Oleh: Oki lukito | 14 November 2011

Pak De, Datanglah ke Desa Pesisir

Kemiskinan masih mendera nelayan di pesisir Pasuruan. Hasil laut di Pelabuhan Lekok setiap hari menurun, ikan semakin sulit ditangkap dan ukurannya kecil.

Sudah dua tahun nelayan di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, bertahan di tengah krisis ikan. Sementara kapal-kapal milik nelayan hanya berjejal di dermaga, sebagian diantaranya sudah miring dan ditinggalkan pemiliknya. Tidak ada kesibukan di Muncar selain mobilisasi puluhan truk berisi pasir, tanah dan batu mereklamasi pantai Muncar untuk perluasan pembangunan pelabuhan.
Ratusan ton ikan lemuru untuk sarden, layur, kakap atau tongkol yang biasa diangkut kapal-kapal nelayan setiap hari kini hampir tak ada lagi. Ikan kian sulit didapat nelayan Muncar. Sekarang ini dalam sehari total tangkapan kurang dari 5 ton. Tidak cukup memenuhi kebutuhan industri di Muncar. Begitulah faktanya, Muncar sebagai ikon perikanan tangkap nasional, nyaris menjadi tetenger di ranah bahari.
Gambaran serupa terjadi pula di sentra pendaratan ikan di 22 kabupaten dan kota pesisir di pantura dan sebagian selatan penghasil komoditas laut. Dampak dari krisis ikan ini bukan hanya ratusan ribu nelayan yang kini hidupnya megap-megap, ribuan buruh pabrik yang bekerja di 106 industri pengolahan ikan, cold storage, pabrik tepung dan minyak ikan serta 4000 pemindang pun terpaksa menganggur.
Sejatinya potensi ikan di perairan Jawa Timur terancam habis karena sistim penangkapan selama ini tidak terkendali. Di samping itu Maksimum Sustainable Yield (MSY) atau tangkapan maksimun berimbang lestari, tidak memperhatikan ekosistem perikanan.
Sejumlah parameter menunjukan status perikanan dan populasi ikan pelagis maupun demersal di perairan Jawa Timur sudah tidak sehat. Fakta yang terjadi, dengan kapal besar, nelayan memperluas jangkauan, maupun meningkatkan kapasitas tangkap serta menambah jumlah hari melaut, sementara hasilnya tidak terlalu berlimpah. Hal ini menunjukan bagaimana kondisi yang sebenarnya.
Simak pula hasil penelitian yang dilakukan Organisasi Pangan Dunia (FAO) pada 2010. Kondisi sumberdaya ikan nasional maupun dunia saat ini menyusut drastis. Pada tahun 2008 stok ikan laut dunia yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi hanya tinggal 15 persen. Sebanyak 53 persen stok ikan sudah dimanfaatkan secara maksimal dan tidak mungkin dieksploitasi lagi. Sementara sisanya sudah overeksploitasi atau stoknya menurun. Gambaran pemanfaatan suberdaya ikan di seluruh perairan Indonesia yang diterbitkan Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan tahun 2006 menunjukkan hal yang sama.
Tidak heran jika kerap terjadi bentrok fisik antara ABK kapal tradisional dan kapal asing berebut wilayah tangkapan di tengah laut. Demikian pula konflik antarnelayan tradisional menjurus kekerasan juga semakin sering di lokasi rumpon perairan dangkal dan laut dalam.

Budidaya laut
Berbagai upaya semestinya bisa dilakukan untuk mengembalikan reputasi lumbung ikan, diantaranya menekuni sektor budidaya laut (marine cultur) dan menggalakkan lagi pola tambak tradisional. Sebagai ilustrasi, dari garis pantai sepanjang 1.900 kilometer membentang potensi lahan budidaya laut yang lebih menjanjikan. Batas lima mil dari garis pantai ke arah laut diperkirakan seluas 700 ribu hektar dapat dimanfaatkan budidaya ikan kakap, kerapu, tiram, kerang darah, kepiting bakau, bandeng, teripang mutiara, abalone dan rumput laut. Hasil budidaya laut tahun 2010 yang memanfaatkan perairan seluas kurang dari 100 ha, menghasilkan 300 ribu ton berbagai komoditas. Sayangnya hasil tersebut didominasi rumput laut yang nilai tambahnya rendah karena dijual gelondongan.
Demikian pula lahan tambak udang dan bandeng di sejumlah lokasi kondisinya banyak terpuruk, produksinya anjlok akibat penyakit dan teracuni konsentrat pakan nonorganik. Dari potensi 400 ribu hektar, saat ini baru dimanfaatkan 60 ribu hektar, 21 ribu hektar diantaranya idle dampak negatip dari program tambak intensip yang gagal. Entah mengapa pola budidaya polikultur, memadukan dua atau tiga komoditas dalam satu tambak ditinggalkan. Padahal beberapa fakta menunjukkan cara ini mampu menekan biaya produksi hingga 60 persen serta menguntungkan petambak walaupun membutuhkan waktu panen lebih lama dibanding tambak intensip. Pola budidaya polikultur dan silvofishery yang cenderung tradisional, seharusnya menjadi acuan. Selain menyuburkan tanah tambak sekaligus mengkampanyekan konsep budidaya “go green”.
Jawa Timur pernah menjadi barometer perikanan nasional, memiliki 446 pulau kecil yang menanti sentuhan modal dan penanganan. Anggap saja pulau kecil adalah “kapal” ikan yang siap produksi dan menjadi sumber perekonomian bagi masyarakat pesisir. Sejumlah pulau kecil berpeluang dijadikan minapolitan berbasis kepulauan. Antara lain dimanfaatkan sentra pembenihan ikan unggulan, seperti jenis kerapu cantang (hibrida) yang harganya terus melambung dan membelinya pun harus inden. Hasil silangan kerapu macan dan kerapu kertang ini mampu mempercepat proses pembesaran tiga bulan dari kerapu biasa.
Kita malu, Malaysia sukses menjadi eksportir ikan kerapu, padahal benihnya diimpor dari Indonesia, antara lain dari Situbondo. Kita pun harus instrospeksi mengapa Vietnam, Taiwan berhasil mengembangkan dan menjadi negara eksportir udang windu terbesar dunia, padahal jenis udang tersebut asli negeri ini. Mengapa kita tidak belajar pula dari Korea Selatan yang memproduksi kertas dan biofuel dari rumput laut yang spesiesnya hanya ada di Indonesia. Sebagai warga Jawa Timur, kita angkat topi, provinsi ini sarat prestasi dan meraih angka pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional. Akan tetapi sudah sewajarnya pula kita merasa risih, saudara kita yang menetap di 632 desa pesisir hidupnya semakin susah sandang dan pangan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: