Oleh: Oki lukito | 15 September 2008

Tenggelamnya Budaya Bahari di Selat Madura

Terancam punah

Terancam punah

Keputusan pemerintah mengalirkan lumpur Lapindo di Kecamatan Porong langsung ke Selat Madura melalui kanal sepanjang 14,5 kilometer, dapat dipastikan akan menimbulkan masalah baru. Hal itu sudah jelas akan mematikan biota laut seperti mangrove, padang lamun dan terumbu karang tempat berkembang biaknya ikan.

Ribuan nelayan dan petambak di pesisir Selat Madura akan kehilangan mata pencahariannya. Budaya bahari akan tenggelam di Selat Madura !!. Tidak akan terlihat lagi Jukung Selentik yang meramaikan pesisir mencari cumi-cumi ketika sinar bulan purnama menerangi pantai. Entah bagaimana pula nasib Jukung Polokan dengan alat Pancing Tonda yang biasa digunakan menangkap tengiri di perairan sekitar pesisir selatan Madura. Tidak akan tampak lagi Jukung Serangan dengan katir di kedua sisinya berlayar memecah gelombang di perairan Progolinggo. Jukung adalah perahu kecil tradisional masyarakat pesisir Selat Madura untuk mencari ikan. Kendaraan nelayan ini serba bisa jika tidak ada angin menerpa layar, jukung bisa didayung atau digerakkan mesin kecil. Selat Madura kaya dengan berbagai jenis jukung, perahu dan kapal tradisonal yang digunakan untuk menangkap ikan dan alat transportasi. Sedikitnya ada 7 jenis jukung, 13 perahu dan 5 kapal setiap hari, malam dan siang berlayar di Selat Madura. Tinggal menunggu waktu sampai berapa lama lagi Perahu Jaten yang terbuat dari pohon jati atau pohon mimba dengan alat tangkap Payang Jurung menjaring ikan teri. Perahu Jaten masih dapat dijumpai di perairan Kenjeran Surabaya, Lekok Pasuruan dan Gili Ketapang Probolinggo. Sementara Perahu Ijo-ijo dengan alat tangkap payang besar yang sering digunakan nelayan asal Madura kepulauan atau Perahu Gelati yang sudah jarang ditemui asal Bandaran, Pamekasan atau Mlandingan, Situbondo tinggal menunggu kepunahan.

Menebar racun

Rencana membuang lumpur Porong langsung ke Selat Madura sejak semula telah menimbulkan keresahan masyarakat perikanan di Jawa Timur dan kecemasan nasional. Hasil uji Laboratorium Penguji Balai Pengembangan Budidaya Air Payau (LPBPBAP), Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur membuktikan semburan lumpur menimbulkan pencemaran dan berbahaya untuk tambak. Sejumlah parameter diantaranya melebihi ambang batas standar baku mutu air untuk budidaya air payau. Sampling yang diuji di laboratorium itu berasal dari Sungai Permisan di Desa Permisan, Kecamatan Jabon, Sungai Tuyono di Kecamtan Porong, Sungai Avor Alo di Kecamatan Porong, tanah tambak di desa Permisan dan desa Plumbon serta kolam lele di desa Penatar Sewu, Kecamatan Tanggulangin. Di sungai Permisan misalnya, kandungan amonia (NH3), nitrit (NO2), sulfida (S2), dan klorin (Cl 2) untuk satuan miligram per liter telah melampaui ambang batas. Demikian pula sampling lumpur sungai Permisan, Sungai Avor Alo dan tanah tambak di desa Plumbon mengandung besi (Fe) , tembaga (Cu), mangan (Me) dan bromida (Br2) tercatat diatas angka 3, jauh melebihi ketentuan standar yang diatur berdasarkan PP No.82 tahun 2001. Bahkan ditemukan plankton jenis prorocentrum sp yang meracuni ikan. Dapat dipastikan Selat Madura (65.563 km2) kondisinya akan lebih parah lagi setelah dialiri lumpur. Kondisi perairan Selat Madura saat ini sudah over fishing karena susutnya sumber daya ikan (SDI). Di perairan yang rawan konflik ini menjadi lahan mencari nafkah 85.510 nelayan dan14.832 petambak dengan rata-rata produksi perikanan Rp 1,7 triliun per tahun. Selat Madura selama ini mensuplai bahan baku air untuk puluhan ribu tambak udang, tambak bandeng dan budidaya rumput laut (Gracilaria sp). Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Gresik, Lamongan, Bangkalan, Sampang dan Pamekasan mempunyai lahan pertambakan yang luas dan tidak terpisahkan dari Selat Madura.

Dampak buruk

Produksi udang vanamei dan windu tahun lalu mencapai 38.600 ton atau 30 persen dari produksi udang nasional. Target tahun ini sebesar 42.000 ton dipastikan tidak akan tercapai. Hal itu sangat mungkin terjadi karena ada daerah-daerah di Sidoarjo dan Pasuruan sebagai sentra produksi udang terbesar di Jawa Timur, telah dialiri lumpur Porong. Sementara produksi rumput laut dan bandeng disamping untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal juga untuk diekspor. Luas lahan rumput laut jenis gracilaria yang dibudidayakan di tambak mencapai 589 ha dengan produksi per tahun 23.560 ton. Sementara produksi bandeng yang menempati areal 31.517 ha, jumlah produksinya 81.300 ton dan target produksinya diperkirakan menurun drastis tahun ini hingga dua-tiga tahun ke depan. Persoalan lain yang dihadapi adalah ketidak pastian nasib tenaga kerja pembudidaya ikan. Hidup mereka dan keluarganya tergantung aktivitas produksi tambak. Di Sidoarjo tercatat 65.000 orang yang bekerja di 16 unit pabrik pengolahan udang dengan kapasitas produksi 3.000 ton per bulan. Tidak bisa dibayangkan jika pengolahan udang terhenti. Buangan lumpur Lapindo ke laut tidak hanya menenggelamkan budaya bahari di selat Madura, tapi juga akan memberikan dampak buruk bagi produksi, ekspor perikanan, tenaga kerja dan investasi di sektor perikanan tangkap dan budidaya.


Responses

  1. Lingkungan tampaknya selalu dianaktirikan ! Kapan nasibnya lebih baik ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: