Oleh: Oki lukito | 2 November 2010

Berbagi Kemiskinan di Pesisir

Jika benar angka kemiskinan di Jawa Timur turun seperti yang dirilis Biro Humas Pemprov Jatim, hal itu tentunya berita yang sangat menggembirakan. Paling tidak janji kampanye Pilkada pasangan Pak De-Gus Ipul “APBD Untuk Rakyat” bukan sekedar pemanis bibir. Angka kemiskinan selama setahun (2009-2010) dinyatakan menyusut 493.290 jiwa, atau menyumbang 32,74 persen dari total penurunan angka kemiskinan nasional sebesar 1.506.800 jiwa. Penurunan tersebut diklaim sebagai salah satu keberhasilan pengentasan kemiskinan, antara lain melalui program Jalinkesra (Jalan Lain Menuju Kesejahteraan Rakyat). Pada Perubahan APBD Jatim tahun 2010 dianggarkan pula program bantuan untuk 116.643 Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) dari total 493 ribu RTSM sebesar Rp 325 miliar. Patut disayangkan, implementasi program Jalinkesra itu tercoreng oleh kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprov Jatim yang tidak maksimal. Hal itu terbukti, pendataan penduduk miskin sektor perikanan tidak dilakukan sebagaimana mestinya dan terkesan kurang serius. Hasil pendataan Bappemas Jatim dan lembaga kajian sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya itu harus diverifikasi. Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) mencatat, hasil rekapitulasi sebelumnya tidak sesuai dengan kenyataan sebab banyak diantaranya tidak didata petugas survei dengan benar. Hal itu terungkap di ranah nelayan, petambak dan pengolahan ikan. Antara lain, di wilayah Gresik, Sumenep, Tuban, Surabaya dan Malang. Ironi, masyarakat miskin masih dijadikan obyek dalam proyek kemiskinan. Pendataan seharusnya melibatkan Ketua RT, RW serta Kepala Desa, kemudian diverifikasi oleh SKPD bersangkutan. Cara ini memang membutuhkan waktu dan memerlukan biaya cukup besar. Akan tetapi hasilnya diyakini akan maksimal sehingga bantuan untuk rakyat miskin bisa tepat sasaran. Demikian pula besaran nilai bantuan kurang signifikan sebab tanpa dianalisa, hasilnya tidak akan mengubah kondisi ekonomi masyarakat pesisir yang termarjinalkan itu. Misalnya, bantuan nelayan yang membutuhkan perahu nilainya sama dengan petani yang membutuhkan bibit padi atau bantuan untuk membeli pupuk. Di sisi lain, kendati bantuan yang diberikan disesuaikan dengan aspirasi masyarakat, hal itu diyakini belum bisa memicu perubahan fundamental ekonomi masyarakat pesisir yang mayoritas nelayan tradisional. Sebagai ilustrasi, wilayah perairan di bawah 200 mil yang overfishing atau padat tangkap tidak memungkinkan perahu di bawah 30 Gross Tonnage (GT) mendapatkan hasil maksimal. Keinginan warga memang beragam, ada yang memilih sampan dan jukung (panjang 6 meter, lebar 0,6 meter), atau perahu 3 GT (panjang 8 meter, lebar 0,8 meter) serta alat tangkap berupa jaring. Menurut spesifikasi pekerjaan, perahu harus dibuat dari kayu bengkirai (shorea laevifolia endort) yang di pasaran resmi harganya Rp 4,5 juta per meter kubik. Sedangkan untuk membuat satu perahu sedikitnya dibutuhkan 3 meter kubik kayu. Sebagai referensi jenis kayu ini rentan serangan hama air laut dan kurang elastisitasnya, serta tergolong jenis kayu yang mudah lapuk terkena air laut. Lain cerita jika menggunakan Kayu Bawangan atau Ketapang yang tahan terhadap hama air laut serta usia perahu bisa lima tahun lebih. Selain Jukung dan Sampan, nelayan juga dibuatkan perahu 3 GT untuk dimanfaatkan secara berkelompok (8-10 orang). Perahu yang dilengkapi mesin 24 PK dan jaring seperti Gillnet itu daya jangkaunya terbatas hanya 12 mil laut. Nilai total bantuan yang dialokasikan untuk sektor perikanan Rp 13 miliar digunakan untuk pengadaan perahu 240 unit sebesar Rp 7 miliar dan pembelian jaring Rp 1,7 miliar. Sisanya untuk pembudidaya tambak dan bantuan modal peralatan pengolahan hasil perikanan yang setiap keluarga (KK) mendapat bantuan senilai Rp 2,5 juta.

Tidak Sinkron
Kepedulian Pemprov Jatim menyentuh masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil perlu diapresiasi. Pengadaan perahu nelayan di bawah 30 GT itu sayangnya, tidak sinkron dengan program nasional yaitu Restrukturisasi Kapal Nelayan. Restrukturisasi menjadi salah satu program Kementerian Kelautan dan Perikanan paska 100 hari pemerintahan SBY Kabinet Pembangunan II. Perahu tanpa motor milik nelayan berbobot mati di bawah 30 GT secara bertahap akan dihapus dan diganti kapal motor 30-50 GT. Jawa Timur diberi target merestruktur 13 ribu lebih kapal hingga tahun 2014. Di provinsi yang terdiri dari 446 pulau ini terdapat lebih dari 53 ribu armada nelayan, 13 ribu di antaranya jenis perahu skala kecil tanpa motor yang hanya bisa melaut 12 mil dari garis pantai. Lebih dari 80 persen merupakan armada tradisional beroperasi di pantura (Laut Jawa, Selat Bali dan Selat Madura) yang kondisinya overfishing, serta di Samudra Indonesia. Program restrukturisasi kapal nelayan dimaksudkan agar supaya mendorong aktivitas nelayan menuju laut lepas. Kapal nelayan di atas 30 GT dapat menjangkau perairan 200 mil yang kaya jenis ikan ekonomi seperti tuna, kakap dan cakalang. Demikian pula penjadwalan anggaran pengadaan bantuan seharusnya direncanakan secara matang, kurang tepat dianggarkan dalam perubahan anggaran (PAPBD) yang waktunya sangat singkat. Besar kemungkinan hasilnya akan memengaruhi kualitas bantuan yang diberikan, sebab pada umumnya pembuatan sebuah perahu membutuhkan waktu 1 hingga 1,5 bulan. Kekhawatiran 15 peserta lelang pekerjaan yang rawan manipulasi dan terkesan dipaksakan itu cukup masuk akal. Proyek yang tidak direncanakan dengan baik itu lebih pantas disebut program berbagi kemiskinan karena diragukan efektifitasnya. Selain itu program Jalinkesra sektor perikanan dalam perubahan anggaran tahun 2010 tersebut, rentan mendapat sanksi hukum sebab harus diselesaikan dalam waktu relatif singkat (60 hari) dengan margin yang kecil.


Responses

  1. menyedihkan…

    padahal kita tinggal di negeri penuh dengan sumber daya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: