjakan. Menurut kabar, kedua tanker tersebut terpaksa dijual karena kondisi keuangan Pertamina sudah tidak memungkinkan, baik untuk membeli maupun mengoperasikannya.. Harga kapal sekarang ini cenderung meningkat tajam karena harga baja juga naik tajam sejak 4 tahun lalu, dari 300 dolar menjadi 500 dolar per ton (thn 2004). Penyebabnya antara lain, China menyapu sekitar 200 juta ton atau sepertiga produksi baja dunia atau sekitar 600 juta ton pada tahun 2003. Mengapa kapal yang sudah dipesan dan pada waktu diributkan baru akan selesai pada Juli 2004 itu kemudian dijual ? Pertamina berpendapat lebih menguntungkan kalau kedua kapal tersebut dijual dengan keuntungan 50 juta dolar. Selain itu tidak terbebani biaya operasi kapal, biaya bahan bakar dll. Hal lain yang perlu dicermati pada waktu dijual seluruh galangan kapal dunia sedang kebanjiran order untuk pembangunan kapal double hull tanker sampai tahun 2007. Demikian pula seluruh industri mesin kapal di dunia kebanjiran order. Hal ini disebabkan sesuai dengan peraturan IMO (International Maritime Organization), semua kapal tanker yang dibangun sejak tahun 1993 berukuran 500 DWT keatas yang berlayar di perairan international harus mempunyai badan rangkap (double hull). Peraturan ini akan diberlakukan pada tahun 2010. Kapal berbadan rangkap ini dimaksudkan apabila bertabrakan atau kandas, muatan minyak tidak tumpah dan mencemari laut. Diperkirakan lebih dari separo armada tanker dunia yang jumlahnya sekitar 300 juta DWT harus diganti dengan double hull tanker. Ketentuan badan rangkap ini juga akan diperluas untuk kapal-kapal bulk carrier (muatan curah). Betulkah dengan dijualnya kapal tanker tersebut Pertamina untung? Sebagai referensi, setiap bulan sedikitnya terdapat 28 kapal berbendera asing menganggkut LNG dari Bontang, Kalimantan Timur berdaya angkut 138.000 m3 yang disewa 60 ribu dolar per hari atau  Rp 546 juta per hari dan dibutuhkan waktu berhari-hari serta sudah berlangsung puluhan tahun.  Harga investasi untuk membuat kapal jenis ini sebesar 200 juta dolar per kapal yang hanya bisa dibuat di perusahaan galangan Jepang dan Korsel.


Responses

  1. Jual Kapal Tanker tidak seperti jual kacang goreng. Tingkat harga wajar sangat sulit ditentukan karena setiap tanker adalah unik dari segi spesifikasi yang sangat tergantung pada kebutuhan si pemesan (tailor made product). Jadi harga tanker sangat relatif.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: