Oleh: Oki lukito | 11 Mei 2010

Melalaikan Pelajaran Bahari

Salah satu warisan budaya bahari

Surabaya atau Ujung Galuh adalah Kota Maritim telah disepakati di dalam Master Plan Surabaya Tahun 2000 yang disusun pada tahun 1973. Pada tahun 2000 Presiden Abdurrahman Wahid mencanangkan Kota Surabaya sebagai Kota Bahari. Sampai saat ini walaupun rumusan kota sudah mengalami banyak perubahan, akan tetapi nafas dan urat nadi kehidupan sebagian masyarakatnya tidak dapat menghindar dari aktivitas maritim. Identitas yang mempertegas sebutan kota maritim banyak dijumpai di sejumlah lokasi, antara lain, Pelabuhan Tanjung Perak, Pangakalan Armada RI Kawasan Timur, atau Galangan Kapal terbesar di Indonesia PT. PAL. Kesibukan kapal barang ataupun penumpang di Pelabuhan Tanjung Perak, bongkar muat kapal dagang tradisional antar pulau di Pelabuhan Kalimas merupakan ciri Surabaya sebagai kota maritim. Selain itu Surabaya mempunyai sedikitnya 14 perusahaan industri galangan kapal besar dan kecil yang sebagian besar terkonsentrasi di lokasi Nilam Barat. Patung Jalasveva Jayamahe, Monumen Kapal Selam (Monkasel) di bantaran kali Surabaya, keberadaannya bukan sekedar hiasan akan tetapi mampu memberi karakter dan jati diri Surabaya sebagai ranah bahari. Sayang, asal-usul kota yang mempunyai luas laut 1.889 kilometer persegi, panjang garis pantai 26,7 kilometer dengan jumlah nelayan 1651 orang, hasil laut 10 ribu ton per tahun, serta mempunyai tambak budidaya air payau seluas 1400 hektar ini, tidak banyak difahami pemangku kepentingan pendidikan di Surabaya.
Kurikulum di sekolah tidak pernah mengajarkan secara instens nilai-nilai kebaharian dan wawasan tentang kelautan. Dengan potensi maritim yang dimiliki, sekolah dasar dan menengah di Surabaya seharusnya mencantumkan pelajaran bahari sebagai muatan lokal. Main-set sebagai kota maritim harus ditanamkan sejak usia dini di sekolah.
Sebagai ilustrasi sejak mulai belajar di Taman Kanak-kanak (TK), materi menggambar misalnya, selama ini guru lebih senang mengajari muridnya menggambar gunung, matahari kemudian sawah. Jarang ada murid yang berinisiatip menggambar nuansa laut atau perahu tradisional nelayan. Patut pula disesalkan jika anak-anak sangat asing dan tidak bisa mendendangkan lagu Nenek Moyangku Orang Pelaut. Pola pikir murid secara tidak sangaja dibatasi untuk selalu berorientasi daratan. Tidak mengherankan jika hal ini terbawa hingga dewasa dan menjadi pilihan ketika mereka melanjutkan sekolah atau mencari pekerjaan.
Seorang Sri Edi Swasono, guru besar di Universitas Indonesia dalam sebuah artikelnya beberapa waktu lalu mengungkapkan rasa kecewanya. Ahli ilmu ekonomi kerakyatan ini dengan penuh kegelisahan menceritakan, mahasiswanya di Program Paska Sarjana Universitas Indonesia tidak mengetahui dimana letak pulau terdepan Marore dan Miangas. Hal ini membuktikan betapa penguasaan pengetahuan geografi dan ilmu kebaharian di sekolah umum dan perguruan tinggi sangatlah lemah. Kita menjadi prihatin ketika seorang Dekan Fakukltas Perikanan di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Malang menemukan fakta, tidak lebih dari 20 persen mahasiswanya yang bisa berenang. Kita juga menyesalkan Universitas Hangtuah terpaksa menutup Fakultas Perikanan karena sepi peminat. Potensi maritim Surabaya seperti transportasi laut, wisata bahari, hasil tangkapan nelayan, pada akhirnya hanya akan menjadi retorika. Jangan salahkan murid lulusan sekolah umum, jika mereka tidak mengenal budaya pesisir. Apa itu padang lamun, ikan demersial atau seperti apa bentuk perahu nelayan Payangan dan Polokan atau bentuk jaring Cantrang. Apalagi untuk menumbuhkan dalam jiwa mereka kesadaran cinta laut. Jangan pula salahkan generasi penerus, jika kemudian mereka enggan bekerja di laut karena persepsi mengenai laut yang keliru. Sebab laut diidentikan dengan kemiskinan, kekumuhan dan menyeramkan karena mitos Nyai Roro Kidul. Di Kota Maritim, seharusnya lembaga pendidikan di Surabaya mengajarkan pengetahuan seperti manfaat transportasi laut, wisata bahari, keanekaragaman hayati laut dan potensi pulau-pulau kecil. Sumber daya alam apa saja yang terkandung di dalamnya, baik yang habis dipergunakan maupun yang renewable. Kemudian murid diberi wawasan bagaimana cara memanfaatkan dan melestarikannya agar tidak mengusik ekosistem yang ada.
Pepatah mengatakan, siapa yang belajar ilmu kelautan akan menguasai laut dan menguasai dunia. Suatu peradaban muncul dan berkembang pada awalnya dari wilayah pantai, di mana penduduknya memiliki kesempatan berinteraksi dengan pendatang asing. Akibatnya, budaya maritim menjadi luntur. Sayangnya, kita tidak menyadari hal itu, padahal untuk membangun budaya bangsa tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Seorang tokoh Inggris Lord Cunningham mengatakan “It takes a Navy three years to build a ship but it takes a nation three hundreds years to build a tradition.”
Selamat hari pendidikan nasional, dirgahayu Surabaya, Mari tumbuhkan jiwa bahari dan menjadikan kurikulum bahari dan ilmu kelautan bukan sekedar pelajaran ekstra kurikuler. Bangsa ini tidak boleh melupakan kodrat dan jatidiri sebagai entitas maritim. Ironi, jika Surabaya sebagai kota industri, dagang, maritim dan pendidikan (Indamardi), di sekolah tidak mempunyai kurikulum bahari dan penghuninya tidak mengenal budaya pesisir.

Opini ini dimuat di Harian Jawa Pos Sabtu, 08 Mei 2010
“Pelajaran Bahari di Ranah Maritim”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: