Oleh: Oki lukito | 26 Mei 2011

CNG Untuk Nelayan Lekok Bermasalah

Menepati janji/reloadinsan.blogspot.com

Setelah lebih dari setahun dijanjikan, Saptu besok 28 Mei 2011 sebanyak 250 dari rencana  500 nelayan Lekok, Pasuruan akan mendapat tabung CNG dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Bahan Bakar Gas untuk perahu nelayan pengganti solar ini rencananya diberikan Menteri KKP, Fadel Mohammad secara simbolis di Pelabuhan Perikanan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Diharapkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) ini akan mengurangi biaya operasional melaut nelayan. Benarkah demikian? Jawabnya belum tentu. Memang benar tabungnya seharaga Rp 8,5 juta (buatan Singapura Rp 5 juta ) diberikan secara gratis, akan tetapi nelayan tetap harus membeli gas seharga Rp 3.250 per liter lebih murah dari solar. Akan tetapi hal ini diragukan sebab harga tersebut berlaku di stasiun pengisian CNG di Pandaan. Diperkirakan sampai di Lekok yang belum dilengkapi Stasiun Pengisian Gas (SPBG)  harganya minimal Rp Rp 3.900 – 4 ribu per liter, berarti pemerintah harus memberi subsidi biaya angkut agar nelayan Lekok dapat menikmati gas seharga Rp 3.250 per liter. “Jika harganya empat ribu rupiah, lebih baik pakai solar saja tanpa resiko,” kata Mulkan salah seorang Nelayan Lekok. Kemudian siapakah yang akan menanggung biaya subsidi tersebut, KKP, Pemprov Jatim, Kabupaten Pasuruan atau pengusaha tabung gas? Hal lain yang perlu dicermati adalah BBG masuk dalam katagori bahan berbahaya (CO2, amoniak, gas) yang harus mendapat ijin khusus dari Syahbandar atau ADPEL jika diangkut dalam kapal atau perahu di laut. Entah apakah hal ini sudah dibicarakan KKP dengan ADPEL? sebab hal ini akan menjadi masalah dikemudian hari. Bisa saja nelayan ditangkap ketika sedang melaut karena membawa tabung gas tanpa ijin. Atau jika terjadi insiden tabung meledak di tengah laut pihak otoritas pelabuhan harus bertanggung jawab. Terlepas dari persoalan di atas, keinginan dan upaya pemerintah meringankan beban masyarakat nelayan patut diapresiasi. Hanya saja selama ini bantuan dari pemerintah umumnya tidak tepat sasaran. Banyak contoh, antara lain pengadaan 1000 kapal 30 GT bermesin marine engine yang tidak terbiasa digunakan nelayan tradisional. Perahu Jalinkesra seharga Rp 2,5 juta belum dipotong pajak dan keuntungan pengusaha, diketahui kemudian bermasalah, tenggelam atau dijual mesinnya karena nelayan tidak berani nenggunakannnya. Adapula program Minapolitan yang kemudian tersandung  SDI sehingga pemerintah yang semula melarang impor ikan, terpaksa mengijinkan dan melegalkan impor ikan terlarang dengan alasan untuk memenuhi pasokan industri pengolahan ikan. Sekedar mengingatlan program CNG untuk nelayan Lekok pernah diprotes nelayan setempat ketika berlangsung acara sosialisasi di Pendopo Kabupaten Pasuruan beberapa waktu lalu.

Hemat BBM Non Subsidi

Ketika berkunjung setahun lalu di tempat yang sama, Menteri Kelautan dan Perikanan mengatakan bahwa CNG ini akan menghemat BBM sekitar 40 persen dengan catatan harga CNG per liter Rp 3.250, lain dengan hasil uji coba Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BPPI) Semarang yang mampu menghemat hingga 10 persen. Sementara uji coba  CNG 10 liter yang dilakukan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jatim dengan menggunakan perahu nelayan bermesin 15 PK selama 9 jam melaut pengehematan dapat mencapai 23 persen dibandingkan jika menggunakan solar. Penggunaan CNG akan lebih efisien jika pemerintah memberlakukan kebijakan BBM non subsidi atau harga solar sekitar Rp 7000 per liter. Selain itu nelayan juga harus berhati-hati menggunakannya.Tabung dan regulator yang digunakan harus mempunyai standar safety dan kualitas yang sudah sangat teruji kemanannya, salam bahari


Responses

  1. mas Oki, saya selalu heran terhadap program-program bantuan seperti tabung CNG ini, meskipun maksudnya baik, tetapi tetap tidak melepas ketergantungan nelayan dari kewajiban membeli dari produsen BBM. Padahal sumber energi kita yang tersedia di laut seperti marine hydrokinetic maupun biofuel dari algae sangat besar potensinya untuk dikembangkan sendiri. Saya dan kawan-kawan sedang merencanakan untuk memulai kegiatan kemandirian energi masyarakat pesisir dengan basis koperasi syariah, dan kami akan sangat senang bila mas Oki bersedia menyumbangkan pemikiran-pemikiran, apalagi terlibat langsung dalam kegiatan ini. Salam kenal dan hormat, AMD

    • Terimaksaih tanggapan dan kepeduliannya kepada saudara kita di pesisir. Apresiasi untuk anda dan teman-teman yang sedang bereksperimen mengembangkan biofuel atau sejenisnya. Lokasi workshop mohon diinfokan, salam bahari


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: