Oleh: Oki lukito | 7 Februari 2011

Berlomba Bangun Pelabuhan

Sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban, Sumenep, Banyuwangi, Sampang, Pamekasan dan Kota Probolinggo serta Pacitan sedang berbenah membangun pelabuhan untuk membenahi transportasi lautnya.  Dalam APBD Jatim  tahun ini dianggarkan untuk membantu membiayai pembangun Pelabuhan di Desa Batukerbuy Kecamatan Pasean,  Kabupaten Pamekasan, Pelabuhan Tadan di Kabupaten Sampang. Sementara Dermaga Pulau Raas di Kepulauan Sumenep dianggarkan Rp 8,5 milyar, Pelabuhan Paciran, Kabupaten Lamongan Rp19 milyar, Pelabuhan Gili Mandangin, Kabupaten  Sampang Rp 1 milyar, Pelabuhan Sedayu Lawas dan perluasan Pelabuhan Samudera Brondong, Lamongan Rp 11 milyar, Pelabuhan Laut Boom, Banyuwangi Rp 10 milyar. Selain itu dianggarkan pula perluasan Pelabuhan Tanjung Tembaga tahap II di Kota Probolinggo sebesar Rp 20 milyar, Pelabuhan Giliraja, Sumenep Rp 1 milyar. Pemprov Jatim juga menganggarkan penyelenggaraan Angkutan Mudik Gratis Kepulauan Rp 1milyar dan sosialisasi keselamatan pelayaran Rp 800 juta. Disamping itu Pemprov Jatim sedang mengusulkan pula ke pemerintah pusat untuk membangun pelabuhan di kawasan pantai selatan seiring dengan besarnya potensi pertambangan dan komoditas agrobisnis di kawasan itu.Diantaranya, pelabuhan barang dan niaga di Teluk Nggelon, Plumbungan Kecamatan Kebonagung, Pacitan.  “Yang lebih penting lagi adalah pelabuhan bersekala besar untuk angkutan logistik di kawasan pantai selatan,” kata Gubernur Jatim, Soekarwo kepada wartawan.  Ia mengakui perkembangan kawasan pantai utara Jatim lebih pesat dibandingkan di kawasan pantai selatan. Namun, untuk mendorong mobilitas masyarakat di kawasan pantai selatan perlu dibangun pelabuhan berskala besar. Sejumlah investor dari Korea dan Jepang saat ini tengah menjajagi kemungkinan pembagunan Pelabuhan logisitik di Pacitan dan Trenggalek.
Keberadaan pelabuhan logistik, lanjut dia, akan berdampak besar terkait mobilitas komoditas barang dan jasa, termasuk hasil pertambangan serta pekebunan yang selama ini masih mengandalkan angkutan darat ke wilayah utara sehingga butuh biaya mahal.”Potensi wilayah Selatan Jatim sangat dominan untuk sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan bahan galian tambang,” katanya. Menurut dia, bila ada pelabuhan logistik, maka akan berdampak signifikan dan mendorong daya saing komoditas itu. Pemprov Jatim, kata dia, kini tengah mengusulkan kepada pemerintah pusat agar keberadaan pelabuhan skala besar untuk logistik di wilayah pantai selatan dapat dimasukkan dalam cetak biru pembangunan infrastruktur nasional. “Pemprov akan mengusulkan kepada pemerintah pusat khususnya Bappenas agar kebutuhan proyek pelabuhan logistik di selatan Jatim bisa masuk ‘blue print’ proyek infrastruktur nasional,” kata Gubernur. Soekarwo menambahkan bahwa selama ini pemerintah pusat telah cukup membantu pembangunan sejumlah pelabuhan perikanan di wilayah selatan, baik skala kecil, menengah maupun besar. “Mulai pelabuhan pendaratan ikan, pelabuhan perikanan pantai, dan pelabuhan perikanan nusantara telah terbangun di beberapa daerah di selatan, seperti Prigi (Trenggalek), Sendang Biru (Malang), dan Tamperan (Pacitan),” katanya.

Tanjung Tembaga

Sementara itu pengamat maritim, Rudy Wisaksono, ketika diminta pendapatnya mengatakan, di era otonomi, daerah diberi kewenangan membangun pelabuhan untuk mendongkrak  dan memajukan perekonomiannya. Nilai rupiah yang dapat diraup dari sektor angkutan laut memang  sangat besar, mengingat posisi Jatim sangat strategis untuk kebutuhan  ocean going maupun antar pulau serta potensi SDA yang dimiliki sangat melimpah. Akan tetapi lanjut Rudy, Pelabuhan Tanjung Tembaga II yang dibangun Kota Probolinggo lebih mempunyai peluang berkembang dan prospek yang bagus dibandingkan pelabuhan lainnya. Alasannnya, tambah Ketua INSA yang sekarang menjadi Direktur PT. SIER itu, Probolinggo merupakan wilayah strategis yang mudah dijangkau dan wilayah pelabuhan bagi daerah feeder seperti Malang, Kediri, Blitar, Bondowoso, Lumajang, Jember dan Pasuruan. “ Tanjung Tembaga saat ini juga dibutuhkan sebagai pelabuhan logistik untuk pembangunan pelabuhan di Pulau Madura dan kepulauan serta dibutuhkan untuk mensuplai kebutuhan pokok untuk pulau Madura”, ungkap Rudy Wisaksono.  Hal senada dikatakan pula oleh Direktur Regional Economic Maritime Institute, Oki lukito. Ia mengingatkan, pembangunan pelabuhan harus dilandasi dengan studi kelayakan ekonomi lingkungan dan Amdal yang akurat. “Jangan terulang pembangunan pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi dan Pelabuhan Sangkapura II, Bawean yang kemudian idle”, pungkasnya.                                                           Seperti diketahui, tahap pertama pembangunan Tanjung Tembaga II selesai dikerjakan dan sudah mulai dioperasikan. Kapasitas sementara dapat melayani kapal berbobot 2.500 DWT. Tahap I pembangunan pelabuhan dengan kedalaman 6 meter tersebut menelan total biaya Rp 85 milyar dari APBN dan APBD Jatim. Sedangkan jalan akses menuju pelabuhan didanai APBD Kota Probolinggo. Dengan selesainya Tanjung Tembaga I Jawa Timur sudah siap menjadi pintu gerbang laut setelah Tanjung Perak, Surabaya. Angkutan barang dari Surabaya tujuan Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, Lumajang , Jember dan  Malang  maupun sebaliknya sebenarnya dapat dialihkan lewat laut melalui Tanjung Tembaga. Kota-kota tersebut selama ini memberikan kontribusi ekonomi cukup penting bagi Jawa Timur.  Sementara itu Tanjung Tembaga Tahap II dengan kedalaman 10 meter akan diselesaikan tahun 2012.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: