Oleh: Oki lukito | 20 Maret 2009

Ranah Bahari yang abaikan Potensi Maritim

Provinsi Jawa Timur mempunyai luas perairan 357.707 kilometer persegi, meliputi Selat Madura, Laut Jawa, Selat Bali (pantai utara), dan Samudra Indonesia serta ZEEI (pantai selatan). Garis pantainya sepanjang 1.900 km dan bertabur 446 pulau. Sebanyak 23 daerah dari 38 kabupaten/kota atau lebih dari 60 persen merupakan wilayah pesisir.
Jasa maritim, pulau-pulau kecil, kekayaan tambang-mineral, perikanan dan budidaya laut, serta industri kelautan merupakan aset yang selama ini terabaikan. Letak geopolitik yang sangat strategis itu memosisikan Jatim sebagai sentra kegiatan ekonomi kawasan barat Indonesia (KBI) dan kawasan timur Indonesia (KTI). Salah satu potensi kelautan dapat dilihat dari banyaknya sumber daya ikan (SDI) sebesar 1,7 juta ton per tahun. Akan tetapi, pemanfaatannya baru 453.034,05 ton atau 56,30 persen.
Sebagian besar ikan tangkapan (sekitar 87,98 persen) diperoleh dari perairan utara, sedangkan dari pantai selatan hanya 12,12 persen. Pada tahun 2007, sektor perikanan tangkap dan budidaya memberikan kontribusi ekspor nasional sebesar 25,7 persen.
Potensi perikanan yang masih terbuka untuk investasi adalah budidaya laut (marine culture). Lahan yang dimanfaatkan baru seluas 31.937 hektar (ha). Jika dihitung dari panjang garis pantai selebar 5 mil ke arah laut, luas lahan marine culture yang efektif untuk usaha budidaya laut diperkirakan mencapai 477.923 ha. Komoditasnya antara lain rumput laut, kerapu, kakap, abalone, dan kepiting bakau.
Hal yang memang ironis, potensi berlimpah itu belum mampu menyejahterakan nelayan dan petani tambak. Penghasilan nelayan pada tahun 2007 rata-rata sebesar Rp 4.061.756 (DPK Jatim) atau sekitar Rp 333.000 per bulan. Ini berarti hanya Rp 13.000 per hari per rumah tangga atau Rp 3.300 per anggota keluarga. Jika mengacu standar Bank Dunia-keluarga miskin adalah keluarga yang berpendapatan kurang dari 2 dollar AS per hari-jelas betapa miskin nelayan dan petani tambak di Jatim.
Kekayaan lain berupa gugusan kepulauan di Kabupaten Sumenep, seperti Pulau Sepanjang, Sapudi, Kangean, dan Sapeken serta Pulau Bawean di Kabupaten Gresik.
Keindahan panorama alamnya sudah dikenal wisatawan asing. Pulau-pulau tersebut telah dipasarkan ke mancanegara dan dimanfaatkan agen perjalanan dari Bali. Selain pulau-pulau kecil, tercatat sedikitnya 52 lokasi wisata bahari di pesisir selatan dan pantai utara juga menunggu sentuhan investasi.
Obyek wisata tersebut mempunyai daya tarik untuk aktivitas selam, selancar, snorkling, dan memancing. Sebagian obyek wisata itu berpasir putih, memiliki air laut jernih, dan memiliki fenomena alam. Zona kawasan pantainya untuk berjemur, bermain, dan melihat pemandangan. Zona kawasan lindung berupa hutan, hutan mangrove, perbukitan, dan kebun kelapa dapat dimanfaatkan untuk aktivitas penjelajahan dan minat khusus. Selain itu, zona permukiman juga dikembangkan untuk atraksi wisata, hotel, dan pasar wisata.
Potensi lain berupa kekayaan minyak dan gas alam (migas). Kini terdapat sedikitnya 32 blok migas yang belum dan sudah ditenderkan ke kontraktor production sharing (KPS), baik yang lokasinya di lepas pantai (offshore) seperti di Selat Madura, Laut Jawa, dan Samudra Indonesia, maupun di dekat pantai (onshore). Sebanyak 26 sumber migas sudah dioperasikan 19 kontraktor kontrak kerja sama.
Sayang, Jatim tidak memperoleh banyak bagian karena tidak menikmati pengembalian bagi hasil itu walaupun Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah menyebutkan daerah mendapat bagian 15,5 persen. Di sektor industri maritim, provinsi dengan penduduk terpadat ini boleh berbangga di bidang industri galangan kapal, yakni mampu membangun kapal berbobot 10.000 gross tonnage (GT) dan memperbaiki kapal berukuran hingga 20.000 GT.
Di Surabaya tercatat sedikitnya 14 industri galangan kapal baik kecil maupun besar. Sayang, perusahaan-perusahaan tersebut terkendala permodalan. Sektor padat modal ini memerlukan keberpihakan perbankan. Sektor industri maritim lain yang belum tersentuh adalah industri bioteknologi kelautan, antara lain industri farmasi (omega-3, squalence, dan ciagra); industri mineral berupa pasir laut, kerikil, nodul, tembaga, nikel, kobalt, dan uranium; serta industri air laut berupa sodium klorida (NaCL) untuk memproduksi klorida dan sodium hidroksida, magnesium, bromin, dan garam.
Pembenahan hulu sektor maritim rasanya sudah tidak bisa ditawar lagi. Banyak persoalan yang harus diprioritaskan penyelesaiannya. Salah satunya adalah jalur lintas selatan (JLS) dan menghidupkan kembali moda transportasi laut di pantai utara. Sebagai ranah bahari dengan kekayaan maritim melimpah, arah pembangunan Jatim untuk jangka pendek, menengah, dan panjang seharusnya tidak lagi berorientasi darat.
Pola pengembangan ocean governance harus dibangun secara sistematik sehingga terwujud pengembangan optimal dan menyeluruh di wilayah laut tanpa terjadi penyimpangan unsur-unsur nilai, etika, perdamaian, dan kebersamaan melalui langkah integrasi horizontal dan integrasi vertikal. Semua pihak yang terlibat harus dapat menjalankan fungsinya secara timbal balik (saling menguntungkan) sehingga pembangunan yang berkelanjutan terjamin.

Opini ini dimuat di Harian Kompas,19 Maret 2009


Responses

  1. Jatim memang mempunyai banyak potensi di bidang industri maritim.. sepertinya pemerintah harus segera disadarkan,,tidak selalu berorientasi darat,,tapi lautan kita jaga harus dibangun..

    • Ranah eksekutip dan legislatif supaya melek laut, tx


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: