Oleh: Oki lukito | 26 April 2010

Mencermati Revitalisasi Seribu Hektar

Ratusan hektar tambak udang vanamei di Desa Wongsorejo, Banyuwangi gulung tikar

Pemerintah akan merevitalisasi 180 ribu hektar (ha) atau 40 persen dari total lahan tambak nasional karena sudah tidak aktif lagi.
Revitalisasi merupakan salah satu strategi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil ikan terbesar di dunia pada 2015 serta memacu kenaikan produksi ikan 353 persen. Revitalisasi akan dilakukan di lahan tambak yang pernah menjadi primadona, namun ditinggalkan akibat penyakit.
Segera terbayang, pekerjaan besar itu tidak mudah. Peningkatan produksi budidaya selama ini terganjal infrastruktur, proses produksi, pengolahan, hingga pemasaran. Kendala infrastruktur mencakup saluran tambak, jaminan pasokan listrik, air bersih, cold storage, dan industri pengolahan yang mandeg.
Program revitalisasi tambak di Jawa Timur pernah dilakukan tahun 2005, kali ini ditargetkan seluas seribu hektar dengan biaya Rp 200 milyar, difokuskan pada komoditas udang vannamei (paneus vannamei). Udang impor asal Amerika Latin itu telah menggeser eksistensi udang windu di ranahnya sendiri yang justru sukses dikembangkan oleh Vietnam, India, Bangladesh dan Thailand.
Dipilihnya Vannamei yang induknya diimpor dari Florida dan Hawaii seharga Rp 300 ribu per ekor itu, selain tingkat produktivitasnya tinggi, juga diyakini tahan penyakit dan waktu panen lebih singkat, hanya 70 hari.
Untuk tambak super intensif tingkat kepadatan vannamei mencapai 300 ekor per meter persegi. Sedangkan tambak intensif umumnya 80-150 ekor. Bandingkan dengan udang windu (paneus monodon), spesies lokal asli Indonesia yang hanya 50 ekor per meter persegi.
Pilihan revitalisasi tambak udang vannamei dinilai cukup berani, mengingat dalam lima tahun terakhir produksi udang Jawa Timur merosot tajam. Data yang dikutip dari Asosiasi Pengusaha pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), pada tahun 2009 lalu produksinya terpuruk hingga 40 persen dan terjadi penurunan ekspor hingga 30 persen di banding tahun 2008. Penurunan produksi disebabkan merebaknya penyakit dan virus yang melanda sentra budidaya air payau dan usaha budidaya laut.
Hasil temuan Balai Pengembangan Budidaya Air Payau Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, sedikitnya terdapat empat penyakit utama pada udang vannamei. Salah satunya White Spot Syndrome Virus (WSSW) dan bakteri Vibrio Sp. Penyebabnya, air laut yang digunakan tercemar dan perubahan suhu ekstrem sehingga memudahkan virus berkembang biak dengan cepat.
Udang dikenal sangat sensitif terhadap air yang tercemar dan perubahan suhu sehingga mudah terserang virus. Pencemaran air sulit diatasi karena tambak berada di pesisir pantura dan muara sungai, tempat beragam limbah berakumulasi. Selain itu penumpukan konsentrat kimia (residu) berasal dari pakan dan cara budidaya yang kurang baik serta benur yang tidak sehat, ikut meracuni lingkungan tambak.
Sayang, sampai sekarang belum ditemukan cara mengatasinya. Ironisnya, Balai Penyidikan Penyakit Ikan dan Lingkungan baru akan dibangun tahun ini di Banten.

Tambak Nganggur
Data Dinas Perikanan dan Kelautan menyebutkan, luas tambak di Jatim mencapai 60.474 ha, seluas 21.201 ha di antaranya nganggur, sebagian besar adalah tambak udang berlokasi di pantai utara (pantura). Di samping itu dari saluran tambak sepanjang 704,87 kilometer (km) yang rusak mencapai 206,8 km.
Selain karena penyakit, udang Indonesia sulit bersaing di pasar ekspor karena harganya lebih mahal dari negara pesaing. Sebagai ilustrasi, selisih harga udang Indonesia dengan Thailand sebagai pengekspor udang terbesar dunia mencapai 1 dollar AS per kilogram (kg).
Harga udang dari Indonesia saat ini berkisar 7,3 dollar AS per kg berisi 50 ekor dengan biaya produksi 2,5 dollar AS per kg. Sedangkan harga udang Thailand 6,3 dollar AS per kg, isi 70 ekor dan biaya produksinya 70 bath atau 2 dollar per kg.
Melihat kenyataan ini sebaiknya program revitalisasi menimbang kembali komoditas vannamei yang walaupun menjanjikan, tetapi mempunyai risiko tinggi. Mengapa kita tidak memacu kembali udang windu dengan pola polyculture atau silvo fishery (wana mina) yang ramah lingkungan?
Udang windu memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional karena dihasilkan melalui pola budidaya organik. Si Bongkok atau black tiger –sebutan lain udang windu– memiliki peluang usaha cukup baik untuk konsumen lokal dan luar negeri. Hal ini disebabkan rasanya yang enak dan gurih serta kandungan gizinya sangat tinggi. Dagingnya mengan-dung 90 persen protein dan asam amino esensial cukup lengkap. Keunggulan lainnya adalah kandungan lemaknya hanya sedikit dan harganya mencapai 15-20 dollar AS per kg.
Jenis udang lokal itu seharusnya dibudidayakan di wilayah pesisir selatan yang kualitas airnya jauh lebih baik dari pantura.

Kearifan Lokal
Sebetulnya bukan hanya udang windu sebagai wujud kearifan lokal. Komoditas yang perlu diseriusi dan diciptakan pasarnya adalah ikan bandeng, kepiting soka, lobster air tawar, abalone, nila, sidat, lele serta gurame. Biaya produksi ikan gurame misalnya, Rp 12.300 per kg sedangkan harga jualnya mencapai Rp 23.500 per kg (isi 2 ekor). Kolam pasangan seluas 100 meter persegi dapat menghasilkan 1,6 ton gurame yang dipelihara selama 11 bulan.
Berdasarkan pengalaman kita selalu kalah bersaing dengan negara produsen yang sama-sama go international dan menjual jenis produksi yang sama pula. Maka diperlukan terobosan cerdas dan inovatif, solusinya harus berani menciptakan pasar baru.
Satu hal lagi yang perlu dicermati, revitalisasi tambak seribu hektar berorientansi pada segi produktivitas dan hanya bisa dijangkau oleh petambak intensif, super intensif atau industri skala besar yang padat modal. Program revitalisasi seyogyanya tidak meminggirkan petambak tradisional yang miskin dan terpuruk karena terkendala modal dan teknologi. Di sini janji ”APBD untuk rakyat” perlu didengungkan kembali.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: