Oleh: Oki lukito | 17 Oktober 2010

Nilai Tukar Nelayan Tidak Relevan

NTN tinggi, nelayan tetap miskinSalah satu usaha pemerintah memperbaiki kehidupan nelayan adalah dengan menetapkan Nilai Tukar Nelayan (NTN). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) sejak tahun 2008 telah menghitung NTN per provinsi. Sedangkan di Jawa Timur (Jatim) penetapan NTN dilakukan lebih awal, yaitu tahun 2006 yang dibiayai APBD provinsi. Kelompok masyarakat pesisir yang sering dikatagorikan mayoritas masyarakat miskin itu, diharapkan memiliki ukuran nilai tukar yang lebih akurat dan obyektif. Dengan NTN kondisi nelayan dapat lebih jelas dilihat setiap bulan, baik dalam musim paceklik atau musim panen. Tingkat kesejahteraan pekerja di sektor kelautan dan perikanan akan lebih mudah diketahui termasuk berbagai faktor ekonomi yang memengaruhinya. Dengan kata lain, NTN digunakan untuk mempertimbangkan seluruh penerimaan (revenue) dan seluruh pengeluaran (expenditure) keluarga nelayan, selain mengukur secara relatif tingkat kesejahteraannya. Mencermati data yang tercatat di BPS sejak tahun 2006, perkembangan NTN di Jatim sebetulnya cukup menggembirakan dengan capaian di atas angka 100. Tahun 2008 NTN tercatat sebesar 139,97, tahun 2009 sebesar 141,25 dan pada bulan September 2010 kendati nelayan pada umumnya banyak yang tidak melaut karena cuaca buruk, NTN cukup tinggi sebesar 145,35. Artinya, apabila NTN lebih dari 100 maka menurut teori nelayan seharusnya mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsi atau pendapatan nelayan naik lebih besar dari pengeluarannya. Hal ini menunjukan pula bahwa perkembangan harga ikan segar yang dihasilkan nelayan masih lebih tinggi dari harga kebutuhan hidup sehari-hari. Seharusnya dengan tingkat perkembangan harga ikan yang lebih baik dari harga barang dan jasa konsumsi rumah tangga nelayan, dapat memberikan dampak terhadap tingkat kesejahteraannya. Akan tetapi biasanya harga ikan yang tinggi cenderung berkaitan dengan tingkat produktivitas yang rendah sehingga menyebabkan kebutuhan sehari-hari mengalami kenaikan. Secara logika dengan harga ikan yang tinggi, maka nelayan dapat meraup lebih banyak pendapatan. Namun hal itu hanya dinikmati oleh sebagian kecil nelayan saja terutama yang memiliki armada dan alat penangkapan yang lebih modern. Sebaliknya bagi nelayan tradisional, kenaikan harga tidak bisa dinikmati karena terbatasnya kapasitas barang modal yang rentan terhadap pengaruh cuaca. Perlu diketahui jumlah nelayan Jatim tahun 2009 tercatat 455.041 orang , 80 persen adalah nelayan tradisional. Sedangkan apabila NTN sebesar100, berarti nelayan mengalami impas. Kenaikan atau penurunan harga produksinya sama dengan kenaikan atau penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan nelayan sama dengan pengeluarannya. Sedangkan jika NTN kurang dari 100 berarti nelayan mengalami defisit, kenaikan harga produksi relatip lebih kecil dibandingkan kenaikan harga barang yang dikonsumsi.

Tak sesuai
Sementara indikator lainnya yang digunakan menghitung penerimaan dan pengeluaran keluarga nelayan , patut disesalkan hanya berdasarkan pengamatan di enam wilayah pesisir yang tidak pernah berubah selama lima tahun (2005-2010) . Yaitu di Kabupaten Trenggalek dan Banyuwangi mewakili pantai selatan. Sedangkan Situbondo, Tuban, Lamongan, dan Pamekasan mewakili wilayah perairan pantura yang kondisi perairannya overfishing. Sehingga NTN tidak relevan untuk dijadikan indikator tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir, sebab ada 22 daerah dari 38 kabupaten dan kota di Jatim memiliki wilayah laut. Demikian pula halnya dengan data penghasilan nelayan perlu dipertanyakan keakuratannya. Misalnya, hasil survei BPS tahun 2005 yang diperoleh dari Diskanla Jatim, penghasilan nelayan sebesar Rp 3,7 juta, tahun 2006 Rp 3,9 juta, tahun 2007 Rp 4 juta. Sehingga dapat diasumsikan rata-rata penghasilan nelayan kurang dari Rp 15.000 per hari. Menurut standar Bank Dunia keluarga miskin adalah keluarga yang berpenghasilan kurang dari 2 dolar AS per hari . Akan tetapi jika menyimak data BPS pada tahun 2008 dan 2009, dapat disimpulkan nelayan Jatim bebas dari belenggu kemiskinan. Penghasilan nelayan pada tahun 2008 mengalami peningkatan fenomenal sebesar Rp 2,9 juta dari tahun sebelumnya. Tahun 2008 penghasilan nelayan tercatat Rp 7 juta dan pada tahun 2009 Rp 7,1 juta . Jika diasumsikan dalam satu bulan nelayan melaut 25 hari, maka penghasilan nelayan per bulan pada tahun 2008 sebesar Rp 548 ribu atau Rp 23 ribu per hari. Hal itu kontras dengan rata-rata pertumbuhan indikator kesejahteraan nelayan tahun 2008 yang minus 0,1 persen per bulan. Nilai ini di bawah nilai nasional yang tumbuh 0,4 persen, bahkan di Jawa pertumbuhan NTN Jatim nomor dua terkecil setelah Provinsi Banten. Di lihat dari pertumbuhan NTN tahun ini yang rata-rata hanya 0,3 persen per bulan, kehidupan nelayan di Jatim dapat dipastikan masih miskin. Angka pertumbuhan tahun 2010 sangat kecil dibanding pertumbuhan tahun 2009 dalam periode yang sama sempat mencapai 31,3 persen. NTN Jatim bulan Juli 2010 tercatat sebesar 141,37 atau turun 0,98 persen dibanding NTN bulan Juni 2010. Penurunan ini disebabkan indeks harga yang diterima nelayan naik sebesar 0,13 persen, lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar nelayan sebesar 1,12 persen. Rendahnya pertumbuhan NTN Jatim tidak sepadan dengan potensi dan luas perairannya. Sebagai ilustrasi tahun 2009, perairan selatan yang luasnya dua kali perairan utara hanya berproduksi 93.479 ton. Sedangkan potensi perikanan tangkap mencapai 1,6 juta ton per tahun. Dengan jumlah 61.551 armada penangkapan dan alat tangkap 219.320 unit, produksi ikan segar hasil penangkapan di laut mencapai 368.113 ton dengan nilai Rp 2,7 triliun.

Opini ini dimuat di Harian Kompas, 21-10-2010 ” Relevankah Nilai Tukar Nelayan Jawa Timur? ”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: