Oleh: Oki lukito | 13 Desember 2010

“Si Bongkok” Tidak Berdaya di Ranah Bahari

Ulasan saudara Edy S S Koto di Harian Kompas (10/12) dengan judul Meningkatkan Kontribusi Produksi Udang Jatim menggelitik saya untuk menanggapinya. Peluang Jawa Timur untuk meningkatkan produksi udang sesungguhnya bukan hal yang mustahil jika ditinjau dari potensi geografis provinsi di ujung timur Pulau Jawa ini.
Bayangkan, dari 38 kabupaten dan kota, 22 daerah di antaranya mempunyai wilayah pesisir, ranah di mana ”si bongkok” udang selama ini dibudidayakan. Lokasi tambak udang tersebar bukan hanya di Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Banyuwangi saja, melainkan juga di Surabaya, pesisir utara dan selatan Pulau Garam, serta Kepulauan Madura yang dikelilingi laut Jawa dan Selat Madura.
Budidaya udang vannamei juga terdapat di pesisir Kabupaten Gresik, Lamongan, serta Tuban. Jika dilihat dari kondisi itu, sebetulnya Jawa Timur sangat potensial menjadi leading sector industri udang nasional.
Sebagai ilustrasi, luas tambak di Jawa Timur 57.343 hektar dengan produksi perikanan 68.248 ton per tahun, 16.783 ton di antaranya adalah udang. Akan tetapi, pengembangan produksi udang di Jatim terhambat oleh rusaknya lingkungan pesisir dan buruknya infrastruktur.
Data dari Dinas Perikanan dan Kelautan menyebutkan, dari luasan tambak tersebut, seluas 21.201 hektar di antaranya saat ini menganggur (idle), sebagian besar adalah tambak udang yang berlokasi di pantai utara (pantura). Di samping itu, dari 704,87 kilometer (km), panjang saluran tambak yang rusak mencapai 206,8 km.
Data Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), pada tahun 2009 lalu produksi udang Jatim terpuruk hingga 40 persen dan terjadi penurunan ekspor hingga 30 persen di banding tahun 2008. Merosotnya produksi udang selama lima tahun terakhir, antara lain lebih disebabkan oleh degradasi lingkungan, penyakit, dan virus yang merebak hampir di semua sentra budidaya air payau dan usaha budidaya laut (marine culture).
Hasil kajian Balai Pengembangan Budidaya Air Payau di Pasuruan yang belum dipublikasikan menyebutkan, limbah industri sepanjang pantai utara, termasuk buangan lumpur Lapindo, telah mencemari Selat Madura dan menyebabkan kadar polutan air laut melebihi ambang batas untuk bahan baku tambak.

Gulung tikar

Sebagaimana diketahui, udang dikenal sangat sensitif terhadap air yang tercemar dan perubahan suhu sehingga mudah terserang virus. Pencemaran air sulit diatasi karena tambak berada di pesisir pantura dan muara sungai merupakan tempat beragam limbah berakumulasi.
Selain itu, penumpukan konsentrat kimia (residu) berasal dari pakan dan cara budidaya yang kurang baik serta benur yang tidak sehat, urut serta meracuni udang. Daerah Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo dan Banyuwangi di sepanjang pesisir Selat Madura, yang dulu menjadi sentra produksi nener hingga mencapai 60 juta ekor per tahun yang dihasilkan oleh 47 hatchery swasta, kondisinya saat ini terpuruk. Produksinya merosot 50 persen lebih, sebagian besar hatchery juga terpaksa gulung tikar.
Sungguh memprihatinkan, induk vannamei Nusantara I (produk tahun 2009) dan Global Gen produksi Balai Produksi Induk Udang di Situbondo dan Karang Asem, Bali, yang konon tahan penyakit dan virus myo itu ternyata harganya hampir sama mahalnya dengan induk impor, yakni 40 dollar AS per ekor.
Jika tidak hati-hati membudidayakannya, program itu dikuatirkan akan mengorbankan petani tambak. Apalagi benur jenis tersebut harganya di pasaran lokal lebih mahal dari benur impor dengan kualitas sama. Pilihan revitalisasi tambak udang vannamei dinilai cukup berani, mengingat dalam lima tahun terakhir produksi udang Jawa Timur merosot tajam.
Program revitalisasi tambak di Jatim sebenarnya pernah dilakukan pula tahun 2005. Tahun ini dianggarkan Rp 200 miliar dan ditargetkan seluas 1.000 hektar sampai tahun 2015.
Jika dicermati, revitalisasi tambak 1.000 hektar berorientansi pada segi produktivitas dan hanya bisa dijangkau oleh petambak intensif, super intensif atau industri skala besar yang padat modal. Program revitali- sasi udang seyogianya tidak meminggirkan petambak tradisional yang miskin dan terpuruk karena terkendala modal dan teknologi.
Di sisi lain, melihat kenyataan di atas sebaiknya program revitalisasi menimbang kembali komoditas udang vannamei yang walaupun menjanjikan, tetapi mempunyai risiko tinggi. Mengapa kita tidak memacu kembali udang windu (Peneus monodon) dengan pola polyculture atau silvo fishery (wana mina) yang ramah lingkungan itu?
Udang windu memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional karena dihasilkan melalui pola budidaya organik. ”Si bongkok” atau black tiger—sebutan lain udang windu– memiliki peluang usaha cukup baik untuk konsumen lokal dan luar negeri. Harga jual udang windu tergolong tinggi. Harga udang windu saat ini mencapai Rp 150.000 per kg, berisi 10-15 ekor per kg.
Jenis udang lokal itu seharusnya dibudidayakan di wilayah pesisir selatan atau di perairan sekitar pulau-pulau kecil yang kualitas airnya jauh lebih baik dari Selat Madura. Sebelum dimassalkan, budidaya udang windu yang kini sukses dikembangkan oleh Vietnam, sebaiknya dicoba di pulau-pulau kecil seperti Pulau Bawean atau Kangean yang ekosistem pesisirnya masih terjaga dengan baik.


Opini ini dimuat di Harian Kompas, Senin 13 – 12-2010 “Tidak Berdaya di Ranah Bahari”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: