Oleh: Oki lukito | 5 April 2013

Negeri Bahari Suram Sinarmu

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia Indonesia seharusnya mampu mengatasi keterpurukan ekonomi bangsanya. Potensi ekonomi kelautan yang dimiliki tidak perlu diragukan lagi. Ada beberapa hal yang perlu disimak, pertama dalam catatan sejarah, bangsa ini pernah jaya di laut pasca Sriwijaya dan Majapahit. Di era tahun 1960 Angkatan Laut kita disegani dan mampu menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
 
Kekuatan kapal perang pada waktu itu berjumlah 234 kapal terdiri dari 12 kapal selam, 7 kapal perusak (destroyer), 7 Fregat, satu kapal penjelajah (cruiser),  dan beberapa jenis kapal perang lain. Saat ini TNI Angkatan Laut hanya memiliki 1 kapal selam yang sudah uzur dimakan usia, tertinggal dari Malaysia dan Singapura masing-masing sudah memiliki 4 kapal selam.
 
Kedua, sebagai negara kepulauan Indonesia diakui dunia semenjak dideklarasikan oleh Perdana Menteri Djuanda Kartasasmita. Peristiwa itu terjadi lebih dari setengah abad yang lalu, tepatnya 13 Desember 1957. Deklarasi Djuanda  diterima masyarakat international dan konsepsi Negara Kepulauan ditetapkan menjadi bagian hukum international, serta tercantum dalam United Nation Convention on The Law of The Sea (UNCLOSE) tahun 1982. Sangat membanggakan, UNCLOSE 1982 merupakan perjuangan terbaik dalam memperjuangkan konsepsi Negara kepulauan.
 
Ketiga, selama kurang lebih satu tahun terakhir ini perhatian kita tercurah pada penyusunan kurikulum pendidikan. Jika dicermati draft kurikulum pendidikan tahun 2013 serta dari sekian banyak pendapat dan saran dalam tanggapan uji publik, bangsa ini dan pemangku kepentingan pendidikan khususnya, telah melupakan jati diri dan kodratanya sebagai bangsa bahari. Padahal ini penting untuk membentuk karakter bangsa maritim.
 
Lalu dimana kepedulian bangsa ini yang negaranya memiliki luas wilayah laut 5,8 juta kilometer persegi atau 62,80 persen dari total wilayah Indonesia, memiliki garis pantai 95.150 kilometer terpanjang setelah Kanada, USA, Rusia Federasi, serta aset berupa 17. 480 pulau tersebar dari Pulau Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas hingga Rote itu?
 
Sayangnya competitive advantage  tersebut belum memberikan manfaat ekonomi bagi negara. Pasalnya, kontribusi PDB dari sektor maritim masih sekitar 20 persen, sangat jauh dari harapan, padahal  potensi ekonomi sektor kelautan yang potensial untuk dimanfaatkan seperti dari sektor perikanan, bioteknologi, pertambangan, energi, pariwisata bahari, industri maritim dan perhubungan laut, setiap tahun diasumsikan dapat menghasilkan sekitar Rp 5000 triliun. Industri maritim kita tertingal dari China, Vietnam, Korea Selatan, Kanada, Norwegia dan Maroko.
 
Potensi maritim Indonesia sudah lama terlantar. Bahkan, potensi maritim saat ini lebih banyak dimanfaatkan negara lain. Sebagai ilustrasi, Indonesia berada di persimpangan dua benua Australia-Asia serta dua samudera Pasifik-Indonesia (Hindia).
 
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini terjadi pergeseran ekonomi dunia dari Samudera Atlantik ke Pasifik sehingga posisi Indonesia sangat strategis, sebab 75 persen komoditas perdagangan dunia melewati perairan Indonesia. Kita juga belum mampu memanfaatkan koridor Alur laut kepulauan (ALKI) untuk kepentingan pertahanan, perekonomian dan sosial budaya. Kita menjadi penonton di negeri sendiri karena paradigma pembangunan masih berorientasi darat.
 
Pendidikan Bahari                                                                                                    
 
Untuk menanamkan visi kelautan dalam rangka membangun kembali semangat dan jati diri bangsa bahari, diperlukan upaya sejak dini dan berkelanjutan. Hal itu bisa dimulai pada pendidikan formal disetiap level yaitu di tingkat pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi.
 
Faktor penting yang menyebabkan kita terpuruk di laut karena mata pelajaran bahari tidak pernah diajarkan di sekolah. Sebaliknya generasi muda yang terlanjur mengenyam pendidikan paradigma darat, tidak mempunyai minat menekuni apalagi mengembangkan potensi lautnya. Sejatinya pendidikan bahari pada strata pendidikan formal sangat dibutuhkan untuk menanamkan dan menumbuhkan kembali semangat serta jiwa bahari bangsa.
 
Bentuk atau muatan pelajaran bahari bisa diintegrasikan dengan mata pelajaran secara langsung ataupun dikemas dalam mata pelajaran lain yang telah ada. Misalnya, anak didik dan masyarakat umum akan mendapat banyak manfaat dari pelajaran bahari dalam kemasan Geopolitik untuk membangkitkan semangat cinta tanah air .
 
Dari Cinta tanah air akan membangkitkan karakter nasional yang menjadi salah satu kekuatan nasional. Hal ini bisa diaplikasikan dalam mata pelajaran lain yang sudah ada seperti Ilmu Pengatahuan Alam, Olahraga, Sejarah, budaya, kesenian atau pelajaran ekstra kulikuler seperti Pramuka Saka bahari dan hampir di semua muatan mata pelajaran di sekolah dasar hingga menengah atas dan perguruan tinggi. Dengan ditetapkannya pelajaran bahari dalam kurikulum pendidikan nasional, diharapkan akan mengikis warisan budaya kolonial yang berusaha ditanamkan secara halus dan sistemik pada generasi muda.
 
Lebih dari setengah abad sejak deklarasi Djuanda, karakter bangsa Indonesia tidak lagi menggambarkan karakter bangsa bahari seperti yang ditunjukkan dalam masa kejayaan Sriwijaya, Majapahit atau Kerajaan Demak.
 
Sebagian besar masyarakat justru memandang laut sebagai tempat menakutkan, kawasan kumuh dan tidak layak dijadikan ranah mata pencaharian. Masyarakat lebih banyak mendengar mitos, misteri, dan cerita menakutkan dari laut ketimbang kisah kebesaran Sriwijaya, Kerajaan Agro-Maritim Majapahit dan kedigdayaan Patih Gajah Mada serta Ketokohan Panglima laut atau Jaladimantri Nala yang sukses memimpin armada Majapahit menyebrangi samudra dan menaklukan Madagaskar.
 
Demikian pula kekuatan maritim Kerajaan Demak hanya sepintas diketahui anak didik dan generasi muda. Padahal kerajaan ini mampu mengirim armada laut yang dipimpin Pati Unus yang bergelar Pangeran Sabrang Lor dengan mengerahkan 100 buah kapal dengan 10.000 prajurit untuk menyerbu Portugis di Malaka.
 
Potensi kelautan Indonesia sangat besar dan beragam, pemberdayaan maupun pengelolaannya mengandung permasalahan yang sangat kompleks. Permasalahan terberat yang dihadapi oleh bangsa ini dan harus mendapatkan prioritas adalah bagaimana membangkitkan semangat bahari  yang kini pudar dan suram sinarnya. Salah satu cara yang dianggap tepat adalah dengan membangun sumber daya manusia melalui jalur pendidikan. Seluruh potensi laut Indonesia yang berlimpah ini, hanya bisa ditransformasikan menjadi aset apabila mendapatkan sentuhan iptek dan ditangani oleh SDM unggul yang profesional. (Oki LukitoMajalah Dermaga, Edisi April 2013)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: