Oleh: Oki lukito | 19 Agustus 2010

Melecehkan Jati Diri Bangsa 

Di tengah suasana keprihatinan yang mendalam, pernyataan Presiden pertama RI di bawah ini patut direnungkan di tengah suasana peringatan kemerdekaan. “Suatu bangsa apabila kehilangan jati dirinya, maka bangsa tersebut tidak akan mampu bertahan hidup bahkan akan punah”. Kita merasakan bersama kondisi ekonomi dan sosial bangsa yang pernah digdaya sebagai kerajaan agro-maritim itu, saat ini tidak bertambah baik. Martabat bangsa yang dilecehkan, kemiskinan, dekadensi moral dan utang negara yang mencapai Rp 1.600 triliun, adalah tragedi yang akan diwarisi oleh anak-cucu kita. Kondisi negara saat ini ibarat bahtera yang melaju oleng didera badai krisis multi dimensi. Sejatinya apa yang melanda negeri ini karena kita belum mensyukuri nikmat berupa kekayaan sumber daya alam laut yang melimpah. Perhatian terhadap jati diri sebagai bangsa bahari yang mengalami kemunduran sejak abad ke-18 itu, terabaikan. Perjalanan 65 tahun Proklamasi Kemerdekaan, sejujurnya harus diakui tradisi besar kelautan yang melekat pada nenek moyang bangsa ini berabad-abad lampau, jauh sebelum bangsa kolonial sampai ke nusantara, kenyataannya tenggelam. Selama merdeka, belum ada upaya serius membangun kembali budaya bahari yang terpuruk sejak akses masyarakat untuk berhubungan dengan laut dibatasi oleh pemerintahan kolonial. Sebaliknya, pembangunan yang cenderung landbase oriented telah menggerus eksistensi budaya bahari yang pernah mengakar itu.

Keamanan Laut
Indonesia seharusnya menumbuhkan kembali semangat pendahulunya agar tidak menjadi bangsa yang mengingkari kodratnya. Sebagai negara kepulauan seharusnya kita fokus membangun sektor maritim untuk kepentingan bangsa secara keseluruhan. Selama ini kita lalai menjaga keamanan teritorial laut dan lengah mengantisipasi perdagangan maritim global. Misalnya, sebagai anggota Dewan Organisasi Maritim Internasional (IMO), kita tidak bisa menangkap momentum kebangkitan perdagangan Asia Pasifik yang meningkat tajam. Padahal posisi geografis negara ini sangat strategis berada di persimpangan benua Australia dan Asia dan diapit dua samudera, Pacific dan Samudra Indonesia. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini telah terjadi pergeseran ekonomi dunia dari Samudera Atlantik ke Pasifik, di mana 75 persen komoditas perdagangan dunia melintasi perairan Indonesia. Ironisnya, industri pelayaran nasional justru terpuruk karena kalah bersaing dengan perusahaan pelayaran asing. Sementara implementasi Undang-Undang No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran masih sulit diterapkan. Sebagai negara kepulauan (Archipilagic State) dengan jumlah pulau yang fantastis, 17. 480 pulau,Indonesia tercantum dalam konvensi hukum laut PBB (UNCLOS) yang disetujui oleh117 negara sejak 28 tahun lalu, tepatnya tanggal 10 Desember 1982. Akan tetapi kita kurang serius memanfaatkannya. Padahal UNCLOS yang diawali lahirnya Deklarasi Djoeanda Kartawidjaya 13 Desember 1957 itu, merupakan prestasi terbaik bangsa ini dalam memperjuangkan konsepsi negara kepulauan. Akibatnya, isu batas laut dengan 10 negara tetangga dan pulau terdepan tidak maksimal tertangani. Dari 92 pulau terdepan, 12 diantaranya bermasalah dengan India, Vietnam, Timor Leste, Palau, Australia, Malaysia, Singapura dan Filipina. Demikian pula apabila kita tidak tegas terhadap isu keamanan laut, seperti isu Selat Malaka dan Alur Laut Kepulauan (ALKI), maka akan menimbulkan kerawanan intervensi asing. Tidak mengherankan jika sewaktu-waktu insiden Kapal Induk USS Carl Vinson Juli 2003 di perairan Bawean, Jawa Timur bisa terulang kembali. Pelecehan di laut yang mencoreng martabat bangsa terjadi pula ketika kapal perang China dibiarkan memasuki wilayah ZEEI di perairan Natuna. Kita pun hanya bisa meradang ketika Negara Pecundang Malaysia melecehkan di perairan Tanjung Berakit dan kapal perang Malaysia bermanuver di perairan Laut Sulawesi dalam peristiwa Ambalat. Lebih menyakitkan lagi, kita menjadi saksi sejarah lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan di Mahkamah Internasional Den Haag, 17 Desember 2002. Sebagai pewaris bangsa bahari yang pernah menguasai lautan di era Sriwijaya (683-1030) dan Majapahit (1293-1478), semua peristiwa itu sangat menampar kita. Seolah bangsa ini tidak berdaya menjaga kedaulatan negaranya. Peristiwa itu hendaknya menjadi pelajaran mahal agar tidak lagi menyia-nyiakan potensi maritim yang dimiliki.

Terbelenggu
Indonesia dengan770 suku bangsa, 726 bahasa daerah dan 19 daerah hukum adat, merupakan negara kepulauan tropis terbesar di dunia. Garis pantainya 95.150 kilometer, terpanjang ke-4 setelah Amerika Serikat, Kanada dan Rusia Federasi. Luas wilayah perairan mencapai 3,2 juta kilometer persegi (Km2), ditambah hak atas sumber daya laut di perairan ZEE seluas 2,7 juta Km2, memiliki potensi perikanan sebesar 6,7 juta ton setiap tahun. Akan tetapi ikan dan hasil kekayaan laut lainnya serta jalur perniagaan di laut nusantara lebih banyak dimanfaatkan oleh asing. Kekayaan laut yang membentang amat luas dari sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote itu, menyimpan kekayaan ikan yang sangat luar biasa. Kekayaan itu merupakan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan bangsa apabila dikelola dengan cerdas dan arif. Sangat disesalkan bangsa ini terbelenggu warisan kolonial, bahwa anak-anak negeri ini bukanlah bangsa bahari dan telah melupakan jati dirinya. Sebagai penutup tulisan ini, kita perlu menyimak pesan dan harapan Presiden Soekarno pada sambutan pembukaan Institut Angkatan Laut tahun 1951. “Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali, bangsa pelaut dalam arti yang seluas-luasnya, bangsa pelaut yang memiliki armada niaga, bangsa pelaut yang memiliki armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri”. Dirgahayu !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: