Oleh: Oki lukito | 11 Januari 2010

Dialog Imajiner Bung Karno – Gus Dur : Jati Diri Bangsa Bahari

Mengembalikan jiwa kebaharian dimulai sejak kepemimpinan Presiden    Soekarno, mendeklarasikan Wawasan Nusantara 13 Desember 1957, dikenal dengan “Deklarasi Djoeanda” yang memandang laut sebagai satu kesatuan wilayah matra laut dan darat. Pada Tahun 1999 Presiden Abdurahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur, membentuk lembaga Departemen Eksplorasi Laut dan menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan. Menyempurnakan organisasi Dewan Kelautan Nasional (DKN) menjadi Dewan Maritim Indonesia (DMI) serta mengangkat Panglima ABRI dari unsur TNI-AL. Kita simak dialog imajiner kedua tokoh besar bangsa yang memiliki ocean leadership tersebut.

Gus Dur : Assallamualaikum

Bung Karno : Waallaikum salam, gimana kabarnya ?

Gus : Alhamdulillah, saya bawakan oleh-oleh lagu keroncong kesukaan Bung, ‘Bandar Jakarta’ dan lagu yang satu ini juga bernuansa laut, judulnya ‘Ocean Dreams’ iramanya jazz, cenderung bosas penyanyinya asal Perancis, Astrud Gilberto. Saya berharap Bung remen mendengarkannya.

Bung : Terimakasih, kemarin lusa dik Pram (Pramudiya Anantatoer) bawakan saya buku karangannya yang bercerita soal runtuhnya kerajaan-kerajaan di Nusantara khususnya di Jawa karena singgasananya berpaling dari laut. Kita seharusnya bersyukur mewarisi darah pelaut sejati sekaligus budaya bahari. Betul apa yang diungkapkan petualang Tiongkok, I Tsing , kerajaan Shih Li Fo Shih (Sriwijaya) adalah kerajaan besar yang armada lautnya amat kuat. Kekuasaanya meliputi Selat Malaka, laut Jawa sampai Madagaskar. Mereka menjejakkan kaki di benua Afrika via madagaskar sejak masa-masa awal tarikh masehi. Jauh lebih awal daripada bangsa eropa mengenal Afrika. Lebih dari 1500 tahun lampau nenek moyang bangsa kita adalah pelaut sejati. Jauh sebelum Cheng Ho dan Colombus membuat sejarah fenomenal, penjelajah laut nusantara telah melintasi sepertiga bola dunia. Dengan kekuatan armada militer mampu menyatukan wilayah luas dan disegani bangsa lain. Sriwijaya, Majapahit, Demak, Pasai, Ternate, Tidore, Bone berjaya karena kekuatan maritim. Lebih cerdas dari pada anak cucunya yang ingkar kodrat sebagai bangsa bahari.

Gus : Memang benar yang dikatakan Bung, pasca penjajahan 350 tahun atau 6 generasi terjadi perubahan kultur bangsa dari bahari ke agraris. Masa surut kejayaan budaya bahari nusantara diakibatkan perang saudara dan kondisi ini dimanfaatkan kekuatan bangsa lain untuk menguasai wilayah ini. Kekuasaan asing menjauhkan penghidupan masyarakat dari laut. Rakyat digiring menjadi petani. Lama kelamaan armada laut menjadi kecil. Kerajaan terdesak ke pedalaman, dan pelabuhan dikuasai asing. Sejak saat itu paradigma maritim kita diubah penjajah menjadi bangsa agraris. Hal ini dimanfaatkan kekuatan asing, Portugis, Inggris dan masuknya VOC. Budaya maritim bangsa Indonesia mengalami kemunduran pada abad ke-18 ketika kolonialis Belanda mulai membatasi akses masyarakat untuk berhubungan dengan laut, seperti larangan berdagang dengan pihak selain Belanda. Padahal, suatu peradaban muncul dan berkembang pada awalnya dari wilayah pantai, di mana penduduk yang bersangkutan memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan pendatang asing. Akibatnya, budaya maritim menjadi luntur. Sayangnya, kita tidak menyadari hal itu, untuk membangun budaya bangsa tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Saya kutip tulisan di Harian Kompas, Lord Cunningham pernah menyatakan, “It takes a Navy three years to build a ship but it takes a nation three hundreds years to build a tradition.” Penjajah Belanda sukses menanam kultur agraris sampai sekarang.

Bung : Sejatinya UNCLOS 1982 merupakan prestasi terbaik kita dalam memperjuangkan konsepsi negara kepulauan. Akan tetapi bangsa kita kurang maksimal memanfaatkannya. Akibatnya, isu perbatasan pulau-pulau terdepan tidak maksimal tertangani. Tidak mengherankan bila sewaktu-waktu bisa terulang lagi insiden seperti kasus Gugus Tempur Kapal Induk USS Carl Vinson, Juli 2003 berlayar bebas di perairan Bawean dan lepasnya pulau-pulau terdepan. Seharusnya seluruh komponen bangsa yang besar ini menyadari letak negara kita sangat strategis, berada di persimpangan dua benua Australia-Asia, dua samudera Pacific-Indonesia. Saat ini terjadi pergeseran ekonomi dunia dari Samudera Atlantik ke Pasifik, 75% komoditas perdagangan dunia melewati perairan kita. Hendaknya para pemimpin berpaling ke laut, bahwa negara besar dan kuat memiliki visi maritim.

Gus : Bung pernah mengatakan, sebuah bangsa bila kehilangan jati dirinya, maka bangsa tersebut tidak akan mampu bertahan hidup bahkan akan punah. Saya berupaya maritim menjadi leading sector. Obsesi saya salah satunya diilhami negara besar dan kuat karena memiliki visi kelautan. Amerika, Brazil, Argentina, Jerman, Inggris, Perancis, Spanyol, Rusia, Jepang, Korsel, China, India, Australia. Negara tersebut besar dan kaya karena pendapatannya dari sektor kelautan sangat besar. PNBP dari sektor kelautan, Jepang 54%, China 49%, Korsel 37% sedangkan Indonesia hanya 18,8%. Ironis kebijakan pemerintah tidak memandang sumber daya kelautan sebagai kekuatan. Bisa dilihat di sektor perikanan, pola pengembangannya masih sebatas peningkatan hasil tangkapan. Ekspor perikanan masih didominasi bahan baku sehingga tidak mampu meningkatkan nilai tambah produk. Posisi tawar Indonesia sebagai pemasok bahan baku perikanan dunia cenderung lemah. Hampir semua kekayaan alam yang dilindungi oleh konstitusi sudah dieksploitasi habis dan pernah dijual ke Luar Negeri. Minyak, gas bumi, emas, tembaga, timah, batubara, bauksit, granit, pasir besi, pasir hingga kayu. Pertambangan hasil alam itu pun cenderung merusak ekosistem laut dan lapisan tanah, alam, dan lingkungan hidup.

Bung : Hal itu menjadi keprihatinan. Saya dengar ZEE Indonesia 70 % belum disepakati negara tetangga. Berada di perbatasan dengan Timor Leste, Palau, Filipina, Vietnam, Thailand dan India. Baru tercapai kesepakatan dengan Australia, Papua Nugini. Selain ZEE ada dua batas  yuridiksi maritime yang belum terselesaikan yaitu batas laut teritorial dan batas landas. Sekitar 30% landas kontinen belum disepakati yaitu berbatasan dengan Filipina, Palau dan Timor Leste. Ketidak seriusan terlihat dari lemahnya pemberdayaan angkutan laut.  Setiap bulan sedikitnya 28 kapal berbendera asing mengangkut LNG dari Bontang, Kaltim. Berdaya angkut 138.000 meter kubik disewa 60.000 dollar AS per hari, atau Rp 546 juta. Bayangkan berapa kerugian devisa negara dan itu sudah berlangsung puluhan tahun. Pada hal sebetulnya galangan nasional kita mampu membuat kapal pengangkut LNG.

Gus : Idealnya sektor kelautan tidak hanya mengembangkan perikanan tangkap saja, potensi besar industri bioteknologi kelautan, pertambangan-energi, pariwisata bahari, transportasi laut, industri dan jasa maritim, pulau-pulau kecil dan sumberdaya konvensional diabaikan. Peneliti dari Amerika sedang mengadakan penelitian kandungan emas di laut Sulawesi. Mangan dan jenis tambang lain dengan jumlah besar tersimpan di perairan NKRI. Jika negara ingin maju dan rakyat makmur, jadikan sektor kelautan prioritas, gitu aja kok repot… Dialog pun berakhir ketika terdengar suara azan, Bung Karno dan Gus Dur sholat Ashar berjamaah di Masjid Baitul Jannah.


Responses

  1. obrolan mantab dari kedua bapak bangsa ini. semoga dunia kemaritiman Indonesia menjadi pilar terdepan majunya Indonesia di dunia internasional.

  2. Ehmm, Bagoess…! Sebuah dialog yang cukup visioner.

    Perlu dan dibutuhkan strategi Politik, Kebudayaan, Ekonomi dan Sosial yang komprehensif, sistematis dan berkesinambungan untuk sebuah transformasi besar dari sebuah kultur bangsa bahari yang terperangkap dalam kultur agraris kembali ke JATI DIRI-nya sebagai bangsa berkultur bahari yang progresif, ekspansif dan dominan.

    Kunci dari keberhasilan tersebut ada dan harus dimulai di pula Jawa, bagaimana merubah “mind set dan paradigma” orang2 di Jawa untuk lebih berorientasi bahari akan juga membawa implikasi yang sangat signifikan. Karena Jawa adalah wilayah yang paling terperangkap secara kultural akibat politik Kolonialisme Belanda yang secara sistematis terus mendesak dan melakukan “treatement” agar kerajaan2 di Jawa menjadi inklusif, tetutup, hierarkis dan berorientasi agraris. Berbeda dengan kultur maritim yang terbuka dan egaliter, sehingga cepat sekali berinteraksi dengan dunia luar dan fleksible dalam beradaptasi terhadap perubahan dan kemajuan.

    Disamping itu sebab merekalah pemegang kendali kekuasaan, pengaruh dan penyebab perubahan dominan di berbagai sektor dan struktur lapisan sosial masyarakat di Nusantara. Sebagai terjadinya

    Dengan menentukan titik berangkat dan orientasi tersebut, dapat dipastikan dalam waktu yang singkat akan terjadi perubahan “mind set dan paradigma” kultural bagi bangsa indonesia secara simultan dari berorientasi agraris (dengan tetap mempertahankan secara proposional warisan ekonomi kultur agraris) ke sebuah bangsa yang berorientasi bahari yang terbuka dan egaliter, yang cepat beradaptasi terhadap perubahan dan kemajuan.

    Perubahan “mind set dan paradigma” tersebut juga akan berpengaruh dan merubah secara mendasar bidang Politik, Ekonomi, Sosial dan Kebudayaan dari bangsa Indonesia.

    Wassalam,
    Jend. (Pur) Soeharto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: