Oleh: Oki lukito | 28 Februari 2008

Tanjung Perak, Riwayatmu Kini

Instruksi Presiden No. 5 tahun 2005 tentang Pemberdayaan Pelayaran Nasional akan diikuti pembatasan jumlah pelabuhan terbuka yang selama ini bebas dikunjungi kapal asing. Kebijakan pemerintah ini mungkin saja “melemahkan” posisi Tanjung Perak sebagai salah satu pelabuhan terpenting. Mampukah pelabuhan terbesar di Kawasan Timur (KTI) ini menjadi Inrternational Hubport (IHP) ? bersaing dengan 141 pelabuhan bebas lainnya seperti Sabang, Belawan, Dumai, Bitung dan Tanjung Priok. Banyak kendala yang menjadi batu sandungan, seperti kondisi infrastruktur dermaga serta belum memuaskannya pelayanan. Sementara sejarah pernah mencatat, ketika masih bernama Ujung Galuh, Tanjung Perak seperti halnya Pelabuhan Tuban dan Gresik, mempunyai peranan penting sebagai pintu gerbang ekonomi Kerajaan Majapahit (1293 – 1478).
Implementasi Inpres ini adalah diterapkannya azas cabotage yang hanya mengijinkan kapal berbendera Indonesia menangani angkutan laut di dalam negeri. Selama ini tercatat 108 kapal asing beroperasi di perairan Indonesia, 40 diantaranya dengan total kapasitas 470.649 dead weight ton (DWT) disewa perusahaan pelayaran nasional. Berbagai jenis kapal seperti Ro-Ro, Bulk Cargo, Tankers, Barges, Crew Boat, LNG menguasai 96% angkutan luar negeri dan 50% dalam negeri melayani kegiatan ekspor – impor yang jumlahnya mencapai 427,8 juta ton per tahun.
Eksporter dan importer sering mengeluhkan biaya tinggi di Tanjung Perak. Seperti biaya pandu, tambat labuh, Terminal Handling Charge (THC) dan Container Handling Charge (CHC). Demikian pula operator kapal dirugikan oleh lamanya antrian kapal, pendangkalan dermaga dan banyaknya bangkai kapal yang menggangu lalu lintas pelayaran.
Asosiasi Pengusaha Ekspor (GPEI) Jawa Timur pernah mengadukan soal biaya tinggi ini kepada Presiden RI ketika dijabat Megawati Soekarnoputri. Banyak pengusaha yang kemudian mengalihkan aktivitasnya ke Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang dengan pertimbangan tarif lebih murah dan prosedurnya lebih mudah.
Sebagaimana pernah terungkap di media massa, komponen biaya bongkar muat di Semarang lebih murah 10 sampi 40 pesen. Misalnya, untuk pengambilan kontainer 20 feet dikenakan biaya Rp 10 juta. Lebih murah dibanding Tanjung Perak yang dipungut Rp 25 juta. Demikian pula THC yang mencapai 50% dari semua tarip. Untuk produk elektronik dalam kontainer 40 feet taripnya Rp 70 juta, sedang di Tanjung Perak diatas Rp 100 juta. Bukan itu saja, eksportir juga tidak nyaman dengan pungutan tidak resmi yang dilakukan oknum kepabeanan. Instansi tersebut tidak memberikan tarif pasti berapa biaya bongkar muat ataupun proses pengeluaran barang. Jika dihitung, besarnya pungli menambah cost antara 25-30% di luar biaya produksi, sehingga produk ekspor dari Jawa Timur sulit bersaing.
Hasil survey OSRA (Ownership Representative Association) menyebutkan ada12 indikator penyebab biaya tinggi di Tanjung Perak. Antara lain, biaya stewarding, empty
movement, reposition empty container, di samping biaya-biaya lain seperti security cost, paletis, storage, dan beating cost.
Demikian pula dengan fasilitas tersedia. Sejak tahun 1960 pertumbuhan Tanjung Perak sangat lamban dan masih belum memenuhi syarat Pelabuhan International. Lamong Bay yang direncanakan untuk perluasan dermaga Terminal Petikemas Surabaya (TPS) tampaknya sulit direalisasi. Pemprov Jatim lebih cenderung mengembangkan pelabuhan di Desa Tanjung Bulupandan, Kabupaten Bangkalan dan menjadikan Teluk Lamong sebagai kawasan konservasi alam. Perlu dicermati, di masa mendatang, kapal yang beroperasi rata-rata bertonase di atas 100 ribu ton dan hanya bisa dilayani oleh pelabuhan yang mempunyai kedalaman lebih dari 15 meter (Tanjung Perak 9 meter). Demikian pula dengan fasilitas yang ada. Idealnya sebuah pelabuhan international memiliki terminal khusus kontainer, curah cair, dan terminal penumpang tersendiri.
Sebagai gambaran, saat ini sudah dioperasikan kapal terbesar di dunia, panjangnya lebih dari 300 meter, kira-kira 3 kali lapangan sepak bola, kapasitasnya 8.500 TEUs (twenty feet equivalen units). Tentu tidak akan mampu dilayani operator Tanjung Perak.
Sebagai bahan kajian bahwa 40% perdagangan dan pelayaran dunia dengan income value 26% berada di negara Asia pasifik. Demikian pula 50% kontainer dunia masuk di kawasan ini melalui 30 Container Port terbesar, 19 pelabuhan diantaranya berada di Asia. Serta diperkirakan pada tahun 2011, jumlah kontainer di Asia Pasifik akan mencapai 216 juta TEUs. Salah satu penyebab tingginya volume barang ini karena beroperasinya jalur Kereta Api yang menghubungkan kota-kota di pantai timur dan selatan Australia dengan kota Darwin.
Data di PT. Pelindo III menyebutkan, angkutan laut dunia saat ini mencapai 5,8 milyar ton. Sedangkan potensi sektor pelayaran, menurut Dewan Maritim Indonesia, mencapai Rp 88 triliun per tahun terbanyak di Asia 37%, sedangkan di Asean 7%. Jumlah kontainer dari dan ke Indonesia sekitar 5 Juta TEUs per tahun, 60 – 70% diantaranya transit di Singapura. Untuk biaya singgah dan naik turun barang ke kapal lain di Port of Singapore Authority (PSA) ini, eksportir dan importir menghabiskan biaya 15 miliar dolar per tahun. Pemborosan devisa ini seharusnya tidak perlu terjadi seandainya pelabuhan di Indonesia mempunyai standar pelabuhan international.
Pelabuhan Tanjung Perak secara politis mempunyai peluang cukup besar ditunjuk pemerintah sebagai salah satu IHP. Persoalannya adalah bagaimana mengantisipasi peluang mendapatkan porsi angkutan laut dunia yang menggiurkan itu.
Untuk investasi infrastruktur dan memperbaiki kuwantitas dan kuwalitas pelayanannya dibutuhkan pula keputusan politis pemerintah. Apakah fungsi pelabuhan berorientasi profit atau benefit? Selama ini telah terjadi kontradiksi fungsi. Pe-lindo sebagai “pemilik”, pengelola juga berperan sebagai fasilitator dan regulator bisnis pelabuhan. Mampukah Pelabuhan Tanjung Perak memberi nilai tambah bagi pengguna jasa dan bukan sekadar tempat bongkar muat?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: