Oleh: Oki lukito | 7 Juni 2013

Solar Versus Budaya Bahari

Komunitas nelayan di desa pesisir, sentra perikanan tangkap serta di pulau-pulau kecil di ranah bahari selama dua bulan resah akibat tersendatnya  pasokan solar bersubsidi. Minimnya pasokan solar melumpuhkan aktivitas dan perekonomian keluarga nelayan yang umumnya miskin. Persoalan tersebut menambah runyam ekonomi masyarakat termarginalkan yang menetap di pinggir pantai itu. Jumlahnya menurut hasil Pendataan Program Pemberdayaan Sosial (PPLS  2008) mencapai 7,87 juta orang.

Kenaikkan harga solar menyebabkan pendapatan nelayan tentunya akan lebih buruk lagi. Selama ini pendapatan nelayan sudah anjlok akibat merosotnya sumber daya ikan (SDI) imbas dari rusaknya ekosistim laut. Tinggal menunggu waktu saja, cepat atau lambat budaya bahari akan tenggelam. Kapal nelayan yang unik dihiasi pernik-pernik khas melambangkan kearifan lokal hanya akan tinggal cerita. Sebaliknya konflik sosial antarnelayan berebut wilayah tangkapan akan semakin meningkat. 

Nelayan di pantura pulau Jawa umumnya selama hari melaut hanya mampu menangkap ikan kurang dari 10 kuintal per hari (oneday fishing) atau seharga Rp 5 juta dengan wilayah penangkapan di laut Jawa, Selat Makasar hingga Selat Bali . Sementara nelayan yang beroperasi di Samudera Indonesia, satu kapal pukat cincin dalam 1 trip atau 7 hari melaut maksimal hanya mampu menangkap 2 ton ikan pelagis seperti tuna, cakalang, tongkol, selar, layang, bawal dan kembung. Ikan senilai Rp 20 juta kotor yang harus dibagi dengan 23 ABK dan dipotong biaya pembelian solar dan bekal melaut.

Indikator merosotnya SDI sangat mudah dimonitor di hampir semua pelabuhan perikanan di wilayah perairan di Indonesia. Jumlah ikan yang didaratkan semakin menurun, ukuran ikan pun semakin mengecil. Nelayan tradisonal tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan keluarganya dari hasil laut.

Menurut data Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan tahun 2010,  saat ini dari 11 lokasi fishing ground di Indonesia, tinggal satu wilayah yang dinyatakan masih potensial, yakni di Laut China Selatan atau di perairan sekitar Maluku. Di wilayah perairan lainnya dinyatakan kelebihan tangkap dan fully exploited.

Di Jawa Timur terdapat lebih dari 53 ribu armada nelayan, 13 ribu di antaranya jenis perahu skala kecil tanpa motor yang hanya bisa melaut sejauh 12 mil dari garis pantai. Lebih dari 80 persen armada tradisional yang beroperasi di pantura (Laut Jawa, Selat Bali, dan Selat Madura) yang kondisinya sudah overfishing, sisanya di Samudera Indonesia (laut Selatan). Sedangkan jumlah nelayan sekitar 470 ribu orang.

Dari delapan kabupaten di selatan Jawa Timur yang diandalkan menjadi sentra perikanan tangkap dan mempunyai nilai ekonomi tinggi, hanya di Pelabuhan Tamperan, Pacitan dan Sendang Biru, Malang Selatan yang masih produktif. Di Pantai utara hampir di semua lokasi pendaratan ikan, selain Pelabuhan Brondong, Lamongan dan Mayangan, Probolinggo kondisinya mati suri seperti Pelabuhan Muncar- Banyuwangi, Puger- Jember dan Kabupaten Blitar.

 

Pelanggaran Meningkat

Sebagai renungan menjelang dinaikkannya harga solar, jika dicermati kehidupan nelayan dari waktu ke waktu boleh dikata tidak semakin membaik. Berbagai program yang dikucurkan sejujurnya tidak mampu memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat pesisir yang sangat tergantung dari hasil di laut itu.

Pemerintah menerbitkan Inpres No 15 Tahun 2011 tentang Perlindungan Nelayan yang bertujuan dapat memberikan jaminan kesejahteraan pada keluarga nelayan.

Pada bulan April dua tahun lalu pemerintah juga mengalokasikan dana untuk Program Peningkatan Kehidupan Nelayan (PKN), sebagai upaya mendongkrak penghasilan nelayan yang terus menurun disebabkan biaya operasional yang mahal, pengaruh iklim global dan terbatasnya sumber daya ikan.

Program PKN yang melibatkan 11 kementerian itu mengalokasikan anggaran sebesar Rp 5,4 triliun, direalisasikan dalam bentuk Jamkesmas, Raskin dan BLT. Program ini difokuskan langsung pada rumah tangga miskin nelayan baik individu maupun kelompok nelayan. Akan tetapi semua program itu tidak berdampak pada perubahan ekonomi nelayan jangka panjang.

Sebagai ilustrasi, nelayan di Pantai Puger, Jawa Timur bagian selatan tidak lagi bisa tersenyum karena terus dililit utang rentenir yang tidak akan selesai hingga tujuh turunan.

Awal tahun 90, nelayan Jukung di pantai Puger, Jember menggunakan pancing tonda masih dapat menangkap ikan tuna seberat satu kwintal sekitar 5 mil dari bibir pantai. Saat ini ikan tuna ukuran yang sama jumlahnya semakin sedikit dan berada di atas 65 mil laut serta hanya dapat dijangkau kapal berukuran 15 Gross Tonage keatas.

Lebih memprihatinkan lagi untuk mensiasati minimnya penghasilan, banyak nelayan terlibat illegal fishing, memburu ikan Hiu dengan umpan daging ikan lumba-lumba. Harga sirip Hiu yang mahal dan permintaan pasar yang terus meningkat, menggiurkan nelayan. Maraknya perburuan ikan Hiu ini mencemaskan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat yang akhirnya mebuat peraturan daerah yang melarang menangkapan Hiu. Perlu diketahui Indonesia adalah salah satu negara pengekspor terbesar sirip ikan Hiu, salah satu biota laut yang dilindungi versi Convension on International Trade in Endangered Species (CITES).           

Sudah saatnya pemerintah membatasi penangkapan ikan di semua wilayah perairan dan menindak tegas pelaku illegal fishing. Dalam kondisi seperti ini teknologi penangkapan sudah tidak diperlukan lagi dan Kementerian Kelautan, Perikanan (KKP) seharusnya merivisi  program PKN. Demikian pula hibah kapal bantuan Presiden berukuran besar karena sarat masalah sebaiknya dihentikan karena terbukti tidak efisien.

PKN sebaiknya fokus pada pemberdayaan nelayan dan keluarga nelayan di sektor usaha budidaya laut, budidaya ikan hias dan pengolahan hasil perikanan tambak dan ikan air tawar. Industrialialisasi perikanan selayaknya tidak lagi mencantumkan ikan laut sebagai komoditas ekspor unggulan.

Sebaliknya perikanan budidaya dijadikan lokomotif program industrialisasi, peluangnya terbuka lebar dan pasar ekspornya sementara ini baru didominasi komoditas udang vanamei. Sementara komoditas budidaya lainnya seperti ikan patin, ikan nila, udang windu masih tertinggal jauh dari negara seperti Vietnam, Thailand atau Taiwan. Perlu digaris bawahi mahalnya harga solar dan tingginya harga pakan ikan yang menghabiskan 65 persen biaya produksi  akan melemahkan daya saing.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: