Oleh: Oki lukito | 3 Agustus 2010

Gizi Buruk dan Budaya Makan Ikan

Menunggu Pembeli di TPI Pancer, Banyuwangi

HASIL pemantauan Direktorat Bina Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan, Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), Nusa Tenggara Timur, dan Gorontalo sejak 2005 masuk dalam kategori sepuluh provinsi dengan kasus gizi buruk tertinggi. Penduduk Jateng pada 2006 dinyatakan paling banyak menderita gizi buruk.
Pada 2009, Jatim menduduki posisi teratas kasus gizi buruk nasional. Tahun ini, jumlah balita penderita gizi buruk di Jatim tercatat 77.500 orang. Angka tersebut mencapai 2,5 persen di antara 3,1 juta balita. Bahkan, angka balita yang kurang gizi jauh lebih tinggi. Yaitu, 527.000 anak atau 17 persen di antara total balita.
Jika ditelusuri, sebagian besar kasus gizi buruk terjadi di daerah pesisir yang sejatinya mempunyai sumber daya alam laut melimpah. Selama Januari-Juni 2010, tercatat ada 618.735 penduduk miskin di Kabupaten Jember. Empat di antara 43 pasien anak-anak penderita gizi buruk meninggal. Jember merupakan salah satu daerah produsen ikan laut terbesar di pesisir selatan Jatim.
Di Pulau Madura yang merupakan sentra perikanan tangkap dan budi daya, angka penderita gizi buruk masih cukup tinggi. Pada Januari-April 2010, tercatat sepuluh penderita gizi buruk di Kabupaten Pamekasan. Sebanyak 17 penderita gizi buruk di Kabupaten Bangkalan harus dirawat secara intensif.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) 2007, tingkat kemiskinan di Madura merupakan yang terparah di Jawa Timur. Laju pertumbuhan ekonomi di Madura juga paling lambat. Yakni, sekitar 4,8 persen (Surabaya 6,9 persen). Menurut survei Gerdu Taskin 2007, angka kemiskinan tertinggi di Jatim terdapat di Kabupaten Sampang dengan 51 persen penduduk miskin. Posisi kedua ditempati Kabupaten Pamekasan dengan 35 persen penduduk miskin.
Berdasar Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2008, terdapat 150.386 rumah tangga miskin (RTM) dan 540.678 penduduk miskin (PM) di Kabupaten Sampang. Kabupaten Pamekasan berada di urutan kedua dengan 109.017 RTM dan 362.017 PM. Kabupaten Bangkalan memiliki 97.519 RTM dan 331.838 PM. Kabupaten Sumenep mempunyai 11.049 RTM dan 33.231 PM. Produk domestik regional bruto penduduk Madura adalah Rp 2,875 miliar. Angka itu berbeda jauh jika dibandingkan dengan Surabaya yang mencapai Rp 67,6 miliar.
Kendati tingkat ekonominya cukup makmur, masyarakat Surabaya tidak terlepas dari kasus gizi buruk. Di kawasan Bulak, Surabaya, ditemukan 13 balita yang menderita gizi buruk dengan kondisi yang cukup memprihatinkan (Jawa Pos, 16/7). Ironisnya, di Kelurahan Kedungcowek, Kecamatan Bulak, terdapat sentra pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Sentra tersebut dibangun dengan biaya Rp 7 miliar.
Akar permasalahan gizi buruk adalah kemiskinan yang tidak teratasi, tingkat pendapatan dan pengetahuan yang rendah, kurangnya pemanfaatan SDM, meningkatnya pengangguran, serta inflasi. Sebagai provinsi maritim dengan luas perairan 208.138 kilometer persegi dengan potensi ikan laut 1,6 juta ton per tahun, sebenarnya, Jatim sangat unggul dalam produksi ikan dan makanan laut. Pada 2009, produksi perikanan tangkap mencapai 368.113 ton dan hasil budi daya 201.000 ton.
Sayang, sebagai lumbung ikan nasional, konsumsi produk seafood yang kandungan gizinya mencerdaskan sekaligus menyehatkan itu masih rendah. Tahun lalu tingkat konsumsi ikan di Jatim rata-rata 17,31 kilogram/kapita/tahun. Jumlah tersebut masih jauh dari kata ideal. Idealnya adalah 28,0 kilogram/kapita/tahun. Bandingkan dengan konsumsi ikan di Jepang yang mencapai 110 kilogram/kapita/tahun, Amerika Serikat 80 kilogram/kapita/tahun, Singapura 84 kilogram/kapita/tahun, serta Malaysia 45 kilogram/kapita/tahun.
Sampai saat ini, posisi Jepang sebagai negara pengonsumsi ikan terbesar di dunia masih tak tergoyahkan. Tak heran, Negara Matahari Terbit itu unggul dalam berbagai bidang. Umur harapan hidup rata-rata penduduk Jepang menempati posisi tertinggi di dunia. Yaitu, 76,3 tahun untuk pria dan 82,5 tahun untuk wanita.
Melihat kenyataan tersebut, seharusnya gerakan makan ikan mendesak dibudayakan lagi. Terutama untuk memenuhi kecukupan gizi balita. Sosialisasi budaya makan ikan sebaiknya melibatkan semua komponen masyarakat.
Komoditas ikan mempunyai kandungan protein berkisar 20-35 persen. Ikan menjadi sumber protein utama dalam konsumsi pangan. Ikan mengandung omega-3 tinggi yang melebihi produk hewani dan nabati lainnya. Ikan juga mengandung eikosapentaenoat (EPA) yang dapat mencegah penyakit yang berhubungan dengan kolesterol.
Omega-3 terbukti mencegah aterosklerosis dan penyakit jantung. Manfaat lainnya, meningkatkan kecerdasan otak dan memperbaiki penglihatan. Kandungan gizi lain dalam ikan dan produk laut adalah vitamin A, zat besi, kalsium, dan yodium. Zat-zat tersebut mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah penyakit gondok.

Opini ini dimuat di Harian Jawa Pos, 3-8- 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: