Oleh: Oki lukito | 6 Juli 2009

Pilih Presiden Ocean Leadership

Pembangunan kelautan dan kriteria calon presiden mendapat perhatian Presiden pertama RI Ir. Soekarno. Apa dan bagaimana pandangan tokoh yang akrab disebut BK itu, terekam dalam wawancara imajiner dalam bentuk tanya jawab berikut ini.

 T: Apa kabar Pak?

BK : Alhamdulillah baik, salam bahari untuk rakyat Indonesia. Merdeka !

Sudah delapan tahun sektor kelautan mendapat perhatian pemerintah.

Syukurlah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Kekayaan masa depan bangsa ini berada di laut dan merupakan jalan keluar dari krisis ekonomi global. Negara-negara kontinental, China, India, Malaysia, Singapura sekarang berusaha menjadi negara maritim. Mereka menyadari kekayaan alam dan pengelolaan Samudra dan dasar lautnya untuk berbagai keperluan. Antara lain pelayaran, perikanan dan mineral terutama di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Garis pantai kita terpanjang setelah USA, Canada dan Rusia Federasi. Sebagai negara kepulauan, kita harus membangun potensi ekonomi kelautan. Perikanan tangkap, budidaya, industri pengolahan, bioteknologi, mineral, energi, pariwisata bahari, transportasi, air laut dan harta karun bawah laut yang potensinya besar. Kita harus memiliki kedaulatan di laut. Jangan terjadi lagi kekayaan laut dicuri, pulau terdepan diklaim negara tetangga tanpa perlawanan. Saya ingatkan, dulu para pejuang merebut Irian Barat dengan susah payah, modalnya apa? Sekarang mempertahankan kekayaan sendiri saja tidak mampu. Diplomasi luar negeri kita lemah, semangat perjuangan bangsa ini sudah luntur.

Lalu harus bagaimana Pak?

Bangun kekuatan armada untuk mengamankan laut seluas 5,8 juta kilometer persegi dan l7 ribu pulau lebih. Idealnya kita memiliki 260 kapal perang agar disegani negara tetangga. Inggris, Jerman dan Perancis teritori lautnya tidak luas, akan tetapi kekuatan armadanya luar biasa. Laut kita lebih luas dari daratan tetapi kapal perangnya banyak yang bekas, sudah uzur dan lamban kalah cepat dengan kapal nelayan asing. Sulit bermanuver mengamankan Selat Malaka, Alur Laut Kepulauan Indonesia, Samudera Indonesia apalagi ZEEI. Buktinya kita dipermalukan, ya diam saja. Soal biaya membeli kapal, itu seabrek ekonom dan pakar supaya berpikir dan menghitung yang benar, jangan ada komisi dan markup. Sekarang ini ada Undang-Undang Otonomi, daerah sudah maju dan kaya, setiap daerah menyumbang satu atau dua kapal. Pejabat, pengusaha dan anggota dewan diwajibkan menyisihkan 10 persen penghasilannya selama 5 tahun. Saya ingatkan, janganlah menjual aset negara, siapa saja menjual aset apalagi masih produktif, pengkhianat itu.

Kapalnya harus secanggih apa?

Industri galangan kapal kita sudah maju. Saya yakin mampu membuat kapal perang. Bapak prihatin, negara lain memesan kapal di kita. Kok kita malah membeli kapal dari luar negeri. Ini yang menyebabkan negara bangkrut. Kapal tanker Pertamina malah dijual, alasannya lebih murah menyewa. Kita jadi sangat tergantung pada negara lain. Hari ini sewanya lebih murah, besok bisa dinaikkan atau tanker tidak disewakan. Lalu minyaknya diangkut menggunakan apa, pakai gethek (rakit) ? Belum tenaga kerjanya. Kalau kapal sendiri, jelas tenaganya bangsa sendiri. Jadi yang menikmati devisa siapa? Ini jelas karena nasionalisme kita tipis dan mungkin hanya cari komisi banyak ya. Ha…ha….ha..(tertawa).

Kapal asing lebih banyak beroperasi

Itu yang saya katakan tadi, pembangunan maritim masih setengah hati. Potensi ekonomi perhubungan laut diperkirakan 14 miliar dollar per tahun. Sejak 15 tahun terakhir kita membiayai armada asing yang mengangkut 96 persen dari 443 juta ton muatan impor dan ekspor. Angkutan dalam negeri 46 persen dari 170 ton juga diangkut kapal berbendera asing. Kerugian devisa sekitar 11 miliar dollar per tahun. Armada semut Pelayaran Rakyat yang dulu menguasai angkutan antarpulau dianaktirikan. Jasa angkut minyak, kilang lepas pantai, eksploitasi hasil laut semuanya dikuasai asing. Jadilah kita penonton di rumah sendiri.

Setiap tahun negara rugi 4 juta dollar akibat illegal fishing.

Hitungan di atas kertas begitu, realitasnya lebih dari itu. Ikan dan kekayaan laut lebih banyak dikuasai nelayan dan kapal asing, kita tidak mampu menjaganya. Potensi sumber daya ikan di laut sekitar 6 juta ton per tahun. Sekarang kewajiban pemerintah memanfaatkan semua potensi sumber daya manusia dan laut untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Banyak kapal asing pencuri ikan ditangkap tetapi di pengadilan sanksinya ringan. Bahkan ada yang dilepas begitu saja. Laut menjadi wilayah tak bertuan menjadi ajang penyelundupan, pencurian minyak, pasir laut, illegal logging, trafficking dan lalu lintas narkoba. Armada laut kita lemah. Lemah!.

Ketika bapak menjadi Presiden, ada Kementerian Maritim.

Kementerian Maritim itu mutlak. Kita bangsa bahari, Negara Maritim. Ndak lucu lah jika tidak ada yang mengurus. Sejarah bangsa ini terkenal ketangguhan armada lautnya.. Nenek moyang kta orang pelaut – kodrat sebagai bangsa bahari janganlah diingkari. Sriwijaya menaklukkan Madagaskar, Majapahit mempersatukan nusantara, sehingga kita memiliki ribuan pulau, tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahkan sebelum Cheng Hoo dan Colombus membuat sejarah fenomenal, penjelajah laut nusantara sudah melintasi sepertiga bola dunia. Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali, bangsa yang memiliki armada niaga, armada militer, yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.

Berbagai program dengan dana triliunan sudah dihabiskan.

Ukuran keberhasilan bukan dari banyaknya dana yang dihabiskan. Salah satu indikasi adalah jika masyarakat pesisir hidupnya makmur. Bangunlah jiwanya, baru badannya. Banyak program untuk nelayan, tetapi itu baru membangun badannya saja. Masyarakat pesisir seharusnya dicerdaskan dulu dan dibangun jiwanya. Jadi, programnya bisa diserap dengan mudah. Ironis kan di tengah kekayaan laut melimpah, nelayannya kere (miskin) dan selalu dijadikan obyek pembangunan. Ah, sudahlah. Sebentar lagi ada hajatan besar demokrasi, pemilihan presiden. Pesan saya, pilih presiden yang mempunyai kesadaran tentang ruang hidup yang membentang yang menjanjikan di laut, memiliki ocean leadhership yang kuat. Siapapun terpilih jadi presiden ndak usah bikin konsep ndakik-ndakik (tinggi), fokus di kemaritiman. Fokus, fokus, fokuslah di kemaritiman.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: