Oleh: Oki lukito | 5 Agustus 2010

Berharap Kebangkitan Koperasi Mina

Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) yang diluncurkan pemerintah untuk masyarakat pesisir, hingga kini belum menyentuh nelayan kecil. Program pendanaan dan permodalan yang digulirkan tersebut pada kenyataannya jauh dari jangkauan nelayan dan petambak. Keberadaan koperasi perikanan dan nelayan yang diharapkan menjadi penopang kegiatan ekonomi masyarakat pesisir semakin terpuruk. Jumlah koperasi perikanan yang aktif saat ini hanya 700 unit dari total 1.200 unit, sementara di Jawa Timur (Jatim) dari 83 unit koperasi nelayan yang aktif hanya 55 unit. Sejumlah koperasi yang masih aktif pun mengalami kesulitan membangun jaringan dengan perbankan. Jika dicermati alokasi kredit tahun 2009 untuk nelayan sangat rendah hanya Rp 2,08 triliun atau 0,002 persen dari total alokasi kredit UMKM sebanyak Rp 700,8 triliun. Demikian halnya daya serap nelayan dan pembudidaya ikan di bawah 5 persen. Hal ini antara lain karena prosedur pengajuan kredit yang rumit dan memerlukan jaminan. Di sisi lain UMKM umumnya hanya ingin diberi bantuan atau hibah, tidak terbiasa dengan prosedur yang panjang serta tidak mempunyai agunan.
Lain di tataran konsep, beda pula realitas di lapangnan. Dana pemerintah yang dititipkan pada bank atau lembaga keuangan lainnya belum efektif. Selain tidak tepat sasaran, ternyata juga mahal, tidak ada bedanya dengan kredit umum. Sebagai ilustrasi pada tahun 2009 Bank Jatim menyalurkan tiga jenis kredit yaitu, Penguatan Modal untuk sector budidaya, Anti Proverty Program serta dana Penguatan Permodalan Kredit Usaha untuk pengolahan dan pemasaran. Dana titipan APBN sebesar Rp 2 milyar itu sangat terbatas hanya untuk 21 petambak dan pengolah ikan, sementara jumlah petambak di Jatim sekitar 86.000 orang.
Di Kecamatan Beji dan Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuran, 38 petambak udang terpaksa gigit jari setelah permohonan kreditnya sebesar Rp 5 juta per orang ditolak bank karena terkendala jaminan. Masih di Kabupaten Pasuruan pula, KUD Mina Sumber Bahari Jaya yang mengelola Solar Packet Dealer Nelayan (SPDN) di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lekok, terpaksa gulung tikar dan menutup usaha menyalurkan solar untuk ribuan nelayan karena kesulitan mendapatkan modal. Kesulitan mengakses pinjaman dari bank juga dialami Feri, nelayan Pacitan yang merintis usahanya menjadi nelayan laut lepas sejak tahun 2006. Dengan 3 kapal purse-seine dan 4kapal sekoci, usahanya cukup maju. Setiap perahunya rata-rata menghasilkan 7 ton ikan selama 5 hari melaut. Usahanya itu mampu menghidupi 60 nelayan sebagai ABK. Akan tetapi permohonan kreditnya sebesar Rp 300 juta untuk membeli tanbahan perahu dan pembuatan rumpon laut dalam sebagai alat bantu penangkapan ikan di Samudra Indonesia, ditolak bank walaupun jaminannya berupa tiga sertifikat rumah senilai Rp 500 juta.

Menggerakkan TPI

Petani rumput laut di Desa Wongsorejo, Banyuwangi


Fakta di lapangan membuktikan kebijakan pemerintah untuk nelayan belum mencakup aspek politik dan ekonomi secara menyuluruh. Kebijakan yang diambil baru menyentuh permukaan, belum sampai ke kedalaman lautan persoalannya. Perbankan dengan berdalil risiko tinggi umumnya enggan mengucurkan kredit bagi usaha mikro kecil, dan menengah (UMKM) sektor kelautan dan perikanan. Padahal sejatinya bank belum mempunyai tenaga ahli yang menguasai usaha kelautan dan perikanan, sehingga dalil itu sebetulnya lebih didasarkan pada asumsi bukan fakta. Hasil pengamatan di beberapa daerah , penyebab tersendatnya koperasi mina, antara lain, minimnya permodalan dan kegiatan yang cenderung stagnan. Keberpihakan perbankan terhadap sektor perikanan juga masih lemah. Harus diakui pula Koperasi Mina kerap terganjal persoalan internal, yaitu kesenjangan kepentingan antara pengurus koperasi dan nelayan yang dinaunginya. Kepengurusan koperasi, masih didominasi oleh pedagang pengumpul atau pengusaha kapal, sehingga kepentinggan nelayan terabaikan. Koperasi nelayan yang disebut Koperasi Unit Desa (KUD) Mina seharusnya menjalankan fungsi pelelangan ikan atau mengelola TPI sebagai bagian dari unit kegiatan koperasi. Akan tetapi, sebagian besar KUD Mina di Jatim tidak berkembang dan tidak mampu menggerakkan TPI di bawah binaan daerah kabupaten atau kota tempat di mana TPI itu berada. Pada kenyataannya TPI berubah fungsi menjadi terminal ikan dan tempat penimbangan ikan, sementara operasional nelayan dan pemasaran ikan mengandalkan tengkulak, pedagang dan pengambek. Belum berdayanya peran koperasi menyebabkan sulit memutus rantai ketergantungan terhadap tengkulak. Melihat kenyataan itu, pemerintah perlu membentuk lembaga pembiayaan perikanan nonbank untuk usaha perikanan bersekala mikro yang dapat menjangkau sentra produksi perikanan. Lembaga ini harus mampu menggantikan fungsi tengkulak dengan fleksibilitas yang tinggi, mampu memberikan pelayanan setiap dibutuhkan dan dapat memberikan pinjaman singkat yang dapat dikembalikan secara tanggung renteng. Di samping itu mekanisme penjaminan kredit sebaiknya melibatkan pula pemerintah daerah dan diperlukan kesungguhan lembaga penjamin kredit, agar koperasi mina bangkit dari keterpurukannya, sesuai dengan Tema hari koperasi tahun ini “Koperasi Bangkit untuk Kesejahteraan Rakyat”.

Opini ini dimuat di Harian Kompas, 5 Agustus 2010


Responses

  1. Bantuan dana bergulir Menkop tahun 2003 kepada KUD-KUD di Jatim hanya omong kosong. Dalam Laporan pertanggungjawaban tahunan KUD2 tersebut selalu mencantukan kekayaan koperasi berupa kapal senilai 4,3 tapi anggota KUD maupun pengurus koperasi dari kalangan nelayan itu hingga saat ini tidak tahu wujud kapalnya.
    Dana bergulir dari Menkop untuk KUD Nelayan di seluruh jatim senilai 93M di kelola PUSKUD Mina Jatim, aneh Milik Koperasi yang ada di kabupaten/kota justru pengelolanya PUSKUD Mina Jatim dan KUD2 sebagai pemilik malah di lapori merugi dalam beberapa tahun. Mulai tahun 2006 hingga sekarang. Tolong KPK Menindak lanjuti bantauan pada KUD-KUD itu yang di duga diselewengkan oleh Puskud Mina Jatim.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: