Oleh: Oki lukito | 9 Oktober 2008

Jawa Timur Abaikan Potensi Maritim

Di tanah kelahiran Presiden SBY membangun Pelabuhan Perikanan dan PLTU

Pantai selatan Pacitan potensinya melimpah

Pantai selatan Pacitan potensinya melimpah

Pemprov Jawa Timur sejauh ini belum riil dalam mengembangkan potensi kemaritiman wilayah, termasuk diantaranya terus tertundanya penyelesaian proyek strategis pendukung seperti Jalur Lintas Selatan (JLS). Selama ini kita hanya bangga bahwa kontribusi ekspor perikanan mencapai 30 persen dari ekspor nasional. Padahal itu saja tidak cukup dibandingkan dengan potensi kemaritiman yang ada. Provinsi dengan luas perairan 208.138 Km2, panjang garis pantai 1.600 km dan memiliki 446 pulau ini masih sangat luas untuk digali potensinya. Setidaknya ada empat kategori potensi kemaritiman di Jawa Timur, yaitu potensi pulau-pulau kecil, kekayaan tambang dan mineral, perikanan laut dan budidaya, serta industri kemaritimn itu sendiri. Beberapa pulau kecil di Jawa Timur umumnya mempunyai panorama indah sebagai daerah tujuan wisata bahari dan terbukti memberi kontibusi daerah lain dan telah dimanfaatkn oleh biro perjalanan, termasuk dari Bali. Banyak gugusan pulau di Kabupaten Sumenep, seperti Pulau Sepanjang, Sapudi dan Sapeken yang dikenal keindahan panoramanya dimanfaatkan para pebisnis travel dari Bali, sedangkan dari Jatim sendiri justru mengabaikan. Tercatat sedikitnya 52 lokasi wisata bahari yang sebagian besar belum dikembangkan maksimal. Obyek wisata tersebut mempunyai daya tarik untuk aktivitas diving, surfing, snorkling dan fishing. Sebagian diataranya berpasir putih, pantai jernih dan indah. Wisata bahari layak untuk zona wisata laut diperuntukan aktivitas diving, snorkeling, pemandangan bawah air laut, memancing. Zona kawasan pantai untuk aktivitas berjemur (sunbathing), bermain (playground), melihat pemandangan. Zona kawasan lindung (hutan, hutan mangrove, perbukitan, kebun kelapa) untuk aktivitas penjelajahan dan minat khusus. Serta zona pemukiman untuk pengembangan atraksi wisata, hotel dan pasar wisata

Potensi lain di sejumlah daerah perairan dan pantai di Jawa Timur diketahui menyimpan kekayaan minyak dan gas alam (migas). Setidaknya kini ada 32 blok migas yang belum dan sudah ditenderkan ke kontraktor production sharing (KPS) baik yang lokasinya berada di lepas pantai (offshore) seperti di Selat Madura, Laut Jawa dan Samudera Indonesia, maupun yang berada di dekat pantai (onshore). Sebanyak 26 sumber migas diantaranya sudah dioperasikan oleh 19 kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Sayangnya Jatim tidak menikmati banyak bagian karena tidak menikmati pengembalian bagi hasil itu. Diperlukan perundang-undangan bagi hasil dengan daerah yang mendesak untuk dibuat. Undang – Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah sebagai pengganti Undang – Undang No. 25 Tahun 1999 dinilai tidak adil, walaupun menurut ketentuan daerah mendapat bagian 15,5 persen. Dari sisi sektor perikanan laut dan budidaya, Jatim menyimpan potensi tangkapan ikan sebesar 1,7 juta ton per tahun. Potensi lestari sebesar 804.612,8 ton per tahun, tapi baru dimanfaatkan 453.034,05 ton per tahun, atau 56,30 persen saja dari potensi yang ada. Total tangkapan itu sebagian besar (sekitar 87,98 persen) diperoleh dari usaha penangkapan di kawasan pantai utara, sedangkan pantai selatan (Samudera Indonesia) yang memiliki potensi lestari sebesar 538.445 ton per tahun masih belum tergarap maksimal. Di sektor budidaya potensi luas lahan budidaya laut mencapai 477.923 ha sedangkan ekspor hasil laut dari Jawa Timur terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika tahun 2006 volume ekspor sebesar 168.000 ton dengan nilai 505 juta dollar AS, maka pada tahun 2007 mengalami peningkatan menjadi 570.817,60 ton dengan nilai 580 juta dollar.

Di sektor industri maritime, Jawa Timur boleh berbangga di bidang industri galangan kapal, yakni berhasil dibangunnya kapal berbobot 10.000 gross tons (GT) dan mampu memperbaiki kapal berukuran hingga 20.000 GT. Di Surabaya saja tercatat sedikitnya 14 perusahaan industri galangan kapal baik kecil maupun besar. Sayangnya perusahaan – perusahaan tersebut terkendala keuangan. Sektor padat modal ini membutuhkan keberpihakan perbankan. Sektor maritime lainnya yang belum tersentuh adalah Industri biotechnologi kelautan, antara lain industri farmasi (omega-3, squalence, ciagra), industri mineral berupa pasir laut, kerikil, nodul, tembaga, nikel, kobalt dan uranium. Industri air laut berupa sodium klorida (NaCL) untuk memproduksi klorida dan sodium hidroksida, magnesium, bromin, dan garam.

Pembenahan hulu sektor kemaritiman sudah tidak bisa ditawar lagi. Banyak persoalan kemaritiman yang harus diprioritaskan penyelesaiannya. Persoalan akan sedikit teratasi bila infrastruktur di dekat pantai sudah terbangun atau tersedia.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: