Oleh: Oki lukito | 30 Agustus 2013

Jeritan Pesisir Untuk Cagub

Tidak lama lagi Jawa Timur akan menggelar perhelatan demokrasi yaitu pemilihan gubernur dan wakilnya pada 29 Agustus mendatang. Siapapun dari empat pasangan yang terpilih, provinsi agro maritim dengan dua pertiga wilayahnya terdiri atas laut seluas 951.250 kilometer persegi itu selayaknya dipimpin pasangan gubernur yang dituntut memiliki ocean leadership.

Posisi geografis Jawa Timur sangat strategis, dari 38 kabupaten dan kota yang ada, 22 daerah di antaranya memiliki wilayah pesisir, kaya sumber daya hayati laut. Selat Madura, Selat Bali, Laut Jawa dan Samudera Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Dengan panjang pantai 1.900 kilometer serta bertabur 446 pulau membawa berkah keunggulan geoekonomi.

Salah satu provinsi yang menjadi barometer perekonomian Indonesia ini mengantongi banyak aset laut.  Selain migas, perikanan, bioteknologi kelautan dan energi baru terbarukan terdapat bahan mineral di dasar laut seperti uranium, cobalt, nikel, andesit bahkan emas, lazimnya wilayah yang dilalui rangkaian gunung api dan patahan lapisan permukaan Bumi.

Demikian pula perdagangan melalui laut selama ini terjalin baik lokal, antarpulau, international, melibatkan pedagang dari berbagai daerah. Hal ini menciptakan kondisi multikultural yang menjadi situs pertemuan dan percampuran aneka unsur budaya.

Walaupun memiliki banyak bandar yang  belum berfungsi, provinsi paling timur di ranah jawa ini memiliki pelabuhan laut yang sangat signifikan, jumlahnya 46 pelabuhan, 24 diantaranya dikelola swasta. Belum termasuk pelabuhan Teluk Lamong, Surabaya dan Kalimireng, Gresik yang sedang dibangun.

Dengan keunggulan infrastruktur pelabuhan tersebut, siapapun pasangan gubernur yang nantinya menjadi pilihan rakyat tidak ada alasan untuk tidak mampu melesatkan pertumbuhan ekonomi dan menyejahterakan 38 juta rakyatnya.

Pelabuhan sebagai pintu gerbang ekonomi menjadi prioritas pemanfaatannya. Harus diakui karena tidak ada kemauan politik, Pelabuhan Tanjung Perak menjadi satu-satunya pelabuhan tumpuan aktivitas perekonomian di Jatim bahkan Indonesia Timur. Padahal banyak pelabuhan yang sudah dibangun tetapi idle capacity.

Misalnya Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi dan Pelabuhan Tanjung Tembaga, Probolinggo yang memenuhi syarat kedalaman untuk disandari kapal kargo generasi ketiga. Keduanya dibangun untuk dapat menekan disparitas pertumbuhan antarderah. 

Kedua pelabuhan ini seharusnya mampu menjadi alternatip pendukung Tanjung Perak yang melebihi kapasitas serta membebani Kota Surabaya dan infrastruktur jalan di sekitarnya. Jika keduanya beroperasi maksimal, diyakini akan membawa manfaat yang sangat besar dalam pemerataan ekonomi di hinterland Jawa Timur.

Pengabaian Potensi

Dalam Sidang Pertemuan Tingkat Menteri Developing Eight Countries Organization for Economic Cooperation mengenai Ketahanan Pangan (Food Security) yang berlangsung di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu, disepakati bahwa Kelautan dan Perikanan menjadi salah satu pilar upaya meningkatkan ketahanan pangan.

Wadah kerjasama delapan anggota negara berkembang, Indonesia, Banglades, Iran, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan dan Turki itu, menugaskan Indonesia untuk memimpin Marine and Fisheries issue. Persoalan ini menjadi isu strategis seiring berkembangnya industri maritim dan kebutuhan ikan di pasar dunia yang meningkat  tajam.

Tahun 2020 permintaan ikan untuk konsumsi manusia diasumsikan mencapai 119,6 juta ton per tahun (40 persen). Sisanya (60 persen) dari kebutuhan dunia atau 299 juta ton untuk bahan baku industri farmasi, pakan ternak dan sebagainya.

Apa relevansinya dengan Jawa Timur ? kebutuhan ikan dunia tersebut merupakan pasar yang bisa direngkuh provinsi yang sejatinya kaya dengan produksi hasil laut dan potensi pesisirnya itu. Pengembangan budidaya laut (keramba jaring apung) dan komoditas budidaya payau (tambak) seharusnya dijadikan lokomotif industrialisasi perikanan, tanpa mengesampingkan potensi ikan air tawar seperti gurame, patin, gabus, lele, nila.

Peluangnya terbuka lebar dan pasar ekspornya sementara ini didominasi komoditas udang vanamei yang berasal dari benua Amerika. Sementara komoditas budidaya lainnya seperti ikan patin, ikan nila, udang windu, kerapu, rumput laut masih tertinggal jauh dari Vietnam, Thailand, Malaysia, Filipina atau Taiwan.

Memanfaatkan perairan dangkal lima mil dari garis pantai ke arah laut terhampar lahan seluas 427 ribu hektar yang dapat dimanfaatkan budidaya laut (marine culture), untuk pengembangan berbagai komoditas laut. Ikan kakap, kerapu, tiram, teripang, mutiara, abalone, lobster dan rumput laut produksinya mencapai 3-4 juta ton per tahun dan bisa menampung ratusan ribu tenaga kerja industri pengolahan.

Untuk menggantikan produk hasil tangkapan ikan laut yang terpuruk, budidaya tambak polikultur dengan komoditas udang, bandeng dan rumput laut dalam satu kolam, dapat menjadi andalan produk hasil perikanan ramah lingkungan (organik) serta menopang swasembada ikan.

Perlu diketahui walaupun memiliki laut luas,  akan tetapi sebagian besar dari 492 ribu nelayan dan 80 ribu petani tambak di 632 desa pesisir meliputi 140 kecamatan masih didera kemiskinan. Ikan dan garam masih diimpor untuk memenuhi konsumsi dan industri lokal. Demikian pula tepung ikan untuk mencukupi kebutuhan industri pakan ternak di Jawa Timur didatangkan dari Peru, Chili dan Meksiko sebesar 120 ton per bulan.

Nakhoda Jawa Timur terpilih sudah saatnya mengubah visi dan misinya tidak lagi landbase oriented, akan tetapi mengedepankan keadilan ekonomi dan menjadikan sektor maritim sebagai leading sector agar daerah pesisir seperti Situbondo, Bangkalan, Sampang, Pamekasan tumbuh  dan makmur. Tidak lagi menyandang predikat daerah tertinggal versi Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal seperti pada tahun 2012.

Oki Lukito, dimuat Jawa Pos 10 Agustus 2013


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: