Oleh: Oki lukito | 6 Juli 2008

Impor Perikanan Seharusnya Test Lab. Uji Mutu

Pemerintah Indonesia dan Jepang sejak 1 Juli tahun 2008 merealisasi Persetujuan Kemitraan Ekonomi (EPA). Perjanjian kerjasama ini membuka peluang ekpor perikanan Indonesia ke mancanegara khususnya Negara Sakura lebih besar. Sebanyak 51 produk perikanan mendapat pembebasan bea masuk antara lain, udang, lobster, kaki kodok, mutiara dan ikan hias. Selama ini produk udang tercatat mendominasi ekspor ke Jepang dan merupakan pasar ekspor perikanan kedua terbesar setelah AS. Dari total nilai ekspor perikanan tahun 2007 sebesar 2,3 miliar dollar, nilai ekspor ke Jepang tercatat sebesar 600 juta dollar. Masih sekitar 53 produk perikanan lainnya yang diupayakan mengalami penurunan tarif masuk secara bertahap seperti tuna, ikan teri, kepiting, dan tiram yang saat ini dikenai bea masuk 3,5 sampai 11 persen.
Kemudahan ekspor ke Jepang ini sekaligus peluang dan tantangan sebab produk ekspor perikanan Indonesia dianggap belum memenuhi persyaratan kesehatan. Importir menerapkan sertifikasi dan stadarisasi produk yang ketat guna menjamin kualitas, ketertelusuran dan keamanan pangan produk, meliputi proses budidaya hingga mutu produk. Standar yg ditetapkan terkadang tidak masuk akal. Uni Eropa (UE) terketat dengan ambang batas antibiotik maksimal 1 miligram per ton (ppb). Di tingkat hulu tambak harus terbebas burung, tikus, ayam, cacing. Bea masuk juga jadi kendala, UE menerapkan standar ganda. Negara-negara Asia Tenggara dikenakan tarif 7 persen, sementara eksportir asal Afrika dibebaskan dari tarif masuk, alias nol persen.
Kendala lain yang perlu dicermati yaitu kesiapan perusahaan pengolah perikanan. Hanya 113 unit pengolahan perikanan dari 439 unit yang layak melakukan ekspor ke pasar eropa. Sebanyak 267 perusahaan ekspor dicabut pemerintah karena dinilai tidak memenuhi standar kualitas yang ditentukan UE sebagai pasar ekspor ketiga terbesar bagi Indonesia. Volume ekspor ke UE sebesar 80.104,5 ton (2006) atau 8,65 % dari total volume ekspor sebesar 426.477,59 ton. Nilai ekspor ke UE 249,95 juta dolar AS atau 14,02 % dari total nilai ekspor perikanan sebesar 2,1 miliar dollar. Mutu adalah harga mati, pada tahun 2005 ditetapkan European Union General Food sebagai jaminan kesehatan pangan terhadap konsumen eropa. Hasil inspeksi tim komisi eropa pada tahun 2007 masih menemukan kandungan antibiotik dan pencemaran logam berat, merkuri, timbal dan kadmium akibat pencemaran industri dan sampah.
Jepang, Amerika serikat, Inggris, Perancis, Italia serta 25 negara eropa lainnya, Timur Tengah, Cina, Korea merupakan peluang pasar ekspor produk perikanan Indonesia. Dicabutnya Ketentuan CD236 yaitu pemeriksaan logam berat, histamine di Port Entry yang diberlakukan sejak 2005 oleh UE, membuka peluang produk perikanan dapat menguasai pasar Eropa

Mewaspadai Impor
Rendahnya tarif bea masuk impor produk perikanan yang rendah yaitu di bawah 10% menyebabkan impor meningkat. Tahun 2006 volume impor mencapai 184.240 ton dengan nilai 165,72 juta dollar. Tahun 2005 volumenya hanya 151.086 ton dengan nilai 127,25 juta dollar. Komoditas impor terdiri dari tepung ikan, udang dan ikan patin. Harga cenderung rendah, patin impor dari Vietnam Rp 7000 per kg, sementara produk dalam negeri Rp 11.000 per kg. Kondisi ini jika tidak diwaspadai sangat rawan relebeling dan terjadinya transhipment. Pemerintah harus menaikan biaya masuk sehingga dapat meningkatkan posisi tawar produk perikanan lokal.
Faktor pengawasan terhadap mutu produk impor perikanan memang lemah, sebagian yang diimpor juga berasal dari negara yang terkena embargo produk perikanan yaitu China dan India. Ditengarai bahwa sebagian produk perikanan yang diimpor diolah lalu diekspor. Sudah selayaknya produk impor wajib melalui pemeriksaan mutu dan penyakit untuk menjaga keamanan pangan (food safety). Ketentuan itu saat ini tidak menjamin sebab Balai Karantina yang jumlahnya 43 unit hanya memeriksa segi kesehatan ikan dan surat keterangan asal, bukan kelayakan sebagai food consumtion. Keberadaan Laboratorium Uji Mutu Perikanan di 17 provinsi yang telah teruji memeriksa produk ekspor sudah saatnya dilibatkan untuk mengamankan produk yang dikonsumsi masyarakat. Data Pusat Balai Karantina tahun 2007 hingga pertengahan 2008, impor udang tercatat 1,17 juta kilogram. Sejumlah 259.095 kg diantaranya berasal dari China dan 133.139,8 kg dari India. Tujuan impor untuk memenuhi permintaan bahan baku industri pengolahan. Komoditasnya terdiri dari udang, salmon, patin, tuna dan tepung ikan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: