Oleh: Oki lukito | 7 Juni 2008

BBM Nelayan dan Budaya Bahari

Kebijakan pemerintah menghapus retribusi hasil tangkapan nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM, tidak akan meringankan beban ekonomi nelayan pada umumnya. Kesulitan nelayan sudah dialami sejak tahun 2005 ketika pemerintah menaikkan BBM lebih dari 100 pesen. Penghasilan nelayan di Jawa Timur tahun 2007 rata-rata hanya Rp 13.539 per hari. Kondisi ini jika dibiarkan akan mematikan kehidupan nelayan yang notabene bagian dari budaya bahari. Berbagai upaya nelayan dilakukan agar mereka tetap bisa menghidupi keluarganya, saat musim paceklik banyak diantaranya menjadi pekerja serabutan, buruh kasar di kota besar atau tetap melaut dengan menggunakan bahan baker Irek (irit dan ekonomis) yaitu mencampur minyak tanah dengan oli walaupun dengan resiko mesin perahu cepat rusak atau macet seketika. Untuk tetap dapat survive tak jarang mereka terjerat pengambek atau juragan alias rentenir.

Pantura paling terpukul
Hasil pantauan di sejumlah pelabuhan perikanan di Jawa Timur paska kenaikan BBM bulan, kondisi nelayan pantai utara (pantura) paling terpukul. Di PPI Pasongsongan, Sumenep misalnya dari 64 perahu yang biasa membongkar hasi tangkapan, saat ini rata-rata hanya 3 sampai 5 perahu saja yang melaut. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan nelayan di desa Branta Pesisir di Pamekasan. Di Pelabuhan Perikanan Lekok, Pasuruan, nelayan hanya mencari ikan teri yang tidak jauh dari pantai. Sekitar 40 persen saja nelayan yang melaut. Utungnya sedang musim teri yang harganya cukup bagus yaitu Rp 13 ribu per kilogram. Di Banyuwangi 30 persen armada perikanan Muncar memilih tinggal di rumah walaupun saat ini musim ikan lemuru. Nelayan di pantai selatan masih lebih beruntung mengingat hasil tangkapan umumnya ikan ekonomis seperti tuna, cakalang, kakap merah atau ikan pelagis kecil lainnya. Namun tidak semua nelayan di pantai selatan berani berspekulasi. Contohnya nelayan Puger, Jember. Menurut Arbain, nelayan setempat, kenaikan solar kali ini membingungkan nelayan. ”Biaya operasional meningkat jadi 80 persen, hasil tangkapan juga tidak pasti,” ujarnya. Sementara itu di Malang Selatan, disamping mengeluhkan harga solar, nelayan Pondok Dadap juga mempertanyakan pengiriman solar ke SPDN yang tidak rutin. Biasanya solar dikirim setiap hari sesuai dengan kuota yaitu 27 ton, tapi sejak 10 hari terakhir ini pengiriman solar 4 hari sekali dengan pasokan yang juga berkurang. Jumlah nelayan di Jawa Timur tercatat 262.537 orang, terdiri dari nelayan maju 101.138 orang, tradisional 141.399 orang, dengan latar pendidikan Sekolah Dasar 70 persen. Mereka terkonsentrasi di 632 desa nelayan dan terdapat 68.238 Rumah Tangga Perikanan. Idealnya pantura dieksploitasi oleh125.000 nelayan dan 25.000 unit perahu untuk menjaga kelestarian sumber daya ikan. Saat ini tercatat 250.000 nelayan dan 52.842 perahu beroperasi di Selat Madura, Selat Bali dan Laut Jawa. Terdiri dari kapal bermotor 6.520 unit, motor tempel 37.351 unit, perahu tanpa motor 8.972 unit dan 87,66 persen merupakan armada tradisional. Perolehan hasil tangkapan paling tinggi dicapai di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Pondok Dadap. Tahun 2007 lalu mencapai 599.9 ton, 60 persen diantaranya ikan tuna. Sementara Luas perairan Jawa Timur mencapai 208.138 Km2 dengan panjang garis pantai 1.600 km.


Responses

  1. Selamat datang di indonesia. Sdh sejak dulu kita bgt tp ndak ada kemajuan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: