Oleh: Oki lukito | 29 November 2007

Menyoal Tudingan Pencurian Ikan di ZEEA

Petugas patroli Angkatan Laut Australia kembali menangkap 5 kapal nelayan tradisional asal Sulawesi Tenggara yang berisi 53 ABK (minggu 24/11). Diduga mereka mengambil 2,3 ton teripang. Notification letter yang diterima Deplu, seluruh ABK ditahan di South Compund, penjara Kantor Imigrasi Australia bagian utara Belum lama berselang, Australia menangkap 16 keluarga nelayan asal pulau Rote yang masuk ke perairan negeri kanguru tersebut. Sebelumnya sebanyak 49 nelayan dari berbagai daerah di Indonesia ditangkap oleh Patroli Laut Australia di wilayah perairan Utara Kota Darwin, awal bulan Mei 2007. Mereka ditangkap dengan tuduhan mencuri biota laut yang dilindungi perairan negara tetangga ini. Peristiwa penangkapan nelayan ini sudah sering terjadi, jumlahnya setiap tahun meningkat dan sudah berlangsung sejak tahun 1998. Menurut data Dewan Maritim Jawa Timur, pada bulan Januari sampai dengan bulan Nopember 2006 sebanyak 793 nelayan Indonesia dan 341 kapal ditahan di Australia, 650 orang diantaranya sudah dipulangkan. Kapal yang ditahan umumnya terbuat dari kayu dengan 2-3 orang ABK dilengkapi GPS dan Freezer. Pada tahun 2001 ditahan 76 perahu, tahun 2002 sebanyak108 perahu, tahun 2003 meningkat menjadi 138 perahu, tahun 2004 jumlahnya 151 perahu, tahun 2005 sebanyak 279 perahu ditahan dan salah seorang nelayan asal Desa Dringu, Probolinggo tewas ketika ditahan di Australia. Nelayan asal Pulau Rote (NTT), Merauke, Dobo, Probolinggo, P. Tondu dan Raas sudah terbiasa mencari ikan di Zona Ekonomi Eklusif Australia (ZEEA) dan mereka masuk sejauh 309 mil laut (572,27 Km). Sementara lokasi yang kerap dikunjungi yaitu perairan Pulau Pasir (Ashmore Island), Pulau Baru (Cartier Islet), Aftringan (Seringapatam reef), Pulau Datu (Scott Reef) dan Browse Islet. Perairan ini sebetulnya masuk dalam perjanjian antara Indonesia dan Australia (MOU Box) yang dibuat tahun 1973. Hanya perahu tradisional diperbolehkan mencari ikan di perairan ini dengan catatan tidak untuk dikomersialkan. Ikan hiu banyak terdapat di perairan Australia barat, utara dan timur laut yang merupakan kawasan konservasi. Perairan di P. Pasir kaya dengan lola (kerang-kerangan), dugong (duyung), penyu dan teripang. Semua jenis biota laut tersebut dilindungi. Sirip hiu dicari karena harganya yang sangat mahal dan harganya sekit tiga juta rupiah per kilogram.

Nelayan Jawa Timur
Perairan ZEEA menjadi daya tarik bagi nelayan Jawa Timur dan NTT sejak menyusutnya Sumber Daya Ikan (SDI) di Laut Jawa, Selat Madura dan Selat Bali. Sedangkan di ZEEA memiliki SDI melimpah dan mempunyai harga jual tinggi. Sejumlah nelayan asal Probolinggo tertarik bergabung menjadi Anak Buah Kapal (ABK) asal Tanjung Balai, Riau yang berpangkalan di Pelabuhan Tanjung Tembaga, Probolinggo. Mereka tergiur.dengan bayaran tinggi antara Rp 2 juta hingga Rp. 5 juta per trip atau sekitar 6 bulan melaut. Sementara nelayan asal Pulau Tondu di kepulauan Raas, Kabupaten Sumenep dengan perahu tradisionalnya mengarungi Samudera Indonesia hingga kelaut Arafura sebelum masuk ke Pulau Pasir untuk mengambil lola dan teripang. Mereka transit dan menjual hasilnya di Pulau Rote. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kodya Probolinggo, Wirasmo mengatakan, tidak ada perahu atau kapal nelayan Probolinggo yang menangkap ikan di ZEEA. ” Nelayan memilih bergabung dengan kapal asal Tanjung Balai, karena mendapat penghasilan lumayan,” jelasnya. Di Probolinggo terdapat tujuh perusahaan yang menampung hasil tangkapan nelayan. Perusahaan tersebut mempunyai armada lebih dari 10 kapal berukuran diatas 30 GT dengan hasil tangkapan rata-rata 70 ton per trip per kapal. Dalam acara sosialisasi melalui acara tatap muka dan dialog di Radio itu terungkap keinginan nelayan. Antara lain, Australia agar membantu memperbaiki SDI dengan melakukan restocking, budidaya berkelanjutan dan jaminan pemasaran serta memperbaiki SDM nelayan yang sebagaian besar tradisional itu.

Ditahan tiga tahun
Selama empat hari pada akhir bulan Mei lalu, Kedutaan Besar Australia dan Badan Pengawasan Perikanan Australia (AFMA) mengadakan sosialisasi soal illegal fishing di pesisir Probolinggo. Nelayan yang tertangkap di ZEEA tidak akan mendapat toleransi lagi. Selain perahu dan hasil tangkapan disita, nelayan akan dipenjara selama tiga tahun. Sanksi keras ini, kata John Ackermar, karena terjadi peningkatan illegal fishing yang signifikan selama lima tahun terakhir. Dia mensinyalir peningkatan ini dipicu oleh pihak-pihak dan operasi-operasi komersial yang terorganisir. Untuk mencegah pencurian, Australia berencana menghibahkan dana 93 juta dollar Australia (Rp.604,5 miliar) untuk pemberdayaan ekonomi nelayan, industri perikanan dan pengentasan kemiskinan. Bantuan ini, kata Konsul Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Kedutaan Besar Australia, John Ackermar ketika berkunjung di Desa Kalibuntu, Kecamatan Keraksaan, Kabupaten Probolinggo akan disalurkan melalui sejumlah lembaga keuangan dunia, diantaranya Bank Dunia dalam bentuk usaha budidaya perikanan di berbagai daerah, diantaranya Pulau Rote, Merauke, Sulawesi Selatan dan Buton. Menurut hasil penelitian lembaga Australia terdapat sekitar 500 lokasi yang cocok untuk usaha budidaya perikanan. Untuk tahap pertama pengusaha Australia akan berinvestasi di Bali dengan usaha budidaya ikan tuna sirip biru dan ikan baramundi Sementara itu, Dirjen Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Ardius Zainudin mengatakan, penangkapan nelayan Indonesia di ZEEA menjadi komoditas politik di Australia. DKP bersama Australia sudah mensosialisasikan peraturan baru tersebut, tetapi hingga kini penangkapan ikan di ZEEA masih terus berlangsung.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: