Oleh: Oki lukito | 25 Mei 2015

Ekspektasi Tol Laut

Dua peristiwa di bulan Mei menjadi catatan penting bagi dunia kemaritiman nasional yang menandai peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini. Pertama, beroperasinya KMP Mutiara Persada III sebagai kapal jalur tol laut perdana melayani Pelabuhan Panjang, Bengkulu-Tanjung Perak, Surabaya PP.

Kedua, diresmikanya Pelabuhan Terminal Peti Kemas Teluk Lamong oleh Presiden Joko Widodo dilanjut ground breaking pembangunan Makassar New Port. Peristiwa tersebut sekaligus menjawab keraguan publik soal konsep tol laut yang dicanangkan, sejak keduanya mencalonkan diri sebagai presiden dan wapres RI ke 7 tahun 2014 lalu.

Dioperasikannya  Kapal ro-ro (roll on roll off) untuk melayani trayek tetap itu rencananya akan beroperasi setiap tiga hari. Terobosan itu diyakini dapat mengurangi beban jalan raya lintas Sumatra-Jawa, biaya perawatan jalan dan mereduce biaya logistik hingga 30 persen.  Beroprasinya KMP Mutiara Persada III sekaligus melengkapi moda transportasi yang selama tiga dasawarsa bertumpu pada single moda yaitu transportasi darat.

Kita sangat berharap program kapal tol laut berikutnya itu akan menghubungkan lintas pelayaran di wilayah timur ke barat dan sebaliknya, khususnya untuk menekan biaya logistik barang. Termasuk melayani masyarakat di 2.342 pulau kecil berpenghuni yang 90 persen perekonomianya bergantung pada transportasi laut.

Kendala yang dihadapi pengusaha pelayaran selama ini antara lain, sulit mengembangkan usahanya karena kendala permodalan. Salah satunya sulit mengajukan kedit sebagai persyaratan pengajuan persyaratan bank karena pihak asuransi tidakbersedia menanggung.

Selain itu faktor yang menyebabkan tidak berkembangnya transportasi laut adalah tidak adanya sistem angkutan laut yang menguntungkan bagi pengguna dan penyelenggara. Sebagai referensi, ongkos penumpang kapal laut kita terendah di seluruh dunia. Tarif Indonesia Rp 415 per mil (1,6 km) di luar negeri Rp 1.900 per mil.

Factor lain sejujurnya karena tidak adanya perhatian khusus dari pemerintah terhadap pelayaran nasional, tidak adanya dukungan pelaku industri dan perdagangan, kurangnya fasilitas perbankan dan pengelolaan pelabuhan yang tidak maksimal. Indonesia memiliki kurang lebih 113 lintas penyeberangan, terdiri 41 lintasan komersial, 72 lintasan penyeberangan yang disubsidi pemerintah.

Adapun lintas utama pelayaran melayani Merak-Bakauheni, Ketapang-Gilimanuk, Ujung-Kamal, Padangbai-Lembar, Kayangan-Pototano, Bajo’e-Kolaka, Palembang-Muntok. Lintas pelayaran tersebut bertumpu pada 108 pelabuhan, 34 pelabuhan diantaranya dikelola BUMN, 71pelabuhan oleh dinas perhubungan, 3 pelabuhan oleh UPT Ditjen Hubdar dan 57 unit pelabuhan lainnya sedang dibangun.

Belajar dari Teluk Lamong

Rencana pemerintah membangun 24 pelabuhan baru sepantasnya mencontoh model pelabuhan Teluk Lamong yang dikembangkang Pelindo III. Selain pelabuhan bongkar muat juga dilengkapi kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (Manyar,Gresik) sebagai bagian dari pengembangan Sistem Logistik Nasional. Kawasan ini akan memproduksi komoditas yang akan diekspor maupun mengolah komoditas impor sebelum didistribusikan.

Sebagai referensi jumlah Pelabuhan di Indonesia saat ini tercatat 1.975 pelabuhan, 110 pelabuhan komersial dikelola 4 BUMN. Pemerintah juga memiliki 614 pelebuhan non komersial dikelola sendiri dan 800 terminal khusus milik swasta. Akan tetapi banyaknya pelabuhan ternyata belum menjamin biaya logistik yang murah.

Survei global oleh Forum Ekonomi Dunia menyebutkan, kualitas infrastruktur pelabuhan Indonesia kalah bersaing. Tahun 2010-2011 berada di peringkat 96,  tahun 2011-2012 peringkat 103 serta pada tahun 2012-2013 berada di peringkat 104 dari 144 negara.

Jawa Timur sebagai provinsi agro-maritim sudah memiliki 43 pelabuhan umum maupun milik swasta. Dengan aset itu secara logika Jawa Timur sangat diuntungkan dengan program tol laut dan mempunyai peluang memaksimalkan kinerja pelabuhannya, termasuk melayani masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil.

Di Kabupaten Sumenep misalnya, memiliki 121 pulau,48 diantaranya bepenghuni akan tetapi saat ini hanya dilayani oleh dua kapal perintis dengan rute Tanjung Perak-Masalembo-Kalianget-Sapudi-Kangean-Sapeken-Pagerungan-Sapeken-Tanjung Wangi (PP).

Masing-masing kapal membutuhkan waktu14 hari perjalanan sehingga masyarakat hanya dilayani setiap 7 hari oleh masing-masing kapal. Setidaknya untuk dapat melayani masyarakat di kepulauan idealnya 2-3 hari sekali dan tambahan 3 kapal perintis.  Hal yang lebih memprihatinkan masyarakat pulau-pulau kecil mengandalkan pelayaran rakyat yang pada umumnya tidak laik laut.

Salah satu pelabuhan yang potensial di JawaTimur selain Tanjung Perak adalah Pelabuhan Tanjung Tembaga lama milik Pelindo dan pelabuhan baru di kota Probolinggo yang dikelola oleh Pemkot Probolinggo. Ironinya, pengembangan pelabuhan baru ini macet karena tidak lagi dibiyai APBN.

Pelabuhan Tanjung tembaga baru tersebut didesain untuk mengurangi beban angkutan di Pantura pasca bencana lumpur Lapindo pada tahun 2006,  menyebabkan akes Jawa Timur wilayah timur menuju Tanjung Perak terganggu dan rawan putus.

Diharapkan Pelabuhan baru itu sebagai backup pelabuhan Tanjung Perak dapat melayani kawasan Industri di wilayah timur yang sedang tumbuh pesat, seperti di Pasuruan, Probolinggo, Lumajang hingga menjangkau Banyuwangi.

Di wilayah tersebut sudah berdiri sejumlah pabrik besar seperti semen, raw sugar, kertas, beras dan jagung, batubara, produk tekstil serta hasil olahan pasir besi. Semua komoditas untuk dan dari wilayah timur tidak lagi bongkar muat di Tanjung Perak atau Teluk Lamong.

Demikian pula keberadaan pelabuhan di Tuban, Lamongan, Gresik serta Banyuwangi dapat segera difungsikan maksimal karena akan mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dan memperkecil disparitas antarwilayah.

Terkait dengan Undang-Undang Pemerintahan No 23 tahun 2014 seharusnya pemerintah provinsi mempunyai kewenangan mengelola lautnya. Transportasi laut antarprovinsi dan antarpulau, termasuk diantaranya mengelola trayek, membentuk Badan Usaha Daerah Pelabuhan dan mengelola pelayaran serta pelabuhannya.

(OPINI Jawa Pos, Senin 25 Mei 2015)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: