Oleh: Oki lukito | 17 Januari 2011

Kontroversi Teluk Lamong

Pelabuhan Bawean

Pengembangan Pelabuhan Teluk Lamong terus menuai kontroversi. Sejak dilakukan perencanaan tahun 1994, pengembangan Kawasan Tanjung Perak-Gresik untuk mengantisipasi stagnan di Tanjug Perak itu, sarat dengan masalah. Sebelum ditolak oleh Pemkab Gresik (Jawa Pos (15/1), pembangunan kawasan Teluk Lamong yang meliputi pelabuhan Lamong, waterfront city dan terminal peti kemas, mencuatkan polemik antara Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya.
Awalnya, sesuai dengan ijin Menteri Perhubungan tahun 1997, PT Pelindo III akan mereklamasi perairan pantai di Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelabuhan Gresik seluas 350 ha. Akan tetapi pada tahun 2005, Gubernur Jatim menyetujui reklamasi lahan hanya 50 Hektar. Pada September 2010, gubernur menetapkan pembangunan Terminal Multipurpose Teluk Lamong sebagai Proyek Prioritas Utama dan Strategis.
Biayanya dicanangkan sebesar Rp 6,5 triliun. Tahap pertama, pembangunan zona dermaga dan terminal peti kemas, menelan investasi Rp 2,5 triliun. Tahap kedua, pembangunan kawasan industri seluas sekitar 60 ha, menelan investasi Rp 1,5 triliun. Tahap ketiga, mewujudkan kawasan industri dan fasilitas umum antara lain sarana rekreasi, lahan parkir, dan pariwisata air dianggarkan Rp 3,5 triliun.
Pembangunan mega proyek di perbatasan Surabaya dan Gresik tersebut diharapkan dapat mengantisipasi terjadinya beban lebih di Pelabuhan Tanjung Perak. Hal yang sama dimunculkan kembali saat ini setelah Pemprov Jatim memberi lampu hijau kelanjutan proyek ambisius yang sarat muatan politis itu. Akan tetapi, prediksi kelebihan kapasitas itu ternyata tidak terbukti. Daya tampung Pelabuhan Tanjung Perak masih aman, bahkan terjadi penurunan shipping ocean going sejak Oktober 2008.
Pembangunan Terminal Lamongbay Multipurpose merupakan salah satu upaya Pelindo III meningkatkan pertumbuhan handling petikemas di Tanjung Perak sebagai Hub Port, terutama handling petikemas domestik. Upaya lainnya yaitu membangun Terminal Nilam Multipurpose, Terminal di Sampit Bagendang dan Bumiharjo Kumai, serta dermaga Trisakti di Banjarmasin. Perlu diketahui pada akhir tahun 2009, Pelindo III mengalami penurunan handling petikemas internasional yang berpengaruh pula pada pendapatan yang turun sekitar 3 persen. Namun di sisi lain terdapat kenaikan produktivitas handling petikemas Domestik sekitar 18 persen.

Menyimpang
Sikap Pemprov Jatim yang semula menolak dan kemudian menyetujui pengembangan kawasan Teluk Lamong dinilai tidak konsisten. Sebab sesuai dengan pengembangan kawasan Madura, perluasan Pelabuhan Tanjung Perak direncanakan di Tanjung Bulu Pandan, Kabupaten Bangkalan sejalan dengan selesainya Jembatan Suramadu. Pemprov Jatim berdalih, Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 1996 tentang Tata Ruang menetapkan perluasan pelabuhan Surabaya ke arah wilayah Kabupaten Bangkalan, Madura. Sementara kawasan Teluk Lamong dinyatakan sebagai kawasan konservasi.
Keberatan Pemkab Gresik pun cukup beralasan. Pasalnya, pembangunan di Teluk Lamong selain tidak memberikan nilai tambah, akan membebani Kali Lamong yang telah kehilangan fungsinya. Setiap musim hujan luapan air Kali Lamong selalu merepotkan warga yang tinggal di Gresik Selatan dan Surabaya Barat. Ratusan rumah, tambak, dan persa¬wah¬an langganan terendam air hingga setinggi satu meter. Amuk Kali Lamong merambah sedikitnya empat kecamatan, Benjeng, Cerme, Menganti dan Kedamean. Sementara di Surabaya, luapan air kerap merusak ratusan hektar tambak di Tambakdono Pakal, Kecamatan Benowo. Disamping itu Pemkab Gresik juga sudah memiliki pelabuhan umum dan peluhan pelabuhan khusus di pesisir utara yang behadapan dengan Laut Jawa.
Reklamasi Teluk Lamong juga mengundang reaksi dari sejumlah organisasi lingkungan. Reklamasi dikhawatirkan akan merusak ekosistem pesisir, di antaranya hutan bakau (mangrove). Rusaknya hutan bakau sebagai penyeimbang dan penyangga ekosistem pesisir dan laut mengancam sumber kehidupan ribuan nelayan, petani tambak dan petani garam sebagai pewaris budaya bahari di Gresik serta Surabaya. Sebagai referensi, banyak kasus reklamasi pantai akhirnya menjadi masalah. Reklamasi Pantai Kapuk di Jakarta, misalnya, rutin menenggelamkan beberapa wilayah di kawasan pesisir Jakarta dan sekitarnya pada musim hujan. Hal itu sudah terjadi di Surabaya dan Gresik.
Selain itu perairan menuju Pelabuhan Teluk Lamong yang juga merupakan alur masuk utama Pelabuhan Tanjung Perak, dalam kondisi parah karena sedimentasi dan ratusan bangkai kapal tenggelam. Di perairan tersebut, kapal harus antre agar tidak kandas di perairan dangkal. Kapal yang bisa masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak hanya bermuatan 2.000 TEU, sedangkan kapal berkapasitas 5.000-13.000 TEU membutuhkan kedalaman perairan minimal 15 meter.
Pada masa depan, kapal yang beroperasi rata-rata bertonase di atas 100 ribu ton dan hanya bisa dilayani pelabuhan yang mempunyai kedalaman lebih dari 15 meter. Demikian pula dengan fasilitas yang ada. Idealnya pelabuhan pusat internasional memiliki terminal khusus kontainer, curah cair, dan terminal penumpang tersendiri.
Sebagai gambaran, kapal kontainer generasi ketiga sudah dioperasikan. Panjangnya lebih dari 300 meter dan kapasitasnya 8.500 TEU. Sementara itu jalur pelayaran menuju Pelabuhan Tanjung Perak, tepatnya di buoy 8, tidak aman bagi pelayaran karena lebar alur hanya 100 meter dengan kedalaman 9 meter. Akibatnya, kapal harus melintas bergantian. Jika perairan Selat Madura yang menuju Pelabuhan Tanjung Perak tetap dangkal, prospek bisnis pelabuhan tersebut akan suram.
Pelabuhan merupakan pintu gerbang menuju persaingan bebas di era yang semakin global. Persoalan timbul ketika Pemerintah Kota/ Kabupaten tidak mempunyai kewenangan dalam mengatur pelabuhan yang secara geografis ada di wilayahnya. Sementara Undang-undang Otonomi Daerah, secara jelas mengatur kewenangan Pemerintah Daerah yang meliputi masalah pelabuhan yang sangat penting bagi upaya menggerakkan, meningkatkan potensi ekonomi daerah.


Responses

  1. Artikel Bagus


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: