Oleh: Oki lukito | 23 November 2007

Kurikulum Cinta Bahari

” Nanti sudah besar aku ingin punya kapal,” (Risky, 8 tahun) Enak ya jadi nelayan” (Aldi, 9 tahun)  Senang sekali bermain dan tidur di laut”  (Tira 7, tahun)Ungkapan ketiganya yang masih duduk di sekolah dasar itu terlontar polos saat akan meninggalkan kawasan pasir putih, Situbondo, musim liburan lalu. Rizky, Aldi dan Tira mempunyai pengalaman menarik. Tidur di keramba apung 30 menit perjalanan dari tepi pantai, diayun gelombang semalaman dan berselimut dingin angin laut. Keesokan harinya, mereka seharian bermain dan mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat pesisir. Anak-anak tampak antusias ketika disuruh membantu memberi makan ikan kerapu yang dibudidayakan di keramba jaring apung (KJA). Ketiganya sempat pula berkeliling dengan perahu mesin tempel bercadik satu, sambil memancing sekenanya serta menikmati keindahan panorama pantai utara. Kejernihan air laut menambah penasaran ketiganya saat menyaksikan beragam ikan hias, bergerombol berenang bebas. Bagi ketiganya, berlibur dan berenang di pinggir pantai bukanlah pertama kalinya, tapi bermalam di atas keramba di tengah laut, mengenal lebih dekat  kehidupan pesisir merupakan pengalaman tak terlupakan.           

***

Wage Rudolf Supratman menulis salah satu syai dalam lagu Indonesia Raya, “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Membangun jiwa lebih diutamakan sebelum  membangun badan atau fisik. Kita sependapat membangun jiwa bangsa, dalam hal ini membangun jiwa anak-anak sedini mungkin, dikedepankan atau diutamakan. Menanamkan rasa cinta bahari di usia anak sekolah mempunyai arti penting untuk bekal kelak setelah mereka dewasa. Tidak ada pilihan, tantangan ke depan bangsa ini sebagai negara maritim (Archipilagic State)  akan mengandalkan sektor kelautan.Pemfaatan kekayaan sumber daya alam di darat, sadar atau tidak, lambat atau cepat makin menyusut. Sementara untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi sektor kelautan yang menjanjikan itu, membutuhkan teknologi dan modal besar agar menjadi sumber perokonomian dan kemakmuran. Untuk menuju kesana mutlak diperlukan sumber daya manusia berwawasan kelautan dan menguasai teknologi tinggi. Banyak persoalan dan tantangan yang akan dihadapi kedepan. Negara ini memiliki kekayaan berupa17 ribu pulau lebih. Setelah 60 tahun merdeka nyatanya baru mampu memberi nama (toponimi) 7 ribu pulau saja. Kekayaan sumber hayati, mineral dan tambang di dasar laut masih berlimpah, menunggu dimanfaatkan. Kita tentunya tidak  rela, pewaris kekayaan laut nusantara, kelak hanya menjadi penonton di negeri sendiri.        

 ***

Prosesi penerimaan murid baru sekolah dasar dan menengah berakhir sudah. Selama satu bulan perhatian orang tua murid dan pengamat pendidikan, tersita dengan pemberitaan media massa soal ini. Dari sekian banyak persolan yang muncul, ada satu hal yang luput dari perhatian kita. Persoalan kurikulum terlupakan dibahas para guru, pengamat pendidikan dan penentu kebijakan. Padahal kurikulum mempunyai peranan penting ikut menentukan orientasi berfikir siswa untuk menentukan masa depannya.  Kurikulum bermuatan lokal seharusnya sudah saatnya disesuaikan dengan potensi daerah. Mata pelajaran bahari misalnya, seyogianya diajarkan di sekolah dasar dan menengah. Jawa Timur yang dua pertiga wilayahnya terdiri dari laut, layak menjadikan mata pelajaran bahari sebagai muatan lokal. Implementasinya dapat diawali dengan kegiatan ekstra kurikuler agar tidak membebani, sebelum ditetapkan menjadi kurikulum tetap. Keterbatasan informasi, buku referensi mengenai bahari, dan penguasaan guru di bidang ini memang menjadi kendala. Tapi dengan dukungan stake holder maritim yang ada, persoalan ini akan terpecahkan. Pelajaran bahari sebagai muatan lokal sudah sesuai dengan kondisi geografis Jawa Timur. Dari 38 kabupaten/kota yang ada, 22 daerah diantaranya mempunyai wilayah laut dan memiliki potensi SDA melimpah.Di Kota Surabaya misalnya, tercatat 14 perusahaan galangan kapal berskala besar maupun kecil. Jawa Timur juga mempunyai  perguruan tinggi berbasis kelautan dan perikanan, antara lain, Fakultas Perkapalan ITS, Fakultas Kelautan Universitas Hangtuah, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya dan Universitas DR. Sutomo. Terdapat pula Sekolah Tinggi Perikanan di Sidoarjo dan Malang, Akademi Maritim, Akademi Angkatan Laut (AAL), STTAL dan sejumlah sekolah menengah kejuruan berbasis perikanan dan kelautan. Ini semua adalah aset pendukung yang dapat disinerjikan dengan mata pelajaran bahari. Kita menjadi prihatin ketika anak-anak tidak lagi pandai mendendangkan lagu “Nenek moyangku Orang Pelaut”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: