Oleh: Oki lukito | 23 November 2007

Ketika Politisi Bancakan Uang Nelayan

Bicara soal nelayan tidak pernah lepas dari konotasi miskin atau kumuh. Tetapi jika yang membicarakan nelayan adalah politisi atau tim sukses pemilihan presiden ceritanya menjadi lain. Seperti terungkap di persidangan Tipikor yang mengadili Rokhmin Dahuri mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (DKP). Kesaksian mantan Sekjen DKP, Andin Taryoto betapa menyakitkan perasaan nelayan, uang miliaran dibagi-bagi kepada sejumlah potisi melalui proposal mengatasnamakan kemiskinan nelayan. Padahal tidak banyak politisi yang peduli dengan kehidupan nelayan sebelumnya. Misalnya, ketika harga solar dan bensin masih di bawah dua ribu rupiah hingga harga BBM naik hampir 50 persen, nelayan harus membayar lebih mahal Rp 200 hingga Rp 500 per liter agar tetap bisa melaut. Penghasilannya serba minim, bahkan banyak diantaranya yang terpaksa menggadaikan tempat tidur, piring atau peralatan rumah tangga untuk kebutuhan hidup. Mereka tetap harus menjalani hidup ini apa adanya. Himpitan hidup tidak membuat mereka kehilangan akal. Untuk mensiasati mahalnya solar, nelayan terpaksa menggantinya dengan campuran minyak tanah dan oli bekas. Mereka menyebutnya Irek, irit dan ekonomis. Resikonya tentu saja besar, mesin kapal cepat rusak dan bisa mati setiap saat di tengah laut yang ganas.Apa boleh buat, kerja mencari ikan harus tetap berjalan. Dengan bekal seadanya, perahu berbahan bakar Irek pun menjelajahi laut dengan semangat dan harapan akan mendapatkan hasil lebih baik.Rakyat kecil memang tidak perlu memikirkan kesulitan negara karena beban hidup keluarganya lebih penting. Ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih sebagai presiden, harapan pun sempat melambung tinggi ke langit biru. Akan tetapi setinggi itu harapan melambung, baru saat-saat kemenangan itulah yang menyenangkan rakyat. Presiden SBY memang pilihan rakyat. Kini mayoritas rakyat pesisir kecewa dengan pilihannya, atau rakyat salah memilih pemimpin. Bukan tanpa alasan. Sejauh ini belum ada satupun kebijakan pemerintah yang dapat menghibur rakyat. Kenaikan harga BBM sejak April tahun 2005 adalah hal yang menyebabkan rakyat miskin makin melarat. Data DKP menyebutkan, jumlah penduduk masyarakat peisisir tercatat 16,42 juta orang, tersebar di 8.090 desa pesisir dengan Poverty Headcount Index (PHI) 0,3214 yang berarti 32 persen diantaranya berada pada level di bawah garis kemiskinan. Nelayan juga kecewa dengan wakilnya yang duduk di DPR. Di tengah kegetiran hidupnya, para politisi di Senayan menikmati dana non bugeter DKP ketika RUU Perikanan dibahas oleh Komisi III DPR.RI di hotel mewah. Ironinya lagi sejumlah calon Presiden yang maju Pilpres 2004, seperti Amien Rais, termasuk tim sukses SBY-JK, Megawati Soekarnoputri, Kyai Salahudin Wahid dan Hasyim Muzadi disebut-sebut ikut menikmati uang proyek nelayan. Di laut dimainkan gelombang, di darat menjadi bulan-bulanan tengkulak. Itulah keseharian nelayan. Masih segar dalam ingatan bagaimana nelayan kita diusir dan diteror ketika mencari ikan di sekitar perairan Ambalat oleh Tentara Diraja Malaysia (TDM) walaupun mencari ikan di wilayah sendiri. Sejumlah nelayan enggan lagi melaut di Selat Malaka karena menjadi incaran perompak dan bajak laut yang tidak segan membunuh jika hasil tangkapannya tidak diserahkan.Ketika soal dana non budgeter DKP terungkap di persidangan, dari Australia berita tidak sedap merebak. Sebanyak 49 nelayan asal Indonesia ditangkap Kapal Patroli Perairan Northern Teritory Darwin di wilayah perairan timur dan utara Australia. Saudara-saudara kita ditangkap karena tuduhan mencuri biota laut yang dilindungi seperti teripang, kakap merah dan sirip ikan hiu untuk dijual ke Hongkong dan China. Tetapi kabar duka itu hanya sedikit menyentuh perhatian para politisi kita, padahal hampir setiap tahun peristiwa itu terulang, bahkan sudah berlangsung sejak 1998. Mereka melaut berbulan-bulan lamanya, mengarungi laut Arafuru sebelum sampai di Pulau Pasir (Ashmore Island), Pulau Baru (Cartier Islet), Aftringan (Seringapatam Reef), Pulau Datu (Scott Reef) dan Browse Islet. Akh, teganya para politisi dan penikmat dana non budgeter DKP yang ketika nama mereka disentil dipersidangan, mereka jadi sibuk sendiri. Ada yang membantah menerima, ada yang mengaku dapat bagian, ada juga yang plin plan alias mengaku terima tapi dengan bermacam dalih. Apapun yang terjadi nelayan tetap harus melaut, didera dingin angin laut dan diancam hantaman gelombang tanpa kepastian penghasilan. Sementara dengan segala teori dan kebijakan, banyak birokrat dan wakil rakyat tidak lagi mempunyai hati nurani, tidak pernah berkeinginan untuk menyenangkan rakyatnya. 


Responses

  1. thanks for letting me view your guest book and giving me all the information


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: