Oleh: Oki lukito | 27 Mei 2010

Menakar Moda Transportasi Laut

Tanjung Wangi idle capacity 90 persen

Kontroversi jalur Raya Porong akibat luapan lumpur Lapindo terus berlanjut. Pemprov Jawa Timur bersikukuh belum akan menutup jalan Raya Porong, kendati banyak desakan dari berbagai pihak agar jalur perekonomian utama itu ditutup demi keselamatan pengguna jalan. Sejumlah alternatip telah disiapkan untuk mengantisipasi jika poros wilayah timur pantura itu tidak dapat dilewati. Sayang dari semua alternatip itu masih land base oriented, tidak mempunyai kesungguhan memanfaatkan moda transportasi laut. Jika dicermati selama ini sistem transportasi di ranah bahari ini “pincang” hanya mengandalkan single moda yaitu transportasi darat. Akibatnya beban jalan semakin berat, jumlah angka kecelakaan lalu lintas di jalur pantura meningkat dan biaya perawatan jalan semakin mahal. Padahal Jawa Timur dengan garis panjang pantai 1.900 kilometer mempunyai keunggulan geografis . Luas wilayahnya yang sebagian besar laut seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana transportasi angkutan barang. Sementara jalan raya antardaerah maupun antarprovinsi seyogianya digunakan passengers only. Menurut catatan, setiap hari jalan Raya Porong dilewati sedikitnya 167 ribu kendaraan besar dan kecil, sedangkan jalur alternatip Mojosari-Krian hanya mampu menampung 60 ribu hingga 70 ribu kendaraan per hari. Kerugian eksportir yang melewati jalan Raya Porong dan terjebak kemacetan serta mengambil jalan alternatip Mojosari, Kabupaten Mojokerto, dengan jarak tempuh lebih jauh cukup besar. Sebagai ilustrasi, kontainer ukuran 20 feet harus mengeluarkan biaya tambahan Rp 150 ribu, kontainer 40 feet Rp 250 ribu sekali lewat. Jika melalui jalur alternatip, kontainer 20 feet mengeluarkan biaya lebih mahal yaitu Rp 250 ribu, sedangkan kontainer 40 feet Rp 350 ribu. Belum termasuk biaya tambahan di gudang eksportir dan pelabuhan serta pengiriman barang harus dipercepat sehari dari jadwal. Di Kota Probolinggo terdapat dua pelabuhan cukup besar, Tanjung Tembaga lama dikelola Pelindo III dan pelabuhan baru dengan kedalaman 10 meter dikelola Kantor Pelabuhan (Kapel) Probolinggo. Untuk sementara Pelabuhan Kapel Tanjung Tembaga dapat melayani kapal berbobot 2.500 DWT hingga di atas 5.000 DWT jika pembangunan Tahap II selesai dikerjakan pada tahun 2012.

Gerbang Laut

Dengan selesainya Tanjung Tembaga, Jawa Timur mempunyai tiga pintu gerbang laut setelah Tanjung Perak dan Tanjung Wangi, Banyuwangi. Angkutan barang dari Surabaya tujuan Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, Lumajang, Jember dan Malang maupun sebaliknya dapat dialihkan lewat laut dengan memanfaatkan Tanjung Tembaga. Kota-kota tersebut selama ini memberikan kontribusi ekonomi cukup besar bagi Jawa Timur. Demikian pula di Banyuwangi terdapat pelabuhan shipping ocean going yang dapat disandari kapal dengan bobot di atas 10 ribu DWT. Bahkan Pelabuhan Tanjung Wangi dilengkapi fasilitas terminal peti kemas, pergudangan dan Depo BBM. Sayang, sejak selesai dikerjakan lima tahun lalu, pelabuhan itu 90 persen idle capacity. Untuk menekan biaya tinggi yang selama ini menjadi momok pengguna jasa pelabuhan, dapat dilakukan dengan cara mendongkrak produktivitas, pengembangan fasilitas serta peningkatan layanan dengan standar internasional. Pemerintah Jawa Timur harus berani pasang badan menekan biaya tinggi di pelabuhan agar pengguna jasa efisien dan efektip serta merasa nyaman. Kapal yang dioperasikan juga tidak harus besar, untuk efisiensi cukup menggunakan Landing Cantainer Craft (LCC) dengan kapasitas angkut 15 kontainer ukuran 40 feet. Sementara Kapal Feri yang pernah digunakan transportasi Ujung-Kamal dapat difungsikan kembali dengan trayek Surabaya-Probolinggo-Banyuwangi PP untuk menekan kerugian akibat merosotnya jumlah penumpang paska Jembatan Suramadu. Sudah saatnya Jawa Timur mengembangkan potensi dan kemauan politiknya di sektor agro-maritim. Selama ini kita belum mempunyai rencana strategis membangun potensi wilayah maritim, baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang sebagai landasan memanfaatkan keunggulan geografis yang dimiliki tersebut. Perhatian kita terhadap jati diri sebagai bangsa bahari terabaikan, terbukti belum terkelolanya sistim transportasi laut secara memadai.

Opini ini dimuat di Harian Kompas, 27 Mei 2010 “Dari Lumpur Kembali ke Laut”


Responses

  1. Salam kenal…artikel yang bagus

    Dari artikel anda, jelas sekali bila dilihat dari segi environmental load, bahwa 167 ribu kendaraan per hari bisa menciptakan emisi C02 yang sangat besar (jika dilihat dari segi sustainability saja)….

    Sudah barang tentu dengan memanfaatkan pelabuhan tanjung wangi sebagai pintu gerbang alternatif selain tanjung perak maka cargo dari wilayah timur banyuwangi tidak perlu lagi “susah payah” ke tanjung perak….

    Tapi pertanyaan yang mendasar adalah, apakah dari kacamata seorang shipper (pengirim barang) pelabuhan tanjung wangi layak untuk disinggahi. For example, cargo dari wilayah timur jawa yang notabene lebih dekat ke tanjung wangi lebih memilih tetap melalui “jalur” lama yang di artikel anda disebutkan berpotensi merugikan (dengan adanya kasus lapindo tentunya)….

    Apakah artinya pelabuhan tanjung wangi tidak atraktif dari sisi ekonomi???

    hehe..pertanyaan ini tentunya harus dijawab oleh para policy maker jika memang niatnya adalah pengembangan ekonomi jangka panjang dan efisiensi penggunaan energi.

    Anyway..nice post!!!

    Hangga

    • Terimakasih sudah singgah, anda benar, intinya ships follow the cargo, salam bahari

      • jika ship follow the cargo, kepentingan pemerintahnya dimana ya?? ahh..bingung

      • Pemerintah harus memberikan prioritas investasi di daerah, salam bahari


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: