Oleh: Oki lukito | 17 September 2008

Alternatif Mengatasi Kesulitan Nelayan

Lokasi Pelabuhan Mayangan, Kota Probolinggo

 Kehidupan nelayan pasca kenaikan harga BBM semakin berat. Di sejumlah wilayah, nelayan menyiasati kenaikan itu dengan mengganti bahan baker solar menjadi minyak tanah dicampur oli yang harganya lebih murah. Namun hal itu belum cukup untuk memulihkan kondisi nelayan sebab hasil tangkapan tidak menutup biaya bahan bakar.
Di perairan Laut Jawa, Selat Madura, Selat Bali dan Samudera Indonesia sebagian nelayan Jawa Timur telah mengurangi waktu berlayar guna menghemat ongkos bahan bakar minyak (BBM). Kapal yang biasanya menggunakan solar dengan harga Rp 5.500 per liter diganti dengan minyak tanah dicampur Oli seharga Rp 4.500 per liter. Namun, hal itu belum mendorong penangkapan yang optimal. Produksi tangkap cenderung minim sebagai dampak penangkapan ikan yang berlebihan dan penggunaan alat tangkap pukat harimau (trawl) yang hingga kini tak terkendali. Di perairan Selat Madura misalnya, mayoritas perahu nelayan menggunakan alat tangkap trawl yang dimodifikasi. Jaring Cantrang atau Dogol digunakan oleh kapal berukuran kecil maupun besar. Beberapa nelayan mengaku mengggunakan alat tangkap berbahaya itu karena terdesak kepentingan menangkap ikan dalam jumlah lebih banyak.

Sebagian nelayan tradisional di perairan Pantura mencari jalan keluar peningkatan tangkapan dan pendapatan dengan memanfaatkan rumpon serta mencoba melakukan budidaya rumput laut. Rumpon yang dipasang secara gotong royong merupakan hunian alternatip yang memikat kelompok ikan untuk berlindug di dalamnya serta berkumpul di sekitar rumpon. Sementara budidaya rumput laut dipilih karena tidak memerlukan modal besar, perawatan mudah dan harga jualnya tinggi.

Berkumpulnya ikan di sekitar rumpon dimanfaatkan oleh nelayan untuk menjaring ikan. Penggunaan alat pengumpul ikan itu memberikan kepastian lokasi tangkap sehingga mempersingkat waktu pennangkapan dan menghemat ongkos BBM yang selama ini berkisar 40-60 persen dari total biaya melaut. Rumpon juga bermanfaat menjadi tempat ikan bertelur dan melindungi pertumbuhan benih.

Teknologi pembuatan rumpon tergolong sederhana dengan bahan baku yang ramah lingkungan di antaranya ban bekas, bambu atau lempengan CD bekas. Jenis rumpon terdiri atas rumpon laut dangkal dan rumpon laut dalam. Rumpon-rumpon tersebut akan ditumbuhi berbagai jenis jasad renik, ganggang dan biota yang merupakan daerah makanan berbagai jenis ikan.

 

Butuh Penyuluhan

Walaupun bukan tergolong baru, pemanfaatan rumpon dan budidaya rumput laut masih menghadapi beberapa kendala. Pemilihan lokasi seperti perairan yang keruh sulit menarik ikan untuk menetap. Sementara budidaya rumput laut memerlukan arus deras, kejernihan air dan lokasinya berpasir. Kendalanya pengadaan bibit unggul dan teknis penanaman yang benar. Lebih dari itu, perairan yang padat lintas pelayaran dan maraknya pemakaian trawl menyebabkan alat bantu tangkap dan budidaya itu rawan rusak akibat tersangkut.

Soeprapto (37) nelayan asal Sangkapura, Bawean menuturkan, ia mulai menggunakan rumpon laut dangkal pertengahan tahun 2005 sejak kenaikan BBM lebih 100 persen. Rumpon yang dibuat dari bambu itu menuai hasil tangkapan sampai mencapai ratusan kilogram per hari. Namun, rumpon yang dibuat dan dirakit secara swadaya itu mengalami kerusakan akibat tertabrak pukat harimau yang marak di perairan utara Jawa dan Selat Madura. Rumpon miliknya dan nelayan lainnya juga ditabrak kapal yang sedang mencari sumber minyak di perairan Bawean.

Keterbatasan dana untuk memperbaiki rumpon menyebabkan Soeprapto terpaksa berhenti menggunakan alat bantu tangkap itu. Ia pun kembali berburu ikan dengan jaring Slerek. Berdasarkan kajian, penggunaan rumpon selain menghemat penggunaan BBM juga menghemat waktu tangkap bagi nelayan hingga enam jam, dan meningkatkan hasil tangkapan hingga tiga kali lipat. Walaupun demikian kelompok nelayan Bawean dan nelayan di wilayah pesisir Pantura lainnya, saat ini masih mempunyai penghasilan tambahan yang dengan modal sekitar Rp 150 ribu dalam waktu 45 hari mampu menghasilkan Rp 1 juta dari hasil penjualan rumput laut yang dibudidayakan tidak jauh dari pantai. Namun belum semua nelayan di pantura Jawa Timur melakukan budidaya rumput laut sebagai alternatip mata pencaharian yang tidak jauh menyimpang dari aktivitasnya sebagai bagian dari budaya bahari. Cara lain dengan membuat kolam-kolam kecil dari terpal yang mudah dibongkar pasang. Jenis ikan yg dibudidayakan seperti lele atau ikan air tawar lainnya. Kolam-2 mini ukuran 2×4 meter ini efektif untuk mengatasi musim paceklik, di samping tidak memerlukan lahan yg luas. Akan tetapi dari semua usaha tersebut, komitmen membenahi dan memungsikan TPI lebih penting. Berfungsinya sisitim lelang akan memberikan nilai plus bagi masyarakat nelayan yang mendapat bagian dari retribusi dan diberikan ketika musim paceklik. Belum dikenalnya budidaya di pesisr tersebut disebabkan kurangnya sosialisasi dan penyuluhan oleh pemerintah daerah setempat.

 


Responses

  1. Mas Lukito, kayaknya masyarakat harus didampingi mas agar dapat fungsi pelayanan publik yang menjadi haknya

  2. salam..
    saat ini saya menjual cd dan buku panduan cara ternak lele yang benar.cd bukan berupa ebook atau data melainkan bagaimana prakteknya langsung dilapangan. cocok untuk pemula dan yang sudah praktek. jika berminat, silahkan menghubungi saya di 081911857815.

    terima kasih

    =================================================
    cara beternak lele yang benar
    cara budidaya lele yang benar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: