Oleh: Oki lukito | 23 November 2007

Wawasan Maritim Calon Gubernur

Untuk pertama kali Gubernur Jawa Timur akan dipilih secara langsung oleh rakyat. Kendati masih setengah tahun lagi pesta rakyat itu berlangsung, bursa calon gubernur sudah mulai hangat dibicarakan.  Tidak berlebihan jika salah satu kriteria calon gubernur tersebut harus mempunyai wawasan maritim.Hal ini wajar mengingat Jawa Timur memiliki potensi besar di sektor maritim yang belum dimanfaatkan. Ke depan pengembangan sektor kelautan diharapkan menjadi salah satu skala prioritas pembangunan dan dapat disejajarkan dengan kemajuan yang telah dicapai pada sektor agraris. Potensi kelautan yang dapat dikembangkan di antaranya adalah sektor perikanan tangkap, budidaya hasil laut, industri bioteknologi kelautan, pertambangan dan energi, pariwisata bahari, transportasi laut, industri dan jasa maritim, pulau-pulau kecil dan sumberdaya konvensional.Sampai saat ini kebijakan Pemprov tentang kelautan belum mencakup aspek politik dan ekonomi secara menyeluruh. Kebijakan yang diambil baru menyentuh permukaan, belum sampai pada kedalaman lautan persoalannya.Hal itu sangat disayangkan. Jawa Timur yang mempunyai panjang garis pantai 1.600 km, bertabur 445 pulau serta mempunyai luas wilayah perairan 208.138 km2 termasuk Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, belum menjadikan maritim sebagai fokus pembangunan wilayah. Potensi yang berlimpah itu mempunyai nilai penting bagi pasar domestik maupun internasional. Sebagai contoh, besarnya potensi kelautan dapat dicermati dari produksi ikan di empat wilayah penangkapan, yaitu Selat Madura, Laut Jawa, Selat Bali dan Samudera Indonesia. Potensi tangkapan  mencapai 1,7 juta ton ikan per tahun. Sedangkan aquaculture (budidaya) sebesar 201.187,02 ton per tahun. Jumlah tersebut bisa berlipat jika sepanjang garis pantai ditambah lima mil laut dikembangkan lagi sebagai lahan budidaya ikan laut, kerang-kerangan, dan rumput laut (eucheuma sp) dengan memanfaatkan teknologi keramba jaring apung.Demikian pula potensi sumber energi laut,  yaitu konversi suhu air laut  atau Ocean Thermal Energy Conversion (OTC). Dalam hal ini gelombang laut dan pasang surut belum tersentuh sama sekali.  Sumber energi ini dapat memasok daerah – daerah yang belum terjangkau listrik serta dapat dijadikan altenatif mengatasi krisis listrik di masa mendatang.   Di dasar laut terdeteksi pula bahan tambang mineral yang menjanjikan seperti pasir, pasir besi, biji besi, nodul mangan, tembaga, seng, dan besi dan uranium yang belum terpetakan. Kekayaan lain berupa 32 sumur minyak dan gas bumi yang sebagian telah dieksplorasi di lepas pantai Selat Madura, Laut Jawa dan Samudera Indonesia. Hanya saja hasil yang  diperoleh selama ini belum memberikan keuntungan bagi daerah. Undang-Undang (UU) No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang merupakan perubahan UU No.25 tahun 1999, dinilai tidak adil  terkait masalah bagi hasil minyak dan gas ini. Sebagian besar hasilnya dinikmati kontraktor asing dan pemerintah pusat. Masyarakat di daerah hanya menjadi penonton di negeri sendiri, walaupun menurut ketentuan daerah berhak mendapat bagian 15,5 persen.  Di sektor industri maritim, Jawa Timur  telah mencapai kemajuan teknologi di bidang pembuatan kapal, hal itu  dibuktikan dengan dibangunnya kapal berbobot 10.000  gross ton (GT) dan mampu memperbaiki kapal berukuran hingga 20 .000 GT. Kemajuan Industri maritim ini didukung sedikitnya oleh 14 galangan kapal, baik skala kecil maupun besar yang tersebar di beberapa daerah pesisir. Sayangnya, dukungan dari lembaga keuangan belum maksimal untuk lebih memajukan industri yang padat modal ini.Begitu pula di bidang transportasi laut, potensinya dapat dilihat dari semakin banyaknya arus lalu lintas barang yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak.  Pada tahun 2004 jumlahnya mencapi 35 juta ton dan tahun 2005 sebesar 58 juta ton. Belum terhitung potensi pelayaran rakyat yang mempunyai pelabuhan sendiri di  Dermaga Kalimas. Potensi  di sektor transportasi laut ini akan bertambah besar jika Pelabuhan  Tanjung Tembaga di Probolinggo, Pelabuhan Meneng atau Tanjungwangi di Banyuwangi dihidupkan kembali. Arus lalu lintas barang yang selama ini mengandalkan transportasi darat, dapat dialihkan melalui laut untuk mengurai kepadatan lalu lintas serta menghemat biaya perawatan jalan.Demikian pula halnya  dengan kekayaan serta keindahan pulau-pulau kecil yang jumlahnya mencapai 445 pulau. Potensinya cukup besar jika dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata diantaranya, Pulau Bawean, Sepanjang, Sepudi, Sepeken, Nusabarong dan Pulau Sempu, berpontensi untuk dijadikan daerah ekowisata. Pulau-pulau tersebut menunggu sentuhan investasi agar mempunyai nilai tambah untuk mendatangkan devisa. Sejumlah biro perjalanan di Bali sudah melirik bahkan telah memasarkan keindahan panorama Pulau Sepanjang (Kab.Sumenep) dan Pulau Bawean (Kab.Gresik) dalam beragam paket cruissing kepada wisatawan asing.Sejarah Jawa Timur tidak terlepas dari kebesaran dan kejayaan Kerajaan Majapahit ( 1293-1478). Sebagai kerajaan agraris sekaligus maritim yang tangguh, Majapahit telah membuktikan kekuatan armada lautnya untuk menguasai perdagangan dunia.Melihat dari sejarah dan potensi laut yang dimiliki, provinsi ini membutuhkan seorang nahkoda ulung. Tidak saja menguasai teritorial tetapi juga mempunyai wawasan maritim. Kita berharap, pemimpin pilihan rakyat tersebut nantinya dapat mewujudkan pembangunan maritim sebagai leading sektor pembangunan di JawaTimur.     


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: