Oleh: Oki lukito | 27 Januari 2008

Jangan Barkan Nelayan Tetap Miskin

Sejak kenaikan harga solar tiga tahun lalu mayoritas pendapatan nelayan Jawa Timur menurun, mereka harus mengurangi frekuensi melaut.
Bagi nelayan one day fishing dengan perahu berukuran 15 gross ton (GT) yang digerakan mesin 40 PK membutuhkan solar 80 – 100 liter sekali melaut. Sementara hasil tangkapannya tidak pasti mengingat lahan penangkapan ikan di pantura (Laut Jawa, Selat Madura dan Selat Bali) mengalami penurunan sumber daya ikan (SDI). Contohnya di Selat Bali yang terkenal penghasil ikan lemuru (sardinela sp). Produksi ikan pada tahun 2004 di perairan yang memisahkan daratan Jawa dengan Pulau Bali itu turun hingga 9000 ton.
Tahun 2003 produksinya mencapai 36.991 ton, tahun 2004 hasil yang dipasok dari TPI terbesar di Kabupaten Banyuwangi yaitu Muncar dan Pancer hanya 27.489,8 ton. Hal ini dikuatkan dengan hasil penelitian Unibraw (tahun 2004) SDI di Selat Bali tinggal 45.155 ton per tahun. Indikasi penurunan SDI di pantura dapat dimonitor pula dari meningkatnya konflik antarnelayan. Kenaikan harga solar sangat memukul kehidupan masyarakat pesisir. Untuk mensiasati harga solar yang mahal, nelayan mengambil resiko dengan mencampur minyak tanah dan oli agar irit dan ekonomis (irek) supaya tetap bisa melaut.
Kondisi perikanan tangkap di Jawa Timur hingga saat ini masih didominasi armada tradisonal (artisanal fisheries) yang jumlahnya mencapi 87,66 persen. Armada perikanan tangkap pada tahun 2005 tercatat 52.842 unit, terdiri dari kapal bermotor 6.520 unit, motor tempel 37.351 unit dan perahu tanpa motor 8.972 unit.
Kenaikan harga solar juga memukul kehidupan nelayan budidaya atau petambak semi moderen khususnya udang windu dan vanamei di kawasan pesisir. Seperti diketahui Jawa Timur memasok sekitar 30 persen produksi udang nasional dan potensinya mencapai 1,5 ton per hektar untuk setiap musim tanam (empat bulan). Sedangkan kebutuhan BBM untuk menggerakkan kincir air (aerator) sebanyak 1,5 hingga 2 liter solar per kilogram hasil panen.
Menurut data dari Departemen Kelautan dan Perikanan produksi udang Indonesia pada tahun 2005 sebesar 245.100 ton, sedangkan volume ekspor udang pada tahun yang sama 130.704 ton..
Pada pertengahan tahun 2005 setelah kenaikan BBM, pemerintah menggulirkan program revitalisasi perikanan (penangkapan dan budidaya). Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan nelayan dan memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat pesisir. Revitalisasi perikanan tangkap dikonsentrasikan pada peningkatan penangkapan ikan jenis ikan tuna yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.
Di pasaran lokal harga baby tuna Rp 8.000 per kilogram sedangkan tuna mencapai Rp 20.000 per kilogram. Jenis ikan tuna yang banyak diminati dan nilai jualnya tinggi adalah tuna sirip biru (blue fin), diekspor ke Jepang, Eropa dan Amerika harganya mencapai Rp1,5 -2 juta per kilogram. Potensi ikan tuna di Samudera Indonesia mencapai 650.000 ton per tahun dan banyak terdapat di perairan sekitar 80 hingga diatas 200 mil laut. Samudera Indonesia memang menjadi lalu lintas ikan tuna yang hanya bertelur di perairan selatan Bali dan Lombok.
Sayangnya hanya sebagian kecil nelayan Jawa Timur mampu menangkap ikan tuna di laut selatan yang bergelombang ganas itu. Menurut catatan, di Samudera Indonesia beroperasi sebanyak 53.057 nelayan asal Jawa Timur, sebagian besar adalah nelayan trandisional yang melaut paling jauh 20-40 mil laut.
Di perairan pantai selatan ini beroperasi nelayan dari Malang Selatan, Banyuwangi, Trenggalek, Tulungagung dan Jember. Disamping terkendala peralatan tangkap, mereka juga miskin informasi (fiihing ground, kondisi cuaca) dan keterbatasan modal.
Di sektor budidaya dengan luas lahan 128.750 ha, selama ini memberikan kontribusi cukup besar terhadap pasokan perikanan Jawa Timur. Melalui program revitalisasi budidaya diharapkan tahun ini produksinya dapat meningkat menjadi 132.000 ton. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu menambah luas pengembangan tambak seluas 42.535 ha.
Jawa Timur mengandalkan empat jenis ikan budidaya yaitu udang, bandeng, nila dan lele. Hasil produksi udang tahun lalu sebesar 16.784 ton, bandeng 68.195 ton, nila 4.854 ton dan lele 21.477 ton. Kenaikan BBM telah menghambat produksi budidaya, khususnya udang yang dalam proses produksinya menggunakan kincir air.
Pengusaha kecil menengah yang mempunyai tambak, selain gundah dengan pembatasan pembelian BBM 8.000 liter per bulan, juga terpukul dengan harga solar yang naik 100 persen. Setiap musim tanam per hektar tambak udang membutuhkan dana sekitar Rp 12 juta untuk membeli 3000 liter solar. Biaya ini belum termasuk investasi sewa lahan, pembelian pompa air, sewa kincir dan pipa. Pengusaha juga harus mengeluarkan dana operasional lainnya untuk membeli bibit, pakan, biaya pemeliharaan dan membayar upah penjaga.
Untuk meringankan biaya produksi di sektor budidaya perikanan perlu dicarikan jalan keluarnya. Dibutuhkan sentuhan teknologi ramah lingkungan sebagai pengganti genset. Daerah pesisir dimana pun kaya dengan hembusan angin darat dan angin laut yang dapat dimanfatkan untuk mengoperasikan aerator.
Teknologi juga dibutuhkan untuk membantu saudara-saudara kita yang setiap hari dipermainkan gelombang ganas di tengah laut dan menjadi bulan-bulanan tengkulak itu. Nelayan membutuhkan modal dan perahu yang hemat BBM serta informasi fishing ground dan informasi cuaca yang akurat untuk melancarkan usahanya mencari nafkah.


Responses

  1. Betul skali pak.. nelayan sekarang kian menderita…. saja
    biaya operasional melaut makin tinggi sama dengan ombaknya yang juga masih tinggi..
    Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: